Sastra dan Kita

Selasa, 08 Februari 2011

PEMULUNG KORAN Cerpen: Aray Rayza Alisjahbana

 

Sepertinya sampai detik ini pun Heri tak ingin berhenti untuk tetap membaca. Entah ia mendapatkannya dari mana. Terpenting adalah dia bisa membaca di manapun dia berada. Meskipun terkadang dia tidak mengerti dengan bacaannya itu.
Anak kecil berwajah lugu itu memang kesehariannya seperti itu. Memunguti setiap tulisan yang sekiranya bisa untuk dibaca. Entah itu dari sobekan koran-koran yang berseliweran dijalan, ditempat pedagang gorengan, atau ia menemukan di bawah kolong jempatan. Semangatnya yang masih belia itu sangat memprihatinkan.
Dia masih mengejar-ngejar sobekan koran itu yang melayang-layang menuju sekolah dasar negeri Singarajan. Ia menangkapnya, membacanya sekilas “Curat Marut Pendidikan di Indonesia”  lalu ia langsung memasukannya dalam tas berbentuk segi empat berukuran panjang-lebar 40x20 cm. Tas itu terbuat dari kain bekas tepung terigu.
Di sisi pagar sekolah itu ia memandangi anak-anak sedang bemain di halaman sekolah. Ada yang sedang main bola, main engklek, dan sebagainya. Ia begitu iri melihatnya. Tapi apalah daya, semua itu hanyalah sebuah harapan kosong. Orang tuanya tidak mampu menyekolahkannya.
“Bapak, Heri pengen sekolah kayak anak-anak itu…” lirihnya di sisi pagar sekolah itu. Tidak lama kemudian ia pun pergi entah kemana.
***
            “Bapak, kapan Heri bisa sekolah?”
            “Sudahlah kamu ngomong apa sih!”
            “Kok Bapak begitu? Umurku sudah sepuluh tahun. Kok belum juga sekolah? Nggak kayak teman-teman aku di luar sana.”
            Wong buat makan sehari-hari saja susah. Kamu minta sekolah.”
            Heri cemberut kembali. Mungkin sudah kesepuluh kalinya ia begini. Pertanyaan-pertanyaan yang selalu ia lontarkan pada bapaknya, pasti jawabnya selalu begitu.
            “Lihat! bapak hanya seorang pemulung. Mending kamu bantuin bapak nyari barang-barang bekas. Bukan sobekan-sobekan koran seperti ini!” Bapaknya melempar tas tepung terigu itu. Isinya berserakan di tanah, ada beberapa yang basah terkena air.
            Heri langsung memungutinya kembali. Lalu ia pun meninggalkan bapaknya dari teras bale itu. Ia langsung masuk ke dalam rumah, memeluk ibunya yang sedang menyuapi adik perempuannya makan ubi rebus.
            “Heri, kamu kenapa?”
            “Aku pengen sekolah Bu…”
            “Ia nanti, kalo ayah sama ibu sudah punya uang.”
            “Kapan punya uangnya? Dari dulu bilangnya begitu terus.”
            Ibunya tidak bisa jawab apa-apa lagi. Keinginan Heri untuk sekolah memang sangat tinggi. Apalagi saat beberapa teman dekatnya itu mulai mengajarinya membaca, terkadang sesekali meminjamkan buku sekolahnya pada Heri. Heri menjadi semakin antusias untuk bersekolah.      
            Ia baru setahun belakangan ini bisa membaca. Setiap malam kadang ia ikut bersama teman-temannya untuk belajar. Untung teman-temannya itu baik dan menerima segala kekurangan yang dimiliknya.
            “Rini, makasih yah sudah ikut numpang belajar disini.” Begitulah ucapnya jika usai belajar di Rumah Rini, teman tetangganya.
            “Iya, tidak apa-apa. Justru aku senang kita bisa belajar disini, juga bareng teman-teman. Besok kesini lagi yah!” Ujar Rini malam itu. Heri hanya menganggukkan kepalanya, sambil memasang kedua kakinya pada sandal jepitnya yang lusuh itu.
            Rini, adalah anak dari seorang kepala sekolah. Buku-buku di Rumah Rini pun lumayan banyak. Rini sering meminjamkan bukunya, kadang memberikannya pada Heri. Tapi Heri seringkali menolaknya. Ia tahu buku itu bukan milik Rini, tapi milik Ayahnya di sekolah. Dan semenjak itulah ia berinisiatif  sendiri untuk mencari sebaris kata-kata yang tercecer di jalanan sebagai pengisi kekosongannya menunggu malam tiba.
***
            “Heri, sudahlah mulai malam ini kamu jangan main ke rumah Rini lagi! Ayah merasa tidak enak sama Pak Romli.” Ujar bapaknya malam itu.
            “Kata Pak Romli juga nggak apa-apa kok. Biar nemenin Rini belajar katanya.”
            “Sudah! Kamu diam! Semenjak kamu sering bergaul di situ, kamu jadi begini. Jawab saja kalo di bilangin.”
            “Ada apa sih Pak? Ribut saja.” Ibunya terbangun sehabis menyusui anak perempuannya itu di kamar.
“Biasa. Ini anakmu. Kalau dibilangin rewel.”
“Sudah sih Pak, kasian si Heri. Untung Pak Romli dan anaknya itu baik.
Mau menerima anak kita belajar di rumahnya. Bapak ini bagaimana sih? Bukannya malah senang anaknya semangat belajar. Kok malah dilarang.”
            “Bukan begitu Bu. Justru aku khawatir jika dia sering bergaul dengan anaknya pak Romli itu. Nanti, dia nggak bakalan berhenti minta sekolah. Sudah tahu kondisi ekonomi kita seperti ini.”
            Heri yang sedari tadi duduk di kursi. Ia menundukkan kepala mendengar kedua orang tuanya saling bertengkar. Tidak lama kemudian ia pun pergi keluar rumah sambil membawa tas kesayangannya. Heri berlari. Dan terus berlari. Ia tidak menghiraukan sahutan kedua orang tuanya yang memanggil-manggilnya, melarangnya untuk pergi.
            Malam semakin sunyi. Kedua orang tuanya pun belum berhasil juga menemukan anaknya itu. Pencarian dimulai dari rumah Rini. Tapi tidak ada sesosok anaknya itu. Malah, Pak Syukur—nama bapaknya Heri—seketika menyesal dari apa yang sudah ia lakukan terhadap anaknya, setelah Pak Romli menceritakan bahwa anaknya itu sangat cerdas dan pintar.
            “Padahal saya sudah mengusulkan dengan Lurah setempat, agar memperhatikan dan bisa menyekolahkan anak-anak kurang mampu di desa ini.” Ujar Pak Romli malam itu. Mendengar hal itu, Pak Syukur segera berlari melanjutkan pencarian anaknya itu.
            Hingga menjelang fajar, Heri pun belum juga ditemukan. Ayahnya sudah menyusuri beberapa tempat yang sering Heri singgahi. Seperti rel kereta api, kolong jempatan, tempat-tempat pedagang gorengan, dan sebagainya. Tapi tetap saja seraut wajah lugu itu belum juga ditemukan.
Setahun-dua tahun berlalu.
            Pak Syukur belum juga bisa menemukan anaknya itu. Meskipun pengumuman sudah di tempel di dinding-dinding pos ronda, di jalanan, di angkot, di tiang listrik, di kantor polisi, dan sebagainya. Tetapi tetap saja hasilnya nihil.
            Pak syukur dan istrinya pun tidak mau terus-menerus seperti ini. Akhirnya mereka mencoba untuk menjalani hidup seperti biasanya dan melupakan semua yang telah terjadi. Meskipun hal ini memang sangat berat bagi mereka.
***
Di luar sana, bocah itu masih mengejar sobekan-sobekan koran yang terbang di jalanan. Masih berada di tempat pedagang-pedagang gorengan. Masih selalu berharap untuk bisa sekolah. Dan masih selalu suka membaca.[*]
           
                                                                                   
Serang, 7 Februari 2011
           
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar