Sastra dan Kita

Rabu, 15 Juni 2011

GUCENG

Cerpen: Aray Rayza Alisjahbana


Guceng melompat dari pagar besi pembatas pasar ikan yang lumayan tinggi itu. Ia berlari kencang sambil sesekali melengos ke belakang dan menjulurkan lidahnya ke aparat polisi yang mengejarnya.
“Dasar bocah tengik!” ujar salah satu aparat polisi sambil mengangkat pentungannya di atas kepala. Guceng tidak mengkiraukannya. Ia pun bergegas kembali ke markasnya.
“Dapat berapa?” tanya Udin sambil menghisap sebatang lisongnya.
“Lumayan buat beli rokok dan minum.”
“Coba liat…! Wah ini sih lumayan banyak. Bisa pesta kita malam ini.”
“Ya bisa sih, tapi lu jangan kasih tau bos yah kalo gue dapet segini…”
“Sip!”
Kedua bocah yang menginjak masa puber itu mengipas mukanya dengan lembaran-lembaran uang sambil bersiulan dengan wajah berseri-seri. Mereka pun adu jotos petanda itu adalah kemenangan mereka.
“Hei, apa itu di tangan kalian?” tiba tiba Bos Pasal datang dari arah pintu samping. Kedua bocah itu seketika terperangah dan langsung menyimpan uang itu di kantong belakang celananya.
“Bukan apa-apa kok Bos,” Guceng dan kawannya mengangkat kedua tangannya.
“Ah kalian!” Bos Pasal memutar badan kedua bocah itu. Uang-uang itu kelihatan dari balik kantong celana mereka berdua yang robek.
“Haha, dasar bocah! Kalian gak usah takut. Kalian tetap dapat sebagian kok. Tenang saja. Meskipun gue ini menyeramkan, tapi gue ini baik hati,” ujar Bos Pasal sambil menghitung uang yang ia ambil dari kantong kedua bocah itu.
“Ini buat lu Din! Dan ini buat lu Ceng!”
"Yah, kok cuma cepe doang sih Bos? Bos tiga kali lipat dari ini," protes Guceng dengan wajah agak ngotot.
"Anak kecil tau apa sih soal uang. Ini gue tambahin gopek. Haha…!” lantas Bos Pasal pun pergi.
"Sial, malam ini kita nggak jadi pesta!" lirih Udin.
"Iya, mentang-mentang kita ini anak asuhan dia,"
"Mau gimana lagi Ceng, kalo nggak ada dia siapa yang bakal jagain kita dan anak-anak yang lain?"
"Bener juga sih. Hm... andai saja jika kedua orang tuaku masih ada di dunia ini, pasti hidupku tidak seperti ini" Guceng duduk di kursi kayu goyang—yang biasa di pakai oleh orang-orang tua—ia menopang dagunya dengan kedua tangannya. Sambil bergoyang-goyang pikirannya entah kemana. Lambaian tangan Udin pun yang mengayun di wajahnya, tidak ia hiraukan.
***
"Bapaaak... Bapak kenapa sih nggak jadi orang kaya?" tanya Guceng dengan polosnya ditempat tidur.
"Guceeng, kerja seperti ini saja Bapak sudah bersyukur. Ya, walaupun pekerjaan bapak terkadang menantang maut di tengah laut, tapi semua ini ya Bapak lakukan untuk kamu dan ibu kamu. Setidaknya kamu bisa sekolah. Ya minimal sembilan tahun."
"Kenapa bapak nggak kayak di tipi-tipi itu, yang minta uang di bank dengan pistol..."
"Itu namanya merampok Guceng, tidak boleh,"
"Kenapa tidak boleh?"
"Itu dosa. Dilarang oleh agama dan hukum negara kita." Guceng pun terdiam.
Sesosok Guceng yang masih kecil—ya, kelas 4 SD—terkadang membuat bingung kedua orang tuanya. Pertanyaan-pertanyaan polosnya terkadang membuat kedua orangtuanya mengernyitkan dahi. Di sekolahnya pun ia bisa dibilang usil. Usil kepada gurunya dan teman-temannya. Pernah suatu kali ia bertanya begini di dalam kelas,
"Ibu, kenapa sih ibu jadi guru? Terus tangannya cuma satu lagi. Apa kalo jadi guru itu kayak gitu ya bu?"
Dalam hati, ibu guru itu tertawa geli, tetapi disisi lain ia agak terpukul juga dengan pertanyaan itu. Ibu guru bertangan satu yang mengajar PKn itu menjawab dengan rendah hati,
"Semua ini pemberian Tuhan Nak, patut disyukuri meskipun agak perih. Ya begini juga ibu masih ingin tetap hidup. Begitu pun dengan orang lain di luar sana. Entah itu dokter, insinyur, pengamen jalanan, maupun perampok, ya meskipun pekerjaan merampok itu haram. Tetapi mereka juga manusia, berhak hidup. Itulah yang namanya hak asasi manusia, seperti yang tercatat dalam Undang-Undang pasal 28A, yang berbunyi, Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup."
Guceng dan teman-temannya terdiam. Entah itu petanda mereka mengerti atau tidak dengan perkataan ibu guru mereka itu. Memang jika dipikirkan hal itu amatlah tidak dimasuk akal—bocah sekolah dasar diberi penjelasan yang lumayan berat seperti itu. Guceng dan teman-temannya masih bengong, padahal ibu guru sudah keluar dari kelas. Rupanya perkataan ibu guru itu mampu menghipnotis murid-muridnya.
"Tadi kamu mengerti?" tanya salah seorang murid ke teman sebangkunya.
"Nggak?"
"Kamu?" ke teman yang lainnya.
"Nggak juga."
"Terus kamu, tadi mengerti?"
"Nggak juga?"
"Guceng, kalo kamu?" Guceng tidak menjawab. "Hei, Guceeng!" sekali lagi.
"Yaaa... aku mengertiii...!!!" tiba-tiba ia bangkit dari tempat duduknya. Sekaligus bangkit dari khayalannya di kursi goyang orang tua itu.
"Ya, HAK ASASI MANUSIA! Itu benar! Itu benar! Jangan salahkan saya jika saya begini! Haha... HAK ASASI MANUSIA!"
Semenjak kedua orang tuanya pergi enam tahun yang lalu, hukum hak asasi manusia itu kini berlaku bagi Guceng. Kedua orangtuanya sudah dipanggil yang maha kuasa ketika mereka tengah berlayar di lautan. Mereka dihantam ombak. Dan jasad mereka tidak ditemukan. Dan sekarang jadi beginilah Guceng. Menjadi anak terlantar. Para tetangganya tidak ada yang mau mengasuh dia. Merepotkan katanya. Buat makan keluarga sendiri saja kurang. Yah, begitulah memang kehidupan dikampung Guceng yang serba hidup sendiri. Kampung yang berada di ujung tepi laut itu memanglah kebanyakan orang yang kurang berada. Sampai akhirnya Guceng minggat dari kediamannya, dan berlari menuju kota untuk mencari sesuap nasi. Mulai dari kecrak-kecrek dari tutup botol. Menyapu mobil-mobil angkot di terminal. Atau menyanyi dengan teman-temannya yang ketemu serampangan saja di perempatan lampu merah perkotaan. Sampai akhirnya ia pun bertemu dengan Bos Pasal. Bos anak jalanan di kota.
"Para bocah ingusan, hidup itu susah. Kalian jangan mau mengandalkan pemerintah untuk membantu kalian yang terlantar ini. Pemerintah hanya omong kosong. Katanya di dalam undang-undang, fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Woy para bocah ingusan, jangan percaya dengan kata-kata itu. Kalian juga punya hak hidup. Hiduplah dengan cara yang kalian bisa. Yang mau nyopet, silakan nyopet! Yang mau ngamen, silakan ngamen! Yang harus kita pikirkan sekarang adalah hidup, hidup, dan hidup!"
Guceng semakin terperdaya dengan pidato itu yang ia dengar pertama kali di sebuah markas yang cukup besar, namun tertutup. Dan kini tempat itulah yang menjadi tempat tinggalnya hingga sekarang ini.
"Bos Pasal. Pantas saja ia itu di panggil Bos Pasal," gumam Guceng.
