Sastra dan Kita

Rabu, 30 Maret 2011

Kajian Puisi Belistra Part III (Edisi 30 Maret 2011)

Di Sudut Kota
Karya: Ifat

dalam redupnya subuh yang pekat
ada banyak cerita terangkai di sudut kota
yang sesak
pilunya angin yang menusuk
tak mampu tereja
lautan manusia tampak di keremangan waktu
seperti deburan ombak yang tak pernah lelah beradu

sempat terpikir dalam benakku
jika yang terlihat kini
tak tampak lagi di petang nanti
mungkin kota ini tak bernyawa lagi
menyisakan kebisuan yang membungkam

tak banyak kata yang terucap
inilah sudut kotaku
memberi nyawa pada yang tak bernyawa

2011


Tak Kuletak Pada Jarak
Karya: Triara Vytria

tak perlu menjarak
jika kau inginkan aku merindumu
rindu telah menjadi benda purba
yang acapkali melengkapi upacara
di kesunyian mataku
rindu juga telah serupa wangi dupa
yang mencercap pada mejameja persembahan
dalam hatiku
rinduku tak kuletak pada jarak

rinduku kuletak pada jantungku
yang detak.

2011


Bangkai Subuh
Karya: Aray Rayza Alisjahbana

sial!

hidungku kemasukan bangkai tikus,
bangkai anjing...

sial!

Pasar Rau, Maret 2011



Sajak Air Mata
Karya: Salvia Mahesa

mawar itu kembali tumbuh
dalam semaksemak hati
meski durinya menusuk
rasa perihnya tetap aku nikmati
lantas aku sudahi cerita panjang dan melelahkan
jika senyumku tak bisa lagi kau genggam
maka
aku titipkan air mata dalam bait
sajakmu

2011


Ada Semut dalam Sajakku
Karya: Isma

suasana gelap kupergi
mengikuti langkahku
hingga kutertumpu dalam ketinggian
kupandangi bahkan ratusan semut
interaksinya yang dahsyat
membuatku semakin terarah pada mereka
hingga kutulis secercah kalimat
untuk menjadikan sebuah memori

2011



Kata Terakhir Untukmu
Karya: Desi

di kedalaman matamu
aku melihat lumpurlumpur hitam
setiap tetes air matamu
aku melihat jurang kesedihan
aura wajahmu menampakkan kegalauan
kudengar bisikanbisikan sendu
dalam setiap alunan bunyi suaramu
kau hentakkan jarijemarimu
lalu kusentuh tanganmu
kurasakan pekat relung hatimu
kudekap erat derita di pundakmu
kusentuh aroma nafasmu
lalu kususun menjadi senja yang kelabu
kini bayangbayang semu menempel
di urat syarafmu
melesat masuk ke memori otakku
perlahan kau membisik lirih di telingaku
“maaf sayang, aku tak bisa membahagiakanmu”
saat itu juga kau terbujur kaku di pangkuanku
kini air mataku menjadi akhir dari hayatmu

2011



Tiga Sisi Dunia
Karya: Tanty Zulhijjah

langit yang masih gelap
udara yang menusuknusuk tulang rusukku
nyamuk yang menciumi tubuhku
di tengah orangorang yang sibuk jual beli
pasar yang memiliki tiga sisi dunia
yang berbeda

2011


Menyambut Hembusan Fajar
Karya: Lia

malam yang dingin
kutersesak oleh angin
menelusuri setiap ruas jalan
orang berlalu lalang tak henti
di bawah lampulampu temaram
mereka berteriakteriak
berharap seorang akan singgah

perjalalanku tak terarah
memasuki blok demi blok yang tersaji
ingin kumenjauh dari riuh kebisingan
terhenti di sebuah sudut blok pasar yang kumuh
suarasuara kendaraan memecah keheningan
terdiam kusejenak
menyambut fajar yang akan tiba
dan kunikmati setiap helai hembusannya
sungguh kumerindukannya

2011


Rindu
Karya: Mulyatiara Fauziyah

dinding itu seakan menemani
sembari membuka halaman demi halaman
malam ini
rasanya sepi dengan hembusan akan hujan
sebuah petuah dalam pesan terperanjat meningatkan
ah, bisa
pasti bisa
kuatlah, pasti kuat
ketika kelopak mata menampakkan kegelisahan
saat itulah datang hujan mengairi setiap celah yang kosong
aroma itu amat kurindukan
belaian lembut penuh pesan
aku rindu akan ibu

2011



Gila
Karya: Asep Yana

ribuan kata kau letupkan dari selongsong
moncongmu yang bergelombang,
seiring kegilaanmu yang hinggap.
hai gila, kau membanjiri dan menghampiriku
dengan se-bak air comberan
yang membuatku terbangun
tak seorang pun tahu ketika kuberi kau
se-drum air madu
yang membuatmu mati suri
namun, kau masih gila
dan aku sadar

2011



RTC
Karya: Asti. N

sorak-sorai di awan biru kelabu
mengagungkan nama yang terbuang
cicit kecil dari mesin berputar
menguasai segalanya

2011

Rau, Part 2
Karya: Yunita Ainur Rizkiah

gedung tiga lantai
dengan taman buah,
taman sayur dan kandang ayam
sebagai pekarangan
lantai satu cacing tanah bergeliat
lantai dua kandang angora yang bersolek
lantai atas, tempat kita berkeluh kesah

2011



Rau Menjelang Fajar
Karya: Linda Cahya Wibawa

angin malam membisikkan dingin
disela dedaunan dan bebatuan jalanan
lima bocah bau amis
mengalunkan sendu kehidupan

2011

Pasar Dini Hari
Karya: Vina

terhenyak dalam udara menusuk tulang
tergapai keramaian yang menyisir
sepanjang jalan hilir mudik bising
dan celoteh menggumam
berharap menuai indah hari ini

pesona buah, sayur, ikan
menggelayuti lengkapi celoteh
semangat pagi kali ini
keramaian ini kunikmati
dalam pasar dini hari

2011



Lakon Asing Yang Menyebalkan
Karya: Ela Fatihah

teriak-teriak menjingjing perseteruan
transaksi disela-sela penglihatanku
proses menawar atau ditawar
pun bercengkraman menjadi satu

hembusan kilat saat menafsirkan dari
orang-orang yang ketergantungan
dimalam ini
serupa aku tak ingin malam
pilihan yang terlewati

tak cukup dengan itu
sekarang aku menjadi lakon asing
yang menyebalkan ditengah waktu yang melulu

2011



Tujuan
Karya: Fatmawati Yuniar

melangkah
menerjang kesunyian
menembus malam
melawan angin, membawa keramaian

2011



Pramuniaga Sebelum Fajar
Karya: Rina Andriani

fajar belum sempat membuka lentera kalbu
halaman pasar tampak hiruk-pikuk
tak tahu waktukah?
tak punya agendakah?
tak merasakah dingin menyayat tulang-tulang rusuk?

tak adakah raja mentari mengarungi hari?
tak bisakah jika menunggu adzan mendangu
mengapa relung hati ?
tak dapatkah sejenak bermanja waktu ?

penentuan, berujung pada hembusan sehelai nafas
mereka berkerumun,
bolak-balik,
bak daun ranting berjatuhan tertumpuk

tuhan
kehidupan duniawi terselimuti teka-teki
fana
namun, kekal untuk di akhirat
2011


Kesepian dalam Keramaian
Karya: Windi

kau tak punya arti apa-apa
jika tak kenal
dibalik kesepian kau malah ramai
disaat orang-orang terlelap kau malah hidup
dan disaat langit gelap, kau malah terang
dengan bangunan kokoh yang tinggi
mulai bernafas
bangun melawan waktu
kau menyimpan cerita dini hari
beragam keunikan kau perlihatkan
kau abadi dipagi hari
tak pernah lekang oleh apapun

2011



Gamang
Karya: Lusiana Syarifah

hatiku berparas kelabu
logika buram tak berwarna
hidupku bagai lakon sandiwara
menjelma diantara tangkai yang patah

yakinku terhempas badai
terbuai ilusi yang tak pasti
tersungkur jauh kelembah berduri

asaku bagai jemu
titihan jemari liar dan membeku
inginku berlari menepis angan semu
namun tertahan dan akhirnya padam

2011


Malam Tak Biasa
Karya: Ela Pramuka

La, malam ini tak biasa
Di mana bintang tak berkata
Dan bulan hanya diam membatu
Sementara pohonpohon hanyalah
Tiangtiang beku

La, tak bisakah kaudengar
Sungai hatiku yang mengalir?
Mengantar kelopakkelopak kembang
Mengetuk bendungan yang kau pasang

La, bukakanlah aku pintu
Dan kita akan menyatu
Mengalir hingga ke pesisir

2011



Biar Aku
Karya: Andez Amsed

biar pagi ini kuhadapi sendiri
berdiri tanpa berteman peri
kuhela sisasisa nafas letih
hidup yang berkawankan perih
tak akan lagi kumengeluh
berlutut dan menuntut
jarak dan waktu bergelut
hari esok akan kusambut
dengan hati berselimut kabut

2011



Jiwa
Karya: TB. Guntur

jiwa adalah jiwa
di balik jiwa adalah jiwa
maka
tersenyumlah jiwajiwa
yang terlepas dari raga

2011



Siapa Kau?
Karya: Eny

wajah itu berkeringat
tersenyum merenung
memelas berkisah perjalalan hayatnya
yang ingin bertahan hari ini
hingg besok
entah lusa

akankah ia tahu tentang dirinya
pikirku
tentang perjalanannya kemarin
tentang apa yang ia makan kemarin
tentang dimana ia tidur kemarin
entahlah

satu tanyaku
siapa kau?

2011



Saatnya Kau Terbang
Karya: Agus Pontang

dikala sang penguasa siang
mengepakkan sayapnya
sayupsayup melihat di antara gumpalan hitam
gumpalan yang sedang menusuknusuk
semangat kehidupan
membekukan seluruh kehidupan
bangkitlah sang penguasa siang!
bangkitlah!
tunjukkan pada semua kau telah datang
karena sekarang saatnyalah
kau untuk terbang.

2011



Hampa
Karya: Ovi

Titiktitik gerimis berbaris
Menyusuri tanah
Awan hitam berarak
Dengan senyum yang muram
Menmani diriku yang hampa
Kugantungkan hati pada langit asa
Namun angin menghempaskan
Kutitipkan pinta pada bintang
Tapi malam menelan
Kukirimkan rindu lewat bunga
Namun layu tak bersia
Oh duka
Aku merana

2011


Suatu Subuh Di Pasar Rau
Karya: Chintya Dennisa

udara pagi telah menjadi sahabatku
genangan air kotor bak lotion bagiku
sayuran busuk
bau pesing
debu tebal
mereka teman setiaku kawan
mungkin ini pandangan yang menjijikkan untukmu
tapi tidak untukku kawan
aku terbangun sebelum mentari muncul diufuk timur
nanar hati ketika kudapati kau masih terkujur nyaman dalam hangat selimutmu
ini memilukkan?
atau menggelikan?
tidak untukku
hidupku disini
aku dan tempat ini
indah meski kau anggap buruk

2011



Naga Menangis
Karya: Ikal Bahri

naga menangis di pagi hari
membikin terlelap tidur
enggan tuk salat
naga menangis ketika persemayamannya
terusik oleh mereka yang bermaslahat
naga menangis
dua sejoli hiraukan adat
naga menagis di bumi tak taat.

2011


Jiwa yang Bersemangat
Karya: Mala

dipagi buta
disaat yang lain tertidur nyenyak
kau begitu giat bekerja
demi meyambung hidup
tanpa lelah dan tanpa mengeluh
jiwa-jiwa yang bersemagat
teruskan perjuanganmu
hingga fajar menjemputmu

2011


Karya: Ulie Semiotika
Bulan Itu yang Kau Tipu
tuhan,
jangan kau bunuh
bulan itu
aku takkan rela !
sungguhpun kau niatkan mega malam ini,
aku akan menghapusnya dari langit
tuhan,
jangan kau renggut bulan itu
aku tidak akan mencurinya darimu
sungguhpun aku merindukannya .

aku,
bulan,
langit,
dan angkasa mendung
bukan lagi yang harus bicara soal bunuh membunuh itu
tapi rindulah yang pasti menikam ulunya sendiri
seperti engkau yang telah ingkar,
membius bulan bersama deras hujan malam ini .

2011



Bimbang
Karya: Pegy

kuterbawa oleh angin
angin yang tak tahu arah
arah manakah yang harus kutelusuri
sana sini kerangka busuk!
bau menyengat pun tercium jelas
di p’ncra penciumku
jalan semakin sempit
dan tak terarah buntu

27 Maret 2011



Pertanyaan Hati
Karya: Gulmania Nagiri (ade)

Pernahkah kautahu?
Bintang akan selalu manja pada sinar sembulan
Berkedapkedip menyilaukan malam yang sunyi
Pernahkah kautahu?
Di lautan yang bebas
Karang tetap jadi yang terhebat
Selalu kokoh menghadapi deburan ombak
Silih berganti
Seperti itulah aku dan kamu
Pernahkah kautahu
Di sini aku tetap seperti ini

2009



Huruf
Karya: Agustia Afriani

alunan huruf mengambang dalam benakku
membentuk kata dengan duri sebagai alasnya
menyakiti benang merah yang melingkari
bagian lunak kepalaku
huruf itu menyakitiku
membentuk bualan panjang dalam sajak kalimat
sajaksajak yang berkembang dan beranak
menjadi lautan huruf yang membara

2011



Semangat
Karya: Siti Masitoh

nikmati semua rintangan
mari kita gapai anganangan
tuk meraih masa depan terang
bagai sang mentari bersinar

jangan kauhiraukan langit kelabu
itu hanya masalah waktu
yang tepat untuk ujian
agar segar
body dan pikiran
ayo taklukkan halangan, rintangan
tunjukkan pada semua
aku bisa

2011



Hanya Hujan
Karya: Ita Pradesta

saat ini hujan mengalir
membasahi tanah kering
deras melewati bebatuan keras
terus menggericik di dalam pelik hujan
hujan, hujan, dan terus saja hujan
awan gelap menutup cerahnya hati
hujan pun turun
terus menerus turun
lalu pipi jatuh lembabkan bumi
megkerut jiwaku
menciut nyaliku
rasanya aku ingin berteriak sekencangkencangnya
mencakar temboktembok keras
namun tak dapat dan tak bisa
tak sanggup, aku tak mampu
hanya hujan ini
menjadi sebuah saksi bisu

2011

Karya Anak Belistra (Part II)

Kajian Puisi Edisi 23 Maret 2011


Lusiana Syarifah
Lelahku Membara

hatiku membisu
jiwaku terkutuk tak bergeming
segujat ragaku lelah tak berdaya

hentakan nafas menarik ulur urat syaraf
rasa itu mengadu pada tangis
sesak, itu yang kurasa
tak ada dahan tuk bersandar
meronta dan terus meronta

Maret, 2011


Aray Rayza Alisjahbana
Sajak untuk Para Koruptor Negara

babi ngepet
di istana…

18 Maret 2011


Fatkuryati (Ifat)
Segurat Bayangan Tua

teduhnya sore ini hampir menampakkan
kemuning senjanya
mengaburkan lamunan yang sesekali menciptakan
kebisuan
ada segurat tua di benakku
mengintaiku seolah ingin hancurkan puing-puing
lamunan itu
sebuah bayangan klise tersenyum dengan
kerut pipinya

oh, tuhan
senyum itu adalah senyum yang bisa kulihat
setiap saat
senyum yang selalu bisa kumiliki
dan senyum dari seorang yang selalu mampu
buat hati bergetar

ayah,
aku tahu
kau datang untuk menjengukku
memastikan keadaanku
meskipun hadirmu hanya dalam bentuk klise
tapi aku merasa kau nyata.
2011


Vina Fitria O.
Sedang Imaji

gadis terduduk diujung jendela
menatap sesuatu yang kasat mata
menatap binar imaji
membuncah tak kenal nyata
sang maya menyertainya selalu
tak ada keindahan selain khayal semu
yang tak akan pernah kenal jemu
seperti nyata yang bermasalah
mayanya tak hinggap di sengaja
kalaulah itu bintang
akan simpan sinarnya silau

2011


Salvia Maesa (Mae)
Maaf, Tak Sempat Kueja

maaf, tak sempat kueja
secuil senyum yang kaulempar
dari sudut senja
hingga membentur langit-langit kegelisahan

maaf, tak sempat kueja
sepasang bola hitam yang membunuhi kata
kemudian bisu menghampiri

maaf, tak sempat kueja
lipatan jemarimu yang ganjil

2011



Agustia Afriani
Hentakan Jari

kuhentakkan jari di atasmu
dan kusaring kegelapan dalam wujudku
mengalun dan mengalir bagai air
dalam udara yang membeku

kuhentakkan jari di atasmu
menyulut api dalam sukmaku
membakar tulang dan ragaku
menjadi abu tak berdebu

2011



Meilana Suro (Mela)
Nyanyian Asap Rokok

aku akan menjadi penyanyi
dalam asap rokokku
masuk ke mulut
ditampung ke paruparu
kemudian keluar bersetubuh
dalam senyawa elegi
dan aku akan menjadi tembakau
dan nikotin
agar racun dan baraku ternikmati
oleh bongkahan senyawa elegi
dan aku menjadi buih yang meracuni
masalah duniawi.

2011


Nurlelah (Ela)
Mengejar Senja

senja yang beraroma ceri
kembali pada peraduan
meninggalkan ilalang
mengucap salam perpisahan

kumasih berlari
di ujung jalan yang sepi
mengejar senja yang hampir kembali
sementara peluh terus menyelimuti
dan malam mulai menggerai tirai
hingga senja tak pernah dapat kugapai

2011



Anom Fajar Puji Asmoro
Sekali

daun sudah jatuh
musim telah melompat
lagu sudah selesai dimainkan
namun,
isaac tak bisa kembalikan
apel ke batangnya.

2011



Mulyatiara Fauziyah
Tak Tergapai

ukiran itu melepuh
tercerai berang bagai arang
angan ‘kan tergapai saat masa telah
berlalu, berurai tetesan embun di pagi hari
gapaian itu digenggamnya dengan gagah,
terarah ketika kicauan nyata setitik menghampiri
terengah seketika
namun sadarkah?
hembusan itu lenyap dan berdebu
bagai daun kerin yang jatuh
nanarkan rongkah dalam dada
binasakan peluhmu akan cita yang bermuara mesra
salam pada sang penjuru
untuk peluh yang terhina

2011



Triara Vytria
MenujuMU

menujuMu,
aku menyerah di denyut waktu
menggembala pilu dengan candu sajak
pada malammalamku

dan ketika pagi di taman relung
kutemu getahgetah rindu yang masih basah
di ujung sujudsujud dedaun yang berjatuhan
dan rebah ke tanah
sementara reranting membatin
mulai jenuh lalu turut mengering
bersama jejak angin sunyi yang beriring
begitulah aku menujuMu
di ujung sujudsujudku

2011



Tanti Zulhijjah
Doa

guratan tinta yang ditulis tuhan
dalam kertas putih bersih
menggambarkan tentang perjalanan hidup
mungkin akan menjadi suka atau duka
dalam lantunan doa yang disampaikan
ibu kepada anaknya

2011



Ikal Bahri
Ironi Hidup

sungguh pun hidup bagiku
ialah bagai tumpukan lap yang bersih
kemudian mendapat giliran mengelap kotoran
dan dibersihkan lagi
begitu seterusnya sampai usang
hingga sudah tak terpakai lagi
dan dibuang sang majikan

dan ketika bersamasama
bersama sang kholik
aku capai ketentraman hidup
bersama para penyair
aku capai kebermaknaan hidup
bersama kawankawan aku capai
suka dan dukanya
hidup

2011



Desi
Cintaku telah Datang

di sudut malam
kumenepis kerinduan
merajut cinta dan kasih sayang
kulihat dedaunan yang berdendang
menghiasi angin di pesisir pantai
membawa langkah kakiku
dalam kebahagiaan

cintaku telah datang
dia bersemi di dermaga kasih sayang
lihatlah aku bintang
dengarkan curhatku rembulan
kubukanlah gadis malang
yang haus akan kasih sayang

cintaku telah bersemayam di samudera
keindahan takkan terhantam
oleh deburandeburan ombak kesedihan
cintaku takkan lekang oleh waktu
yang berjalan
ini cintaku, ini sayangku, ini rinduku
ukirlah wahai lautan
jagalah kisah cintaku
hingga ajal datang menghantam

2011



Andez Amsed
Bicara Pada Tuhan

aku bicara pada tuhan
lewat doa
berbincang lewat pemahaman
mendengar jawaban lewat
deru angin yang kaujadikan angan
kau tanamkan rasa dan asa pada jiwa
tanpaku minta

doaku tak tercatat
katakata terucap
dari kehidupanku yang cacat

2011

KARYA ANAK-ANAK DIKLAT BELISTRA 2011 di KELAPA TUJUH

Karya Anak Belistra Untirta
Kajian Puisi Edisi 16 Maret 2011


Aray Rayza Alisjahbana
Memoar Kelapa Tujuh 2009
: untuk (E)

ketika lagi langkahku menyetubuhi urat leher lautan ini
kembali aku terbentur bayangmu di atas garis laut itu
kau tatap tajam sekujur tubuhku yang sedang bergumam
dengan desir ombak, butiran pasir, dan semilir angin yang bersileweran mesra
di sekelilingku
dan entah mengapa, tiba-tiba ombak, pasir, dan angin itu
seketika menggiring wajahku pada wajahmu
terus, dan terus menggiring ngilu
lalu engkau menarik daun telingaku dengan lemah lembut
dan mulutmu pun berceloteh lama tentang masa lalu
tentang kisah yang pernah berlabuh di antara aku dan senjamu waktu itu
tapi bagiku semua itu sudah fana
karena dengan berat hati
aku sudah menenggelamkan wajahmu di dasar laut itu

Kelapa Tujuh, Merak, 27 Februari 2011



Ismah
Ayah Aku Rindu

aku sangat ingin kau ada di sini di sampingku
ayah kau meninggalkanmu begitu cepat
kau pun meninggalkanku tanpa memberi
aku ilmu menjalani hidup

ayah kini aku telah tumbuh dewasa
aku pun mulai mengerti kehidupan
aku butuh kau ayah
aku ingin kau di sampingku
memberiku arahan hidup

karena sekarang aku sedang tertatih
menjalani hidup

2011


Vina Fitria O
Malam Begini

di sini aku
masih dalam suasana malam biasa
malam yang sama
malam yang merenggut keramaianku
malam yang merangkulku dengan kesepian

semalam itu
semalam yang remang
rintik hujan yang menyeringai
menidurkanku dengan buaiannya
memaksaku untuk tak berpihak lagi
pada kesadaran

malam begini
aku selalu menunggu pagi
pagi yang menyatu semesta-nya
karena pagi memberiku kekuatan
untuk menjalani

2011


Karya Rahmat

Terpaksa Menjadi Tikus

ada pegawai negeri sipil
berlaku jujur dan adil
mengais rizki di sarang buaya
bergulat dengan bahaya
idealisme dan tata negara di sandangnya

anak sulungnya berfoya-foya
bersahabat dengan narkoba
banyak uang untuk memenuhinya

isteri mudanya
suka berbelanja
pasar singapura menjadi surganya
pikirnya suami pohon uangnya

ada pegawai negeri sipil
besar pengeluaran isteri dan anaknya
gaji dari negara tak mencukupi

ada pegawai negeri sipil
menjadi tikus dan kongkalikong
dengan buaya
idealisme di tanggalkannya
demi bahagia isteri dan anaknya


Jangan Bunuh Diri

menatap indahnya awan yang mendung perlahan
redupnya tak membuat diriku semakin duka

aku bersama buih-buih pantaiku
terhempas ombak dan terluka
bila menguap ke udara
maka air akan tetap ada

bila dia tinggalkan cintamu
hatiku tetap di rongga dadamu
jika rindu selalu menghempasku
maka cinta masih tetap tersisa


mekarkan lagi senyummu
lukiskan lagi ceriamu
jangan bunuh diri
jangan bunuh diri dulu

gapai lagi anganmu
wujudkan lagi mimpimu
jangan bunuh diri
jangan bunuh diri dulu
karena cinta dari tuhan
selalu ada untukmu

2011



Karya Tanti Zulhijah
Bimbang

jalan setapak kulalui
ribuan pohon telah kulewati
tanpa aku sadari
kakiku terus melangkah
tanpa merasa lelah dan letih
entah kemana aku akan berhenti
dengan tujuan yang tak pasti
lalu aku memilih untuk diam
merenung dan mencoba mengevaluasi diri

2011


karya Mulya Tiara Faujiyah

Lebih Baik (Lagi)

ragakan berurai dalam binakan akan kilau
peluhku kan kuragik
kata pun bisu bagai angina
yang tak dihiraukan

bisakah aku tegak?
akankan aku berdiri tegak
gundah tak henti bercucuran

bidai ini harus sampai
karena aku ingin tegak

sampaikan, aku tegak!
sampaikan, aku berdiri!
sampaikan, aku bisa!
bisa akan kegagalan yang buat
aku penat akan kehidupan

tirai baru kuurai
kurangkai dengan kesungguhan
aku ingin, aku lebih dari yang pernah gagal

2011


Karya Erina Melita D

Penantian Bulan Mei

aku terdiam
terdiam saat harus menerima kenyataan ini
kenyataan pahit
sangat pahit

dalam hati aku bertanya
kenapa?
kenapa harus aku?
kenapa harus aku yang merasakan ini?

aku tidak kuat menunggumu
aku tidak yakin akan rasa ini
aku takut, sangat takut
aku takut kehilanganmu

tapi demi kamu
aku akan mencobanya
menyembunyikannya
menghilangkannya
dan membunuh perasaan itu

perasaan takut yang selalu menggerogoti pikiranku
dan aku akan tetap menunggumu
menunggu
hari ini, esok dan seterusnya
hingga akhir mei saat kita bertemu kembali

2011


Agustiya
Berlari

aku berdiri di hamparan duri
berdiri di atas luka dan merintih
seperti pengemis yang mengebu-ngebu
asaku semakin surut
di kala senja menyambut lukaku
semakin jatuh kutersungkur
seperti pengemis yang merintih
aku berlari
berlari
berlari dan berlari
lelah
lelah
hanya lelah kurasa
dan aku berlari

2011


Karya Lusiana Syarifah
Sajak Untuk Ibu

kala aku tak sanggup tuk menopang diri
kau sigap berada di sampingku
dengan kokohnya kau berdiri
hingga aku terlelap dalam kasih sayangmu

dikala badai menghampiri
kau buktikan teguhmu dengan senyuman
dukamu tak pernah terbias di wajahmu
kau jadikan pilu senjata kebahagiaan

ibu
kau ajarkan aku tuk nersyukur
kau tuntun aku menapaki kehidupan
kau bombing aku agar senantiasa sabar
kau tunjukkan aku jalan menuju impian

ibu
cintamu tak henti hingga aku mati
doamu selalu menyinari langkah kaki
wajahmu kuatkan aku tuk gapai keinginanmu
senyummu bawaku dalam kenyamanan

inginku bahagiakanmu
menangis karena rasa banggamu terhadapku
tak terbalaskan segala jasamu
hanya secarik sajak mewakili perasaanku
atas segala jasamu, ibu

2011


Karya Senja Pradestia P
Sssttt…

sssttt…
hai kau yang kini tetap telanjangi mataku
pelankan suaramu sejenak
tak terdengarkah bisik pilu yang berdenyit
lewati kamar itu

sssttt…
pelankan lagi suaramu
tak terdengarlah jerit sakit yang terkangkang
dari lubang di bawah sana?

suara itu?
ya! suara itu seperti jemari yang tak henti
hentak gurat-gurat tanah
seperti helai daun yang tak terjamah hujan

sepikah itu?
semukah itu?

entahlah
hanya warna angin yang mampu
siratkan rasa itu

2011


Karya Desi Annisa Kasumasari
Arti Hidup

sebutir pasir terbang bersama angina
menyusun ombak dalam lautan
menyaksikan dedaunan yang berdendang
melangkahkan kaki di pesisir pantai

ketika angin membelai rambutku
ketika suasana menyapa hati ini
logikaku berjalan selaras
termenung dan tersadar

ya…
hidup ini memang indah
tak perlu disesali
tak perlu ditangisi
jadikan makna hidup ini lebih berarti

2011


Karya Ela
Ratu Istana Pasir

aku adalah ratu dalam istana pasir putih
duduk di atas singgasana bertahta
memgang tanduk kekuasaan
pesta pantai akan dimulai
debur ombak membentur tembok pembatas pantai
bagaikan bedug yang bertalu
angin bersiul seperti seruling mangalun melodi
dan pucuk-pucuk pohon bergoyang
umpama penari pengantar kedamaian
tapi kedamaian itu sirna
ketika tsunami meruntuhkan istanaku
dan di sana ratu kidul tertaa terbahak
aku, ratu dalam istana pasir putih
tak akan gentar
malah akan aku bangun istana
dari beton di bukit sana
dan tsunami tak akan sampai kesana

2011


Asep Budianto
Mencari Jawaban

air laut ingin kutakar
butir pasir ingin kuhitung

hingga aku temukan sebuah jawaban

Kelapa Tujuh, 2011


Andez Amsed
Sajak Bimbang

berulang kucoret tiap-tiap tulisanku
dalam lembar-lembar catatanku
kusobek, lalu kubuang
mengggunung ditiap-tiap sudut kamar
menjadi abu terbakar damar
berpikir tak guna kulakukan itu
penaku kembali mengulang tulisan lalu
lagi-lagi kusobek lalu kubakar
selalu terulang, tanpa kuakui benar

2011

Senin, 28 Maret 2011

Cicak Bodoh...

Cerpen: Aray Rayza Alisjahbana

Orang-orang memanggilku cicak. Mungkin kamu tahu wujudku seperti apa, menjijikkan bukan? Ya, sejenisku mungkin serupa monster kecil yang selalu berkeliaran di tembok-tembok, tiang listrik, dan sebagainya setiap malam. Mencari beberapa santap nikmatnya nyamuk-nyamuk yang berseliweran. Apalagi nyamuk-nyamuk itu usai menghisap darah manusia, wah rasanya nikmat sekali, tiada tara.
Sudah pernah lihat tubuhku bukan, tubuhku yang jelek ini? Aku juga terkadang jijik dengan diriku sendiri. Tubuh telanjang dengan ekor yang mengoget-oget seperti mau kawin. Mata yang terlihat menonjol keluar seperti sedang marah, terkadang membikin lelah menatap apa-apa yang ada di sekitarku. Tapi, ya mata inilah yang membuatku tetap bertahan hidup. Lebih-lebih lidah kilatku ini, yang bisa setiap saat menyambar mangsa yang lewat di hadapanku.
Umurku kini sudah menginjak dewasa. Sudah harus mencari pasangan hidup —kawin. Tentu saja dengan cicak juga, yang nanti akan melahirkan cicak-cicak kembali sebagai penerus hidupku nanti. Tapi sampai saat ini aku belum juga mendapatkan itu. Terkadang memang para cicak perempuan selalu direbut oleh cicak lelaki yang macho-macho. Tidak seperti aku ini, pemalu, lemah syahwat. Tidak berani mendekati cicak perempuan yang sedang sendiri, atau sudah siap untuk di kawini. Keinginanku memang tidak sesuai dengan hati. Hati berkata harus, tapi langkah dan kelaminku berkata tidak. Haha... memang aneh.
Setiap malam aku selalu iri ketika melihat beberapa ekor cicak —lelaki dan perempuan— sedang berkejaran mesra di sekitarku. Mungkin saat ini sedang musim kawin. Ya mereka dengan riangnya saling tindih-menindih dan aku hanya menjadi saksi bisu atas perlakuan mereka. Pun manusia-manusia yang ada di bawah, yang sedang menonton teve, makan di warung, tidur di kamar, main petak umpet, dan sebagainya, tak pernah peduli dengan kejadian itu. Mungkin mereka juga sudah merasakan nikmatnya kawin dengan pasangan-pasangan mereka. Sedang, aku hanya sendiri.
Pernah dulu, suatu ketika ada seekor cicak perempuan yang menarik simpatiku untuk mengawininya. Dia malu-malu mendekatiku, secara perlahan. Ekornya memberikan sinyal. Matanya menatap tajam tubuhku. Dari jarak sekira 30 cm, tiba-tiba dia menyerangku. Aku gelagapan. Ditindihnya. Aku mengamuk. Tapi tiba-tiba. Jprettt....!!! seorang anak kecil penghuni rumah menjepret cicak perempuan itu. Cicak perempuan itu seketika jatuh ke lantai. Lantas di kurung dalam plastik. Sedang ekornya masih menempel di tembok, di sampingku, sambil mengoget-oget.
“Haha... dapat satu. Lumayan dapat pahala. Malam ini kan malam jumat. He...” ujar bocah seumuran delapan tahunan-an itu, sambil menggoyang-goyangkan plastiknya.
Untung sekali aku tidak terserang jepretan karet bocah itu. Wah, bisa-bisa aku pun jadi tumbal mereka. Ya, konon katanya, apabila manusia mencari atau membunuh cicak di malam jumat, nanti akan mendapatkan pahala atau ganjaran dari tuhan. Entah, aku tidak pernah tahu. Aku mendengar itu ya, dari seletingan-selentingan percakapan manusia saja. Ah, dasar manusia, selalu mencari sensasi. Aku lupa kalau malam itu adalah malam jumat. Untung cicak perempuan ganjen itu yang kena tumbal. Haha... rasain.
***


Malam ini penghuni rumahku sedang banyak tamu. Aku sangat senang sekali, karena pasti nyamuk-nyamuk akan menggigitinya. Menyedoti darahnya. Wah, ada beberapa yang gemuk manusia itu, empat orang. Cukuplah. Senang sekali rasanya aku. Ayo nyamuk-nyamuk seranglah mereka. Nanti kalau sudah cukup darah di tubuh kalian, pasti kalian akan lemah. Dan aku, akan siap menyerangmu. Licik memang aku ini.
Tapi, sepertinya manusia-manusia itu tidak terlihat ingin tidur. Mereka masih saja main catur. Ngopi. Pastilah mata mereka susah tidur karena zat adiktif atau caffein itu menyebar di tubuhnya. Sial!! Mereka lelaki semua sih, yang perempuan —isteri-isteri lelaki itu— entah pada kemana. Ah, malam ini aku benar-benar lapar. Ingin rasanya cepat-cepat menyantap nyamuk-nyamuk yang berkeliaran.
Malam ini aku kurang begitu nyaman dengan sekelilingku. Dengan suara anak-anak mereka yang masih bermain, berteriak, berebut mainan ini itu sambil jeprat-jepret sana-sini dengan karet. Aku semakin tambah pusing. Sudah sendiri, tidak ada yang menemani. Mencari pasangan kawin pun tidak pernah ketemu. Ketemu tapi malu. Haha...
Hm... Kasihan juga yah mangsa-mangsa di sekitarku itu —nyamuk-nyamuk itu— sedang menunggu manusia-manusia atau penghuni rumah ini terlelap. Nyamuk-nyamuk itu mungkin jika di ibaratkan dengan manusia, mereka sedang main catur dulu, main poker dulu. Menunggu manusia-manusia itu terlelap.
“Skak!” ujar lelaki gendut yang memegang ster putih itu di ruang tamu. Sambil menyeruput kopinya.
“Sial!! Kalah gue,” ujar lelaki gendut yang satunya.
“Masih mau lanjut?”
“Ok. Lanjutkan!”
Ya tuhan, kapan mereka mau tidur. Aku sudah tidak tahan menahan lapar. Ah, pusing aku lama-lama menunggu. Aku juga melihat teman-teman di sekitarku sedang malamun, menunggu santapan tiba. Mungkin mereka juga sedang kelaparan sepertiku. Entah kenapa, aku dan teman-temanku disini kurang begitu suka dengan mangsa selain nyamuk. Nyamuk memang santapan idola kami. Favorit kami.
Ah memang sial, betapa enaknya mereka ditemani dengan pasangan-pasangannya. Tidak kalah juga dengan cicak-cicak yang muda. Sedangkan aku di sini, benar-benar menjenuhkan. Wahai cicak perempuan, datanglah padaku!
Jpret!!! Tiba-tiba saja karet bocah-bocah itu menyerangku bertubi-tubi. Ekorku kena. Aku jatuh. Jatuh. Ah, aku lupa kalau malam ini adalah malam jumat.
SIAL!

26 Maret 2011

Minggu, 20 Maret 2011

Tiga Sajak Pendek (tentang Korupsi)

Sajak Rakyat
: untuk para koruptor negara

babi ngepet
di istana….

Serang, 18 Maret 2011



Memberantas Korupsi

seperti memungut satu per satu
butiran pasir di laut.

Serang, 18 Maret 2011



Kata Para Koruptor

malu aku mencuri ayam

Serang, 18 Maret

Kamis, 10 Maret 2011

Memoar Kelapa Tujuh 2009

:untuk (E)

Ketika lagi langkahku menyetubuhi urat leher lautan ini
Kembali aku terbentur bayangmu di atas garis laut itu
Engkau menatap tajam sekujur tubuhku yang sedang bergumam
Dengan desir ombak, butiran pasir, dan semilir angin yang bersileweran mesra
Di sekelilingku
Dan entah mengapa, tiba-tiba ombak, pasir, dan angin itu
Seketika menggiring wajahku pada wajahmu
terus, dan terus menggiring ngilu
Lalu engkau menarik daun telingaku dengan lemah lembut
Dan mulutmu pun berceloteh lama tentang masa lalu
Tentang kisah yang pernah berlabuh di antara aku dan senja mu waktu itu
Tapi bagiku semua itu sudah fana
Karena dengan berat hati
Aku sudah menenggelamkan wajahmu di dasar laut itu

Kelapa Tujuh, Merak, 27 Februari 2011

Rabu, 09 Maret 2011

Kabar Langit :untuk yang mencintai langit

Kini langit sedang mendung
Sedang terbaring lemah ditempat tidur
Ia ingin menutup diri dari suara petir yang menggelegar
Dari suara yang terus menyakitkan gendang telinganya

14 Februari 2011 (Pkl. 23.59.)