Kini Guceng sudah lupa dengan segala perkataan ayahnya. Jangan merampok. Itu haram. Dan kata ibu gurunya juga. Jangan merampok. Haram. Tetapi keadaan berpaling. Yang ada dalam pikirannya sekarang adalah bertahan hidup.
Hukum hak asasi manusia itu rupanya kini sudah sangat melekat pada dirinya. Apalagi dengan doktrin dari Bos Pasal itu. Di kepala Guceng, yang terpikirkan adalah hak asasi manusia, hak asasi manusia, dan hak asasi manusia! Tidak ada yang lain.
"Din, memang benar juga sih apa yang dikatakan Bos Pasal itu yah," ungkap Guceng pagi itu.
"Perkataan yang mana?"
"Biasa. Pasal."
"Oh, itu... tapi emang kenyataannya begitu kan Ceng. Bukannya kita ini memang jarang atau bahkan sama sekali tidak di perhatikan sama pemerintah. Malah kadang diusir dengan semena-mena, bahkan dipukuli hingga tewas. Tahu sendirikan seminggu yang lalu dan yang dulu-dulu juga, teman kita banyak yang mati gara-gara diringkus oleh aparat. Mereka tidak diamankan tetapi malah disiksa. Negara macam apa seperti ini Ceng..."
"Ah omongan loe kayak kritikus saja,"
"Kan gue ngomong begini diajarin sama Bos Pasal,"
"Hidup ini memang edan yah Din,"
"Sudahlah, lakukan saja apa yang menjadi hak kita,"
"Hak apa?"
"Hak hiduplah Din!"
"Ah, loe ini plan-plan amat belakangan ini..."
"Tak tahulah."
"Ceng, udah agak siang nih. Udah rame. Ayo beraksi! Hak asasi manusia Boy!"
Hari itu, seperti biasa mereka beroperasi di pasar-pasar atau tempat swalayan yang ramai dikunjungi orang. Mereka menyelip-nyelip di kerumunan orang. Sekali ibu-ibu lengah. Jambret. Tukang dagang baso lengah. Sikat. Tukang dagang sendal kencing. Pancing. Semua yang lengah-lengah pasti tak ubahnya jadi sasaran. Sudah banyak benda-benda dan barang berharga yang dirampasnya dalam jangka waktu lima jam. Semua benda dan barang-barang itu mereka masukkan ke kantong celana atau ke ransel mereka.
"Hah, sepertinya kita sudah dapat cukup banyak Din," ujar Guceng.
Polisii... Polisii... Polisi...
Tiba-tiba saja ada teriakan dari arah samping kiri di perempatan pasar itu. Semua yang merasa anak jalanan dan orang jompo peminta-minta lari terbirit-birit. Hal ini memang sudah biasa terjadi pada mereka. Guceng dan Udin dengan gesitnya berlari ke tempat-tempat yang susah dijangkau oleh polisi. Sedangkan orang-orang jompo itu pastilah selalu tertangkap. Wajar saja, mereka tidak kuat lari. Apalagi polisi pemburu anak-anak jalanan itu dikerahkan lumayan banyak.
"Hei, jangan lari kalian!" salah satu aparat polisi menemukan mereka yang sedang duduk istirahat sambil minum di tempat sempit dan agak kumuh. Guceng dan Udin pun seketika kaget dan langsung bangun sambil melempar botol aqua yang mereka pegang ke arah aparat polisi itu.
Mereka terus berlari. Berlari dengan kencang. Sampai akhirnya Guceng dan Udin pun berhasil lagi melompati pagar besi pembatas pasar ikan yang biasa mereka lewati itu. Seperti biasa, tidak lupa mereka menjulurkan lidahnya ke aparat polisi itu.
"Dasar kalian bocah tengik!"


13 Juni 2011



Biodata Penulis:

Aray Rayza Alisjahbana. Lahir di Serang, 20 September 1990. Mahasiswa Diksatrasia Untirta. Karyanya berupa puisi, cerpen, dan resensi pernah dimuat di Fajar Banten (Sekarang Kabar Banten) dan Radar Banten. Bergiat di Kubah Budaya dan Belistra Untirta. Sekarang menetap di Pontang bersama orangtuanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar