hidup ini seperti debu yang berterbangan di udara
entah berhenti di terminal, di masjid, atau di tempat pelacuran
hidup ini adalah sebuah ketakutan yang tersembunyi
atau kadang suatu keberanian yang di buat-buat
padahal di jantungnya tersimpan malaikat
tersimpan asma illahi
Serang, April 2011
Rabu, 15 Juni 2011
Sajak Ujung Kulon
Karang Ranjang
masih terlalu biasa
aku mencintaimu
Ujung Kulon, 28 Mei 2011
Berjalan Ke Barat Tanpa Ujung
ya allah
berjalan ke pesisir pantai barat saja
rasanya kepalaku hampir meledak
wajahku ditampar matahari yang diam menipu
dan aku tak bisa bayangkan saat nanti maut menjemput
dan padang mahsyar yang bara membakar tubuhku
ya allah
aku tak kuasa
jadikan saja aku mataharimu.
Ujung Kulon-Pontang, 29—30 Mei 2011
masih terlalu biasa
aku mencintaimu
Ujung Kulon, 28 Mei 2011
Berjalan Ke Barat Tanpa Ujung
ya allah
berjalan ke pesisir pantai barat saja
rasanya kepalaku hampir meledak
wajahku ditampar matahari yang diam menipu
dan aku tak bisa bayangkan saat nanti maut menjemput
dan padang mahsyar yang bara membakar tubuhku
ya allah
aku tak kuasa
jadikan saja aku mataharimu.
Ujung Kulon-Pontang, 29—30 Mei 2011
RESENSI BUKU
Judul Buku: Bismillah, Aku Tidak Takut Gagal!
Penulis: Ummu Azzam, dkk.
Penerbit: QultumMedia, Jakarta
Tahun Terbit: Mei 2011
Tebal Buku: 262 hal.
ISBN: 979-017162-5
Rencana Tuhan di Balik Sebuah Kegagalan
Adakah manusia di dunia ini yang belum pernah mengalami kegagalan? Saya yakin jawabannya pasti tidak ada. Semua orang pasti pernah merasakannya. Entah itu tukang beca, kuli bangunan, mahasiswa, pejabat, presiden, bahkan Rasulullah, yang dulu ditentang oleh orang-orang Quraisy pada masa-masa awal dakwahnya, sampai akhirnya beliau pernah dicaci maki, dicemoohkan, bahkan dikucilkan.
Di dalam kehidupan ini, kegagalan kerap kali menjadi momok atau bumerang yang menakutkan bagi beberapa orang. Terkadang mereka melarikan diri dari kegagalan itu, padahal ia belum mencoba terlebih dahulu. Terkadang pula mereka menganggap bahwa kegagalan adalah akhir dari segalanya, yang mungkin bisa saja membuat orang itu frustrasi dan akhirnya melakukan tindakan konyol dan bodoh dengan mengakhiri hidupnya. Na'udzubillah.
Akan tetapi tidak dengan buku yang satu ini. Buku yang berjudul "Bismillah, Aku Tidak Takut gagal!" ini merupakan sekumpulan kisah nyata yang ditulis oleh 26 penulis tentang semangat mengadapi sebuah kegagalan. Buku dengan tebal 262 halaman ini sangat menarik untuk dibaca. Dengan gaya bahasanya yang sederhana, lugas, dan mudah dipahami, serta dibimbing dengan ayat-ayat Al-quran yang semakin membuat saya sejuk dan ketagihaan untuk terus membacanya tanpa henti. Kisah-kisah dalam buku ini begitu inspiratif dan menggugah.
Misalnya saja karya Ummu Azzam "Tak Ada Sesal dalam Gagal", menceritakan tentang kegagalan ayahnya yang selalu diberi cobaan semenjak Azam belum lahir. Ayahnya adalah seorang padagang soto keliling. Ia selalu di buru oleh polisi karena berjulan pinggiran, sampai ia pun pernah di penjara. Namun ketika azzam sudah lahir alhamdulillah ayahnya sudah punya toko sendiri meskipun kecil-kecilan. Akan tetapi kejadian naas terjadi. Rumahnya digusur oleh pemerintah ketika ayahnya sedang menjenguk azzam di pesantren (azzam sudah menginjak SLTP). Meskipun pemerintah mengganti segala harta benda yang rusak, namun itu tidak cukup untuk mengembalikan harta benda mereka yang dulu. Toko mereka yang lenyap, musnah. Akhirnya ayahnya mencari usaha lagi, Alhamdulillah kali ini dibantu oleh Pak De Azzam untuk berjualan kelontong ditempatnya. Namun lagi-lagi hal yang tidak diinginkan terjadi. Tetangga-tetangga yang dekat rumah Pak De Azzam pun tidak ada yang suka dengan ayah Azzam yang berjuakan disitu. Katanya, bikin dagangan mereka tidak laku saja! Tapi azzam dan ayahnya mengelus dada dengan beristigfar.
Tidak kalah inspiratif juga dengan kisah Intan HS "Bertahan dalam Kegagalan", menceritakan tentang kegagalan Intan yang bertubi-tubi. Entah itu pekerjaannya maupun masalah keluarganya. Usaha yang ia tangani selalu berujung kegagalan. Dari usaha konveksi (tukang jahit) yang gagal, rumah makan yang sepi pembeli, dan sekarang berganti berjualan buku. Akan tetapi masih saja sepi pembeli. Belum lagi masalah keluarganya yang dirundung pilu. Ia tidak bisa mempunyai anak. Ia terserang penyakit rahim terbalik sehingga sulit terjadi pembuahan. Begitu juga dengan suaminya, ia terserang penyakit oligoasthenozoospermia, yaitu benihnya juga lemah untuk membuahi sel telur. Rumah tangga yang sudah dijalani lebih dari 5 tahun itu kini tidak harmonis. Suaminya pergi entah kemana karena perihal penyakit yang di derita oleh kedua insan itu. Intan pun tinggal sendirian di rumah. Ia selalu berdoa, memohon kepada Allah supaya ia tetap tabah menjalani hidup ini. Dan syukur alhamdulillah dua bulan kemudian suaminya datang kembali dan meminta maaf.
Buku yang ditulis olah Ummu Azzam, dkk. ini tidak hanya mengisahkan tentang kegagalan seorang pedagang dan rumah tangga saja, banyak pula yang mengisahkan tentang kegagalan saat menempuh pendidikan.
Misalnya dalam kisah Suhairi, "Dari Bisnis Terasi, Hingga Menulis di Media". Perjuangan seorang mahasiswa kampung yang kuliah di Universitas Jember. Ia anak petani yang hidupnya pas-pasan. Suhairi merupakan orang ketiga yang bisa melanjutkan kuliah di kampungnya. Akan tetapi orang-orang di kampungnya mengejek ia dan keluarganya. Mana bisa orang kampung sukses dan bisa melanjutkan kuliah. Toh akhirnya mereka juga nantinya kembali lagi ke kampung, ke sawah lagi- ke sawah lagi, kata mereka. Awalnya Suhairi merasa putus asa dengan cemoohan itu. Apalagi dengan kondisi keuangannya yang sudah tidak memungkinkan lagi. Orang tuanya sudah menjual harta bendanya, tapi masih saja kurang untuk membiayainya. Sampai akhirnya, Suhairi dengan temannya berinisiatif dagang terasi, meskipun malu tapi penghasilannya lumayan. Selain itu, Suhari yang kuliah di jurusan Sastra menyadari bakat dirinya bahwa ia bisa menulis di media. Ia yakin, ia bisa. Dan alhamdulliah beberapa karyanya di muat di berbagai media dengan honor yang memuaskan. Sampai akhirnya ia bisa lulus kuliah tanpa merepotkan orang tua. Dan akhirnya orang-orang sekampungnya sadar bahwa Suhairi bisa dan sukses.
Begitu juga dengan kisah Zahriyah Inayati "CPNS Oh CPNS" yang menurut saya agak konyol. Kisah ini menceritakan seorang perempuan yang terobsesi menjadi PNS. Setiap kali ada tes CPNS, ia tidak pernah ketinggalan untuk mendaftar. Akan tetapi ia selalu gagal. Ia bermimpi bisa menjadi orang kaya dengan menjadi PNS. Gara-gara ia selalu memikirkan PNS, ia sampai lupa dengan umurnya yang sudah tua. Yang seharusnya sudah menikah. Sampai akhirnya ia sadar, selama ini ia hanya memikirkan kepentingan duniawi, sunatullah ia tinggalkan. Baginya, mungkin hal itu yang membuatnya selalu gagal. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk menikah, dan melupakan mimpi menjadi PNS itu. Beberapa bulan kemudian setelah resepsi pernikahannya digelar ia terkejut melihat hasil tes CPNS yang kemarin di ikutinya ternyata membuahkan hasil. Ia diterima menjadi PNS. Subhanallah!
Memiliki Motto Hidup
Hidup kadangkala butuh sesuatu yang mampu membuat kita bangkit kembali dari keterpurukan. Bangkit dari setiap kegagalan yang pernah mendera. Saya yakin, setiap orang mempunyai cara tersendiri untuk bangkit dari keterpurukan itu. Begitu juga dengan para penulis buku ini. Mereka memiliki senjata yang ampuh untuk membangkitkan kembali gairah hidup mereka. Para penulis buku ini mempunyai motto hidup yang begitu beragam, ada yang mengutip perkataan dari sastrawan, ilmuan, dan yang pastinya dari Rosulullah SAW yang begitu sangat menggugah dan mampu menggetarkan jiwa manusia.
Suhairi, dengan motto hidupnya yang mengutip dari Thomas Alfa Edison "Saya tidak akan gagal, hanya menemukan ribuan kali cara yang salah. Saya pasti sukses karena kehabisan percobaan yang salah". Abdullah, dengan mengutip puisi dari sastrawan Taufik Ismail "Kita harus berjalan terus. Karena berhenti atau mundur,, berarti hancur." Zahriyah, mengutip dari hadits nabi “Kejarlah akhirat maka dunia akan mengikuti kita, sebaliknya kejarlah dunia maka akhirat akan meninggalkan kita.” Atau dengan membuat kutipan sendiri, seperti Nissa “Menang adalah ujian. Kalah adalah tantangan. Ridha Allah jadi tujuan. Allah tak pernah salah dalam menuliskan takdir hamba-Nya.”
Bagi mereka motto hidup adalah sugesti jiwa yang sangat penting.
Lalu, bagaimana menurut Anda?
Penulis:
Aray Rayza Alisjabana (Encep A), Mahasiswa Diksatrasia Untirta.
Bergiat di Belistra dan Kubah Budaya.
Penulis: Ummu Azzam, dkk.
Penerbit: QultumMedia, Jakarta
Tahun Terbit: Mei 2011
Tebal Buku: 262 hal.
ISBN: 979-017162-5
Rencana Tuhan di Balik Sebuah Kegagalan
Adakah manusia di dunia ini yang belum pernah mengalami kegagalan? Saya yakin jawabannya pasti tidak ada. Semua orang pasti pernah merasakannya. Entah itu tukang beca, kuli bangunan, mahasiswa, pejabat, presiden, bahkan Rasulullah, yang dulu ditentang oleh orang-orang Quraisy pada masa-masa awal dakwahnya, sampai akhirnya beliau pernah dicaci maki, dicemoohkan, bahkan dikucilkan.
Di dalam kehidupan ini, kegagalan kerap kali menjadi momok atau bumerang yang menakutkan bagi beberapa orang. Terkadang mereka melarikan diri dari kegagalan itu, padahal ia belum mencoba terlebih dahulu. Terkadang pula mereka menganggap bahwa kegagalan adalah akhir dari segalanya, yang mungkin bisa saja membuat orang itu frustrasi dan akhirnya melakukan tindakan konyol dan bodoh dengan mengakhiri hidupnya. Na'udzubillah.
Akan tetapi tidak dengan buku yang satu ini. Buku yang berjudul "Bismillah, Aku Tidak Takut gagal!" ini merupakan sekumpulan kisah nyata yang ditulis oleh 26 penulis tentang semangat mengadapi sebuah kegagalan. Buku dengan tebal 262 halaman ini sangat menarik untuk dibaca. Dengan gaya bahasanya yang sederhana, lugas, dan mudah dipahami, serta dibimbing dengan ayat-ayat Al-quran yang semakin membuat saya sejuk dan ketagihaan untuk terus membacanya tanpa henti. Kisah-kisah dalam buku ini begitu inspiratif dan menggugah.
Misalnya saja karya Ummu Azzam "Tak Ada Sesal dalam Gagal", menceritakan tentang kegagalan ayahnya yang selalu diberi cobaan semenjak Azam belum lahir. Ayahnya adalah seorang padagang soto keliling. Ia selalu di buru oleh polisi karena berjulan pinggiran, sampai ia pun pernah di penjara. Namun ketika azzam sudah lahir alhamdulillah ayahnya sudah punya toko sendiri meskipun kecil-kecilan. Akan tetapi kejadian naas terjadi. Rumahnya digusur oleh pemerintah ketika ayahnya sedang menjenguk azzam di pesantren (azzam sudah menginjak SLTP). Meskipun pemerintah mengganti segala harta benda yang rusak, namun itu tidak cukup untuk mengembalikan harta benda mereka yang dulu. Toko mereka yang lenyap, musnah. Akhirnya ayahnya mencari usaha lagi, Alhamdulillah kali ini dibantu oleh Pak De Azzam untuk berjualan kelontong ditempatnya. Namun lagi-lagi hal yang tidak diinginkan terjadi. Tetangga-tetangga yang dekat rumah Pak De Azzam pun tidak ada yang suka dengan ayah Azzam yang berjuakan disitu. Katanya, bikin dagangan mereka tidak laku saja! Tapi azzam dan ayahnya mengelus dada dengan beristigfar.
Tidak kalah inspiratif juga dengan kisah Intan HS "Bertahan dalam Kegagalan", menceritakan tentang kegagalan Intan yang bertubi-tubi. Entah itu pekerjaannya maupun masalah keluarganya. Usaha yang ia tangani selalu berujung kegagalan. Dari usaha konveksi (tukang jahit) yang gagal, rumah makan yang sepi pembeli, dan sekarang berganti berjualan buku. Akan tetapi masih saja sepi pembeli. Belum lagi masalah keluarganya yang dirundung pilu. Ia tidak bisa mempunyai anak. Ia terserang penyakit rahim terbalik sehingga sulit terjadi pembuahan. Begitu juga dengan suaminya, ia terserang penyakit oligoasthenozoospermia, yaitu benihnya juga lemah untuk membuahi sel telur. Rumah tangga yang sudah dijalani lebih dari 5 tahun itu kini tidak harmonis. Suaminya pergi entah kemana karena perihal penyakit yang di derita oleh kedua insan itu. Intan pun tinggal sendirian di rumah. Ia selalu berdoa, memohon kepada Allah supaya ia tetap tabah menjalani hidup ini. Dan syukur alhamdulillah dua bulan kemudian suaminya datang kembali dan meminta maaf.
Buku yang ditulis olah Ummu Azzam, dkk. ini tidak hanya mengisahkan tentang kegagalan seorang pedagang dan rumah tangga saja, banyak pula yang mengisahkan tentang kegagalan saat menempuh pendidikan.
Misalnya dalam kisah Suhairi, "Dari Bisnis Terasi, Hingga Menulis di Media". Perjuangan seorang mahasiswa kampung yang kuliah di Universitas Jember. Ia anak petani yang hidupnya pas-pasan. Suhairi merupakan orang ketiga yang bisa melanjutkan kuliah di kampungnya. Akan tetapi orang-orang di kampungnya mengejek ia dan keluarganya. Mana bisa orang kampung sukses dan bisa melanjutkan kuliah. Toh akhirnya mereka juga nantinya kembali lagi ke kampung, ke sawah lagi- ke sawah lagi, kata mereka. Awalnya Suhairi merasa putus asa dengan cemoohan itu. Apalagi dengan kondisi keuangannya yang sudah tidak memungkinkan lagi. Orang tuanya sudah menjual harta bendanya, tapi masih saja kurang untuk membiayainya. Sampai akhirnya, Suhairi dengan temannya berinisiatif dagang terasi, meskipun malu tapi penghasilannya lumayan. Selain itu, Suhari yang kuliah di jurusan Sastra menyadari bakat dirinya bahwa ia bisa menulis di media. Ia yakin, ia bisa. Dan alhamdulliah beberapa karyanya di muat di berbagai media dengan honor yang memuaskan. Sampai akhirnya ia bisa lulus kuliah tanpa merepotkan orang tua. Dan akhirnya orang-orang sekampungnya sadar bahwa Suhairi bisa dan sukses.
Begitu juga dengan kisah Zahriyah Inayati "CPNS Oh CPNS" yang menurut saya agak konyol. Kisah ini menceritakan seorang perempuan yang terobsesi menjadi PNS. Setiap kali ada tes CPNS, ia tidak pernah ketinggalan untuk mendaftar. Akan tetapi ia selalu gagal. Ia bermimpi bisa menjadi orang kaya dengan menjadi PNS. Gara-gara ia selalu memikirkan PNS, ia sampai lupa dengan umurnya yang sudah tua. Yang seharusnya sudah menikah. Sampai akhirnya ia sadar, selama ini ia hanya memikirkan kepentingan duniawi, sunatullah ia tinggalkan. Baginya, mungkin hal itu yang membuatnya selalu gagal. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk menikah, dan melupakan mimpi menjadi PNS itu. Beberapa bulan kemudian setelah resepsi pernikahannya digelar ia terkejut melihat hasil tes CPNS yang kemarin di ikutinya ternyata membuahkan hasil. Ia diterima menjadi PNS. Subhanallah!
Memiliki Motto Hidup
Hidup kadangkala butuh sesuatu yang mampu membuat kita bangkit kembali dari keterpurukan. Bangkit dari setiap kegagalan yang pernah mendera. Saya yakin, setiap orang mempunyai cara tersendiri untuk bangkit dari keterpurukan itu. Begitu juga dengan para penulis buku ini. Mereka memiliki senjata yang ampuh untuk membangkitkan kembali gairah hidup mereka. Para penulis buku ini mempunyai motto hidup yang begitu beragam, ada yang mengutip perkataan dari sastrawan, ilmuan, dan yang pastinya dari Rosulullah SAW yang begitu sangat menggugah dan mampu menggetarkan jiwa manusia.
Suhairi, dengan motto hidupnya yang mengutip dari Thomas Alfa Edison "Saya tidak akan gagal, hanya menemukan ribuan kali cara yang salah. Saya pasti sukses karena kehabisan percobaan yang salah". Abdullah, dengan mengutip puisi dari sastrawan Taufik Ismail "Kita harus berjalan terus. Karena berhenti atau mundur,, berarti hancur." Zahriyah, mengutip dari hadits nabi “Kejarlah akhirat maka dunia akan mengikuti kita, sebaliknya kejarlah dunia maka akhirat akan meninggalkan kita.” Atau dengan membuat kutipan sendiri, seperti Nissa “Menang adalah ujian. Kalah adalah tantangan. Ridha Allah jadi tujuan. Allah tak pernah salah dalam menuliskan takdir hamba-Nya.”
Bagi mereka motto hidup adalah sugesti jiwa yang sangat penting.
Lalu, bagaimana menurut Anda?
Penulis:
Aray Rayza Alisjabana (Encep A), Mahasiswa Diksatrasia Untirta.
Bergiat di Belistra dan Kubah Budaya.
GUCENG
Cerpen: Aray Rayza Alisjahbana
Guceng melompat dari pagar besi pembatas pasar ikan yang lumayan tinggi itu. Ia berlari kencang sambil sesekali melengos ke belakang dan menjulurkan lidahnya ke aparat polisi yang mengejarnya.
“Dasar bocah tengik!” ujar salah satu aparat polisi sambil mengangkat pentungannya di atas kepala. Guceng tidak mengkiraukannya. Ia pun bergegas kembali ke markasnya.
“Dapat berapa?” tanya Udin sambil menghisap sebatang lisongnya.
“Lumayan buat beli rokok dan minum.”
“Coba liat…! Wah ini sih lumayan banyak. Bisa pesta kita malam ini.”
“Ya bisa sih, tapi lu jangan kasih tau bos yah kalo gue dapet segini…”
“Sip!”
Kedua bocah yang menginjak masa puber itu mengipas mukanya dengan lembaran-lembaran uang sambil bersiulan dengan wajah berseri-seri. Mereka pun adu jotos petanda itu adalah kemenangan mereka.
“Hei, apa itu di tangan kalian?” tiba tiba Bos Pasal datang dari arah pintu samping. Kedua bocah itu seketika terperangah dan langsung menyimpan uang itu di kantong belakang celananya.
“Bukan apa-apa kok Bos,” Guceng dan kawannya mengangkat kedua tangannya.
“Ah kalian!” Bos Pasal memutar badan kedua bocah itu. Uang-uang itu kelihatan dari balik kantong celana mereka berdua yang robek.
“Haha, dasar bocah! Kalian gak usah takut. Kalian tetap dapat sebagian kok. Tenang saja. Meskipun gue ini menyeramkan, tapi gue ini baik hati,” ujar Bos Pasal sambil menghitung uang yang ia ambil dari kantong kedua bocah itu.
“Ini buat lu Din! Dan ini buat lu Ceng!”
"Yah, kok cuma cepe doang sih Bos? Bos tiga kali lipat dari ini," protes Guceng dengan wajah agak ngotot.
"Anak kecil tau apa sih soal uang. Ini gue tambahin gopek. Haha…!” lantas Bos Pasal pun pergi.
"Sial, malam ini kita nggak jadi pesta!" lirih Udin.
"Iya, mentang-mentang kita ini anak asuhan dia,"
"Mau gimana lagi Ceng, kalo nggak ada dia siapa yang bakal jagain kita dan anak-anak yang lain?"
"Bener juga sih. Hm... andai saja jika kedua orang tuaku masih ada di dunia ini, pasti hidupku tidak seperti ini" Guceng duduk di kursi kayu goyang—yang biasa di pakai oleh orang-orang tua—ia menopang dagunya dengan kedua tangannya. Sambil bergoyang-goyang pikirannya entah kemana. Lambaian tangan Udin pun yang mengayun di wajahnya, tidak ia hiraukan.
***
"Bapaaak... Bapak kenapa sih nggak jadi orang kaya?" tanya Guceng dengan polosnya ditempat tidur.
"Guceeng, kerja seperti ini saja Bapak sudah bersyukur. Ya, walaupun pekerjaan bapak terkadang menantang maut di tengah laut, tapi semua ini ya Bapak lakukan untuk kamu dan ibu kamu. Setidaknya kamu bisa sekolah. Ya minimal sembilan tahun."
"Kenapa bapak nggak kayak di tipi-tipi itu, yang minta uang di bank dengan pistol..."
"Itu namanya merampok Guceng, tidak boleh,"
"Kenapa tidak boleh?"
"Itu dosa. Dilarang oleh agama dan hukum negara kita." Guceng pun terdiam.
Sesosok Guceng yang masih kecil—ya, kelas 4 SD—terkadang membuat bingung kedua orang tuanya. Pertanyaan-pertanyaan polosnya terkadang membuat kedua orangtuanya mengernyitkan dahi. Di sekolahnya pun ia bisa dibilang usil. Usil kepada gurunya dan teman-temannya. Pernah suatu kali ia bertanya begini di dalam kelas,
"Ibu, kenapa sih ibu jadi guru? Terus tangannya cuma satu lagi. Apa kalo jadi guru itu kayak gitu ya bu?"
Dalam hati, ibu guru itu tertawa geli, tetapi disisi lain ia agak terpukul juga dengan pertanyaan itu. Ibu guru bertangan satu yang mengajar PKn itu menjawab dengan rendah hati,
"Semua ini pemberian Tuhan Nak, patut disyukuri meskipun agak perih. Ya begini juga ibu masih ingin tetap hidup. Begitu pun dengan orang lain di luar sana. Entah itu dokter, insinyur, pengamen jalanan, maupun perampok, ya meskipun pekerjaan merampok itu haram. Tetapi mereka juga manusia, berhak hidup. Itulah yang namanya hak asasi manusia, seperti yang tercatat dalam Undang-Undang pasal 28A, yang berbunyi, Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup."
Guceng dan teman-temannya terdiam. Entah itu petanda mereka mengerti atau tidak dengan perkataan ibu guru mereka itu. Memang jika dipikirkan hal itu amatlah tidak dimasuk akal—bocah sekolah dasar diberi penjelasan yang lumayan berat seperti itu. Guceng dan teman-temannya masih bengong, padahal ibu guru sudah keluar dari kelas. Rupanya perkataan ibu guru itu mampu menghipnotis murid-muridnya.
"Tadi kamu mengerti?" tanya salah seorang murid ke teman sebangkunya.
"Nggak?"
"Kamu?" ke teman yang lainnya.
"Nggak juga."
"Terus kamu, tadi mengerti?"
"Nggak juga?"
"Guceng, kalo kamu?" Guceng tidak menjawab. "Hei, Guceeng!" sekali lagi.
"Yaaa... aku mengertiii...!!!" tiba-tiba ia bangkit dari tempat duduknya. Sekaligus bangkit dari khayalannya di kursi goyang orang tua itu.
"Ya, HAK ASASI MANUSIA! Itu benar! Itu benar! Jangan salahkan saya jika saya begini! Haha... HAK ASASI MANUSIA!"
Semenjak kedua orang tuanya pergi enam tahun yang lalu, hukum hak asasi manusia itu kini berlaku bagi Guceng. Kedua orangtuanya sudah dipanggil yang maha kuasa ketika mereka tengah berlayar di lautan. Mereka dihantam ombak. Dan jasad mereka tidak ditemukan. Dan sekarang jadi beginilah Guceng. Menjadi anak terlantar. Para tetangganya tidak ada yang mau mengasuh dia. Merepotkan katanya. Buat makan keluarga sendiri saja kurang. Yah, begitulah memang kehidupan dikampung Guceng yang serba hidup sendiri. Kampung yang berada di ujung tepi laut itu memanglah kebanyakan orang yang kurang berada. Sampai akhirnya Guceng minggat dari kediamannya, dan berlari menuju kota untuk mencari sesuap nasi. Mulai dari kecrak-kecrek dari tutup botol. Menyapu mobil-mobil angkot di terminal. Atau menyanyi dengan teman-temannya yang ketemu serampangan saja di perempatan lampu merah perkotaan. Sampai akhirnya ia pun bertemu dengan Bos Pasal. Bos anak jalanan di kota.
"Para bocah ingusan, hidup itu susah. Kalian jangan mau mengandalkan pemerintah untuk membantu kalian yang terlantar ini. Pemerintah hanya omong kosong. Katanya di dalam undang-undang, fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Woy para bocah ingusan, jangan percaya dengan kata-kata itu. Kalian juga punya hak hidup. Hiduplah dengan cara yang kalian bisa. Yang mau nyopet, silakan nyopet! Yang mau ngamen, silakan ngamen! Yang harus kita pikirkan sekarang adalah hidup, hidup, dan hidup!"
Guceng semakin terperdaya dengan pidato itu yang ia dengar pertama kali di sebuah markas yang cukup besar, namun tertutup. Dan kini tempat itulah yang menjadi tempat tinggalnya hingga sekarang ini.
"Bos Pasal. Pantas saja ia itu di panggil Bos Pasal," gumam Guceng.
Kini Guceng sudah lupa dengan segala perkataan ayahnya. Jangan merampok. Itu haram. Dan kata ibu gurunya juga. Jangan merampok. Haram. Tetapi keadaan berpaling. Yang ada dalam pikirannya sekarang adalah bertahan hidup.
Hukum hak asasi manusia itu rupanya kini sudah sangat melekat pada dirinya. Apalagi dengan doktrin dari Bos Pasal itu. Di kepala Guceng, yang terpikirkan adalah hak asasi manusia, hak asasi manusia, dan hak asasi manusia! Tidak ada yang lain.
"Din, memang benar juga sih apa yang dikatakan Bos Pasal itu yah," ungkap Guceng pagi itu.
"Perkataan yang mana?"
"Biasa. Pasal."
"Oh, itu... tapi emang kenyataannya begitu kan Ceng. Bukannya kita ini memang jarang atau bahkan sama sekali tidak di perhatikan sama pemerintah. Malah kadang diusir dengan semena-mena, bahkan dipukuli hingga tewas. Tahu sendirikan seminggu yang lalu dan yang dulu-dulu juga, teman kita banyak yang mati gara-gara diringkus oleh aparat. Mereka tidak diamankan tetapi malah disiksa. Negara macam apa seperti ini Ceng..."
"Ah omongan loe kayak kritikus saja,"
"Kan gue ngomong begini diajarin sama Bos Pasal,"
"Hidup ini memang edan yah Din,"
"Sudahlah, lakukan saja apa yang menjadi hak kita,"
"Hak apa?"
"Hak hiduplah Din!"
"Ah, loe ini plan-plan amat belakangan ini..."
"Tak tahulah."
"Ceng, udah agak siang nih. Udah rame. Ayo beraksi! Hak asasi manusia Boy!"
Hari itu, seperti biasa mereka beroperasi di pasar-pasar atau tempat swalayan yang ramai dikunjungi orang. Mereka menyelip-nyelip di kerumunan orang. Sekali ibu-ibu lengah. Jambret. Tukang dagang baso lengah. Sikat. Tukang dagang sendal kencing. Pancing. Semua yang lengah-lengah pasti tak ubahnya jadi sasaran. Sudah banyak benda-benda dan barang berharga yang dirampasnya dalam jangka waktu lima jam. Semua benda dan barang-barang itu mereka masukkan ke kantong celana atau ke ransel mereka.
"Hah, sepertinya kita sudah dapat cukup banyak Din," ujar Guceng.
Polisii... Polisii... Polisi...
Tiba-tiba saja ada teriakan dari arah samping kiri di perempatan pasar itu. Semua yang merasa anak jalanan dan orang jompo peminta-minta lari terbirit-birit. Hal ini memang sudah biasa terjadi pada mereka. Guceng dan Udin dengan gesitnya berlari ke tempat-tempat yang susah dijangkau oleh polisi. Sedangkan orang-orang jompo itu pastilah selalu tertangkap. Wajar saja, mereka tidak kuat lari. Apalagi polisi pemburu anak-anak jalanan itu dikerahkan lumayan banyak.
"Hei, jangan lari kalian!" salah satu aparat polisi menemukan mereka yang sedang duduk istirahat sambil minum di tempat sempit dan agak kumuh. Guceng dan Udin pun seketika kaget dan langsung bangun sambil melempar botol aqua yang mereka pegang ke arah aparat polisi itu.
Mereka terus berlari. Berlari dengan kencang. Sampai akhirnya Guceng dan Udin pun berhasil lagi melompati pagar besi pembatas pasar ikan yang biasa mereka lewati itu. Seperti biasa, tidak lupa mereka menjulurkan lidahnya ke aparat polisi itu.
"Dasar kalian bocah tengik!"
13 Juni 2011
Biodata Penulis:
Aray Rayza Alisjahbana. Lahir di Serang, 20 September 1990. Mahasiswa Diksatrasia Untirta. Karyanya berupa puisi, cerpen, dan resensi pernah dimuat di Fajar Banten (Sekarang Kabar Banten) dan Radar Banten. Bergiat di Kubah Budaya dan Belistra Untirta. Sekarang menetap di Pontang bersama orangtuanya.
Guceng melompat dari pagar besi pembatas pasar ikan yang lumayan tinggi itu. Ia berlari kencang sambil sesekali melengos ke belakang dan menjulurkan lidahnya ke aparat polisi yang mengejarnya.
“Dasar bocah tengik!” ujar salah satu aparat polisi sambil mengangkat pentungannya di atas kepala. Guceng tidak mengkiraukannya. Ia pun bergegas kembali ke markasnya.
“Dapat berapa?” tanya Udin sambil menghisap sebatang lisongnya.
“Lumayan buat beli rokok dan minum.”
“Coba liat…! Wah ini sih lumayan banyak. Bisa pesta kita malam ini.”
“Ya bisa sih, tapi lu jangan kasih tau bos yah kalo gue dapet segini…”
“Sip!”
Kedua bocah yang menginjak masa puber itu mengipas mukanya dengan lembaran-lembaran uang sambil bersiulan dengan wajah berseri-seri. Mereka pun adu jotos petanda itu adalah kemenangan mereka.
“Hei, apa itu di tangan kalian?” tiba tiba Bos Pasal datang dari arah pintu samping. Kedua bocah itu seketika terperangah dan langsung menyimpan uang itu di kantong belakang celananya.
“Bukan apa-apa kok Bos,” Guceng dan kawannya mengangkat kedua tangannya.
“Ah kalian!” Bos Pasal memutar badan kedua bocah itu. Uang-uang itu kelihatan dari balik kantong celana mereka berdua yang robek.
“Haha, dasar bocah! Kalian gak usah takut. Kalian tetap dapat sebagian kok. Tenang saja. Meskipun gue ini menyeramkan, tapi gue ini baik hati,” ujar Bos Pasal sambil menghitung uang yang ia ambil dari kantong kedua bocah itu.
“Ini buat lu Din! Dan ini buat lu Ceng!”
"Yah, kok cuma cepe doang sih Bos? Bos tiga kali lipat dari ini," protes Guceng dengan wajah agak ngotot.
"Anak kecil tau apa sih soal uang. Ini gue tambahin gopek. Haha…!” lantas Bos Pasal pun pergi.
"Sial, malam ini kita nggak jadi pesta!" lirih Udin.
"Iya, mentang-mentang kita ini anak asuhan dia,"
"Mau gimana lagi Ceng, kalo nggak ada dia siapa yang bakal jagain kita dan anak-anak yang lain?"
"Bener juga sih. Hm... andai saja jika kedua orang tuaku masih ada di dunia ini, pasti hidupku tidak seperti ini" Guceng duduk di kursi kayu goyang—yang biasa di pakai oleh orang-orang tua—ia menopang dagunya dengan kedua tangannya. Sambil bergoyang-goyang pikirannya entah kemana. Lambaian tangan Udin pun yang mengayun di wajahnya, tidak ia hiraukan.
***
"Bapaaak... Bapak kenapa sih nggak jadi orang kaya?" tanya Guceng dengan polosnya ditempat tidur.
"Guceeng, kerja seperti ini saja Bapak sudah bersyukur. Ya, walaupun pekerjaan bapak terkadang menantang maut di tengah laut, tapi semua ini ya Bapak lakukan untuk kamu dan ibu kamu. Setidaknya kamu bisa sekolah. Ya minimal sembilan tahun."
"Kenapa bapak nggak kayak di tipi-tipi itu, yang minta uang di bank dengan pistol..."
"Itu namanya merampok Guceng, tidak boleh,"
"Kenapa tidak boleh?"
"Itu dosa. Dilarang oleh agama dan hukum negara kita." Guceng pun terdiam.
Sesosok Guceng yang masih kecil—ya, kelas 4 SD—terkadang membuat bingung kedua orang tuanya. Pertanyaan-pertanyaan polosnya terkadang membuat kedua orangtuanya mengernyitkan dahi. Di sekolahnya pun ia bisa dibilang usil. Usil kepada gurunya dan teman-temannya. Pernah suatu kali ia bertanya begini di dalam kelas,
"Ibu, kenapa sih ibu jadi guru? Terus tangannya cuma satu lagi. Apa kalo jadi guru itu kayak gitu ya bu?"
Dalam hati, ibu guru itu tertawa geli, tetapi disisi lain ia agak terpukul juga dengan pertanyaan itu. Ibu guru bertangan satu yang mengajar PKn itu menjawab dengan rendah hati,
"Semua ini pemberian Tuhan Nak, patut disyukuri meskipun agak perih. Ya begini juga ibu masih ingin tetap hidup. Begitu pun dengan orang lain di luar sana. Entah itu dokter, insinyur, pengamen jalanan, maupun perampok, ya meskipun pekerjaan merampok itu haram. Tetapi mereka juga manusia, berhak hidup. Itulah yang namanya hak asasi manusia, seperti yang tercatat dalam Undang-Undang pasal 28A, yang berbunyi, Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup."
Guceng dan teman-temannya terdiam. Entah itu petanda mereka mengerti atau tidak dengan perkataan ibu guru mereka itu. Memang jika dipikirkan hal itu amatlah tidak dimasuk akal—bocah sekolah dasar diberi penjelasan yang lumayan berat seperti itu. Guceng dan teman-temannya masih bengong, padahal ibu guru sudah keluar dari kelas. Rupanya perkataan ibu guru itu mampu menghipnotis murid-muridnya.
"Tadi kamu mengerti?" tanya salah seorang murid ke teman sebangkunya.
"Nggak?"
"Kamu?" ke teman yang lainnya.
"Nggak juga."
"Terus kamu, tadi mengerti?"
"Nggak juga?"
"Guceng, kalo kamu?" Guceng tidak menjawab. "Hei, Guceeng!" sekali lagi.
"Yaaa... aku mengertiii...!!!" tiba-tiba ia bangkit dari tempat duduknya. Sekaligus bangkit dari khayalannya di kursi goyang orang tua itu.
"Ya, HAK ASASI MANUSIA! Itu benar! Itu benar! Jangan salahkan saya jika saya begini! Haha... HAK ASASI MANUSIA!"
Semenjak kedua orang tuanya pergi enam tahun yang lalu, hukum hak asasi manusia itu kini berlaku bagi Guceng. Kedua orangtuanya sudah dipanggil yang maha kuasa ketika mereka tengah berlayar di lautan. Mereka dihantam ombak. Dan jasad mereka tidak ditemukan. Dan sekarang jadi beginilah Guceng. Menjadi anak terlantar. Para tetangganya tidak ada yang mau mengasuh dia. Merepotkan katanya. Buat makan keluarga sendiri saja kurang. Yah, begitulah memang kehidupan dikampung Guceng yang serba hidup sendiri. Kampung yang berada di ujung tepi laut itu memanglah kebanyakan orang yang kurang berada. Sampai akhirnya Guceng minggat dari kediamannya, dan berlari menuju kota untuk mencari sesuap nasi. Mulai dari kecrak-kecrek dari tutup botol. Menyapu mobil-mobil angkot di terminal. Atau menyanyi dengan teman-temannya yang ketemu serampangan saja di perempatan lampu merah perkotaan. Sampai akhirnya ia pun bertemu dengan Bos Pasal. Bos anak jalanan di kota.
"Para bocah ingusan, hidup itu susah. Kalian jangan mau mengandalkan pemerintah untuk membantu kalian yang terlantar ini. Pemerintah hanya omong kosong. Katanya di dalam undang-undang, fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Woy para bocah ingusan, jangan percaya dengan kata-kata itu. Kalian juga punya hak hidup. Hiduplah dengan cara yang kalian bisa. Yang mau nyopet, silakan nyopet! Yang mau ngamen, silakan ngamen! Yang harus kita pikirkan sekarang adalah hidup, hidup, dan hidup!"
Guceng semakin terperdaya dengan pidato itu yang ia dengar pertama kali di sebuah markas yang cukup besar, namun tertutup. Dan kini tempat itulah yang menjadi tempat tinggalnya hingga sekarang ini.
"Bos Pasal. Pantas saja ia itu di panggil Bos Pasal," gumam Guceng.
Kini Guceng sudah lupa dengan segala perkataan ayahnya. Jangan merampok. Itu haram. Dan kata ibu gurunya juga. Jangan merampok. Haram. Tetapi keadaan berpaling. Yang ada dalam pikirannya sekarang adalah bertahan hidup.
Hukum hak asasi manusia itu rupanya kini sudah sangat melekat pada dirinya. Apalagi dengan doktrin dari Bos Pasal itu. Di kepala Guceng, yang terpikirkan adalah hak asasi manusia, hak asasi manusia, dan hak asasi manusia! Tidak ada yang lain.
"Din, memang benar juga sih apa yang dikatakan Bos Pasal itu yah," ungkap Guceng pagi itu.
"Perkataan yang mana?"
"Biasa. Pasal."
"Oh, itu... tapi emang kenyataannya begitu kan Ceng. Bukannya kita ini memang jarang atau bahkan sama sekali tidak di perhatikan sama pemerintah. Malah kadang diusir dengan semena-mena, bahkan dipukuli hingga tewas. Tahu sendirikan seminggu yang lalu dan yang dulu-dulu juga, teman kita banyak yang mati gara-gara diringkus oleh aparat. Mereka tidak diamankan tetapi malah disiksa. Negara macam apa seperti ini Ceng..."
"Ah omongan loe kayak kritikus saja,"
"Kan gue ngomong begini diajarin sama Bos Pasal,"
"Hidup ini memang edan yah Din,"
"Sudahlah, lakukan saja apa yang menjadi hak kita,"
"Hak apa?"
"Hak hiduplah Din!"
"Ah, loe ini plan-plan amat belakangan ini..."
"Tak tahulah."
"Ceng, udah agak siang nih. Udah rame. Ayo beraksi! Hak asasi manusia Boy!"
Hari itu, seperti biasa mereka beroperasi di pasar-pasar atau tempat swalayan yang ramai dikunjungi orang. Mereka menyelip-nyelip di kerumunan orang. Sekali ibu-ibu lengah. Jambret. Tukang dagang baso lengah. Sikat. Tukang dagang sendal kencing. Pancing. Semua yang lengah-lengah pasti tak ubahnya jadi sasaran. Sudah banyak benda-benda dan barang berharga yang dirampasnya dalam jangka waktu lima jam. Semua benda dan barang-barang itu mereka masukkan ke kantong celana atau ke ransel mereka.
"Hah, sepertinya kita sudah dapat cukup banyak Din," ujar Guceng.
Polisii... Polisii... Polisi...
Tiba-tiba saja ada teriakan dari arah samping kiri di perempatan pasar itu. Semua yang merasa anak jalanan dan orang jompo peminta-minta lari terbirit-birit. Hal ini memang sudah biasa terjadi pada mereka. Guceng dan Udin dengan gesitnya berlari ke tempat-tempat yang susah dijangkau oleh polisi. Sedangkan orang-orang jompo itu pastilah selalu tertangkap. Wajar saja, mereka tidak kuat lari. Apalagi polisi pemburu anak-anak jalanan itu dikerahkan lumayan banyak.
"Hei, jangan lari kalian!" salah satu aparat polisi menemukan mereka yang sedang duduk istirahat sambil minum di tempat sempit dan agak kumuh. Guceng dan Udin pun seketika kaget dan langsung bangun sambil melempar botol aqua yang mereka pegang ke arah aparat polisi itu.
Mereka terus berlari. Berlari dengan kencang. Sampai akhirnya Guceng dan Udin pun berhasil lagi melompati pagar besi pembatas pasar ikan yang biasa mereka lewati itu. Seperti biasa, tidak lupa mereka menjulurkan lidahnya ke aparat polisi itu.
"Dasar kalian bocah tengik!"
13 Juni 2011
Biodata Penulis:
Aray Rayza Alisjahbana. Lahir di Serang, 20 September 1990. Mahasiswa Diksatrasia Untirta. Karyanya berupa puisi, cerpen, dan resensi pernah dimuat di Fajar Banten (Sekarang Kabar Banten) dan Radar Banten. Bergiat di Kubah Budaya dan Belistra Untirta. Sekarang menetap di Pontang bersama orangtuanya.
Tentang V.F.O
V.F.O
aku kira kau tak detak
dengan jarum jam yang berputar
dengan udara yang masuk ke paruparumu
kau suruh aku membaca segala isyarat matamu
segala gerak cuaca dan rintik hujan
bukankan sebelum hujan ada mendung?
ada petir?
mungkin waktu bagimu adalah pengorbanan
dan aku, harus melakukan
V.F.O
aku bukan tuhan
bukan malaikat
bukan setan
bukan dukun
aku manusia yang tak tahu dengan
tulang punggungku sendiri
Pontang, 2—5 Juni 2011
aku kira kau tak detak
dengan jarum jam yang berputar
dengan udara yang masuk ke paruparumu
kau suruh aku membaca segala isyarat matamu
segala gerak cuaca dan rintik hujan
bukankan sebelum hujan ada mendung?
ada petir?
mungkin waktu bagimu adalah pengorbanan
dan aku, harus melakukan
V.F.O
aku bukan tuhan
bukan malaikat
bukan setan
bukan dukun
aku manusia yang tak tahu dengan
tulang punggungku sendiri
Pontang, 2—5 Juni 2011
Rabu, 18 Mei 2011
Hidupku sebagai Manusia
Hidupku sebagai Manusia I
: mewakili sebagian orang
Harus berapa kali aku berkata kepada tuhan
Bahwa aku sudah bosan dengan alur kehidupan ini
Tak ada yang beda
Hidup kadangkala absurd, tak masuk akal
Kapan hidup ini seperti orang gila,
Tapi gila yang tak gila!
Kampret!
Mei, 2011
Hidupku sebagai Manusia II
semenjak sebagian otakku hilang di masjid
hidup kadangkala seperti seorang gadis kecil
yang kehilangan orang tuanya di stasiun kereta api
“mana bapakku…?!”
“mana ibuku…?!”
Lantas ia tersesat
Mei, 2011
: mewakili sebagian orang
Harus berapa kali aku berkata kepada tuhan
Bahwa aku sudah bosan dengan alur kehidupan ini
Tak ada yang beda
Hidup kadangkala absurd, tak masuk akal
Kapan hidup ini seperti orang gila,
Tapi gila yang tak gila!
Kampret!
Mei, 2011
Hidupku sebagai Manusia II
semenjak sebagian otakku hilang di masjid
hidup kadangkala seperti seorang gadis kecil
yang kehilangan orang tuanya di stasiun kereta api
“mana bapakku…?!”
“mana ibuku…?!”
Lantas ia tersesat
Mei, 2011
Sabtu, 07 Mei 2011
UDIN (Si Penjual Jengkol)
Cerpen: Aray Rayza Alisjahbana
Meskipun masih pagi, namun terik matahari begitu menyengat di tubuh Udin. Seperti biasa setiap pagi ia membawa dagangannya itu dengan sebuah gerobak yang sudah agak reyot. Ya, seperti gerobak yang dibawa oleh para pedagang-pedagang sayur keliling. Persis seperti itu. Dan yang harus kamu tahu, setiap kali gerobak Udin itu melewati orang-orang di sekitarnya, bagi yang tidak biasa mencium baunya maka siap-siap saja untuk menutup hidung. Karena bisa menyebarkan aroma yang kurang menyegarkan.
Semenjak tiga hari belakangan ini, dagangannya memang sedang sedikit pembeli. Ya, mau bagaimana lagi, orang-orang tidak mungkin membeli dagangannya itu setiap hari. Bisa-bisa toilet menjadi seperti semur jengkol. Ya, mungkin. Nyatanya Udin memang seorang pedagang jengkol.
Ini adalah warisan turun-temurun dari kakeknya. Ayahnya, sembilan tahun lalu meninggal akibat kecelakaan—tertabrak mobil saat mendorong gerobak ke pasar— dan kini Udinlah yang menggantikan posisi ayahnya sekaligus menjadi ujung tombak keluarganya. Adik-adiknya yang masih sekolah dasar dan sekolah menengah sangat membutuhkan bantuannya. Ibunya, hanyalah seorang tukang cuci baju di kampungnya. Memang lumayan berat bagi Udin berjualan seperti ini. Dia meninggalkan sekolah menengahnya gara-gara ini. Padahal waktu itu ia sebentar lagi akan ujian akhir sekolah. Harapannya pupus seketika. Kini cita-citanya untuk sekolah ke yang lebih tinggi hanya menjadi khayalan saja dalam hidupnya.
Udin istirahat sebentar di sebuah warung kecil. Baru saja tiga puluh menit ia melangkahkan kakinya dari rumah, tapi ia sudah terlihat lelah. Ya, tubuhnya yang kurus itu memang terlalu memaksakan. Wajahnya sudah agak lusuh. Tapi secara fisik, ia terimbangi dengan postur tubuhnya yang tinggi dan berhidung mancung, sehingga membuatnya tidak terlalu seperti orang kampungan. Hehe...
Tiga puluh menit kemudian, akhirnya Udin pun sampai ditempat ia berjualan. Di Pasar Rau. Pasar yang fenomenal di Kabupaten Serang. Pasar yang kecil, sumpek, agak kumuh. Sampah berserakan di mana-mana. Tapi anehnya banyak sebagian orang kantoran bahkan para pejabat yang membeli barang-barang ditempat itu. Malah tempat itu menjadi pusat penjualan toko-toko emas di wilayah Serang. Udin hanya menggeleng-geleng kepala saja jika ia mencoba membandingkan antara emas-emas itu dengan jengkol-jengkol dagangannya.
“Andai saja jengkol-jengkol ini adalah emas,” ujarnya dengan wajah yang agak memelas. Jengkol-jengkol itu di koyak-koyaknya seperti beras.
“Tolong...! toloong...! copeeet...!” Tiba-tiba saja terdengar teriakan seorang wanita dari arah belakang Udin.
“Mas, copet Mas...!” wanita itu menepuk bahu Udin saat ia melintas ke arahnya. Udin pun langsung ikut mengejar copet itu bersama warga pasar. Dagangannya ia tinggalkan.
Beberapa saat kemudian.
“Ini Mbak, dompet dan kalung Mbak,” Udin menyerahkan barang-barang itu setelah pencopet itu benar-benar sudah tidak berdaya di keroyok warga pasar.
“Coba dilihat lagi Mbak, takut ada yang kurang,” ujarnya lagi. Wanita itu mengecek kembali isi dompetnya.
“Lengkap kok Mas. Makasih yah Mas. Ini buat Mas!” Wanita itu menyodorkan dua lembar uang ratusan ribu pada Udin.
“Waduh Mbak, nggak usah repot-repot. Biar Tuhan yang membalas semua ini.” Lalu wanita itu pun memasukkan kembali uangnya dalam dompet.
“Sekali lagi makasih yah Mas.” Ujar wanita itu, lalu ia pun menghilang dari wajah pasar setelah ia menaiki mobil Honda Jazz-nya.
Tiba-tiba seraut wajah Udin sontak kaget ketika ia melihat dagangannya berserakan. Jengkol-jengkolnya bececeran di tanah.
“Sana kamu pergi! Dasar orang gila!” sentaknya, orang gila setengah telanjang itu pun kabur terbirit- birit.
“Ya Tuhan kenapa jadi seperti ini” ujarnya sambil memunguti jengkolnya itu di tanah yang basah.
***
Di meja ruang tengah—ruang tivi— itu berserakan beberapa bungkus makanan. Ada dua bungkus kacang Garuda yang bungkus atasnya tersobek setengah. Salah satu isi bungkus kacang itu hampir habis. Sedang isi bungkus yang satunya lagi tinggal setengah. Sisa-sisa kulit kacang itu dibuang disisi kiri bungkusnya. Sedangkan makanan yang lain—chitato, cokelat, pilus, dll.— masih utuh disimpan dalam plastik putih bermerek Indomaret di bawah meja.
Di sofa, Iza sedang membaca sebuah majalah Gadis edisi Desember. Ia tiduran terbaring sambil kedua kakinya disilangkan. Rambut Iza yang panjang itu sebagian menyentuh paha Ibunya yang duduk di sofa samping kirinya. Ibunya memandangnya dengan penuh tanda tanya.
“Kapan kamu menikah Za?” Tanya ibunya tiba-tiba malam itu sambil memegang remot tivi.
“Gak tahu mah, belum ketemu cowok yang cocok buat Iza. Semua yang pernah dekat sama Iza sama saja, penjahat.”
“Kenapa nggak berusaha mencari lagi?”
“Ah, biar sajalah Mah, nanti juga ketemu sendiri.”
“Za, Mama malu dengan ejekan teman-teman arisan mama. Sebagian dari mereka ada yang punya anak seusia kamu. Anak-anak mereka sudah menikah dan sudah punya momongan. Kata salah satu dari mereka, kok belum punya cucu juga sih Jeng? Kapan anakmu menikah? Mama kan jadi malu. Mau disimpan di mana muka mama kalau kamu terus-terusan begini.”
“Terus?” Tanya Iza sambil menoleh ke mamanya.
“Ya kamu harus ¬cepat-cepat menikah.”
“Huh, Nyebeliin...!” Iza membanting majalahnya ke meja. Sisa-sisa kulit kacang berserakan dan bungkusnya jatuh ke lantai. Ia pergi menuju kamar.
Ya, memang sedari dulu mamanya menginginkan anak semata wayangnya itu untuk segera menikah. Mungkin sejak ia lulus dari Sekolah Menengah Atas. Tapi Iza menolak permintaan mamanya itu mentah-mentah. Memang, setelah kepergian sang kekasihnya itu dari hidupnya, Iza menjadi sensitif seperti ini. Kini Iza tengah berkuliah di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Kota Serang. Saat ini Ia sudah memasuki semester lima. Ya, lumayan dengan seusianya yang sudah menginjak dua puluh satu-an itu, mungkin sudah layak untuk menikah. Tapi menurutnya untuk persoalan yang satu ini tunggu dulu. Menunggu waktu yang tepat.
Iza masih mengurung diri di kamarnya. Ibunya yang sudah tiga, empat kali mengetuk-ngetuk pintu kamarnya, tidak dihiraukannya. Di kamar, Iza menindih wajahnya dengan bantal. Sampai akhirnya ia pun tertidur pulas dengan air matanya yang menempel basah di bantal itu.
***
Usai kuliah Iza kembali menuju ke pasar Rau. Seperti biasa ia ingin membeli pulsa ke tempat langganannya itu. Kini Ia bersama Ani, teman sekelasnya.
“Tahu nggak An, kemarin aku sempat kecopetan di tempat ini. Untung copet itu tertangkap. Coba kalau nggak, bisa-bisa aku digampar sama mamah, karena kalung dan isi dompetku raib oleh pencopet itu.”
“Terus siapa yang nolongin kamu Za?”
“Abang tukang jengkol.”
“Tukang Jengkol?” Ani mengerutkan kening saat mendengar jawaban Iza.
“Eh... eh... An... An... itu dia orangnya. Iya, itu Abang jengkol yang nolongin aku waktu itu.” Ujar Iza tiba-tiba sambil menujuknya, lalu ia membelokkan setir mobilnya ke arah parkiran. Ani menoleh-noleh ke kaca belakang mobil, saat mobil yang ditumpanginya itu melewati dagangan si abang tukang jengkol.
Iza dan Ani berjalan menghampiri Udin. Mereka berdua berjalan agak cepat. Udin yang sedari pagi menunggu dagangannya itu sedang asik merokok di warung sebelah dagangannya. Dengan mengenakan topinya yang bulat itu, ia terlihat seperti orang yang hendak mau mancing saja. Ia memiringkan topinya ke sebelah kiri sambil mengangkat kaki kanannya di atas paha kirinya.
Seketika mata Udin menatap tajam dua perempuan yang hendak mau menghampirinya itu. Salah satu dari mereka sepertinya tidak begitu asing di matanya. Iza dan temannya yang menghampirinya itu mengenakan baju agak ketat, mencairkan suasana abang-abang tukang becak yang mangkal disitu. Abang-abang becak saling berbisik.
“Melihat dua gadis itu, saya pengen cepet-cepet pulang ke rumah nih.”
“Dasar keong racun.”
“hahaha...”
Iza dan Ani pun semakin dekat menghampiri Udin. Udin membuang puntung rokoknya. Udin pun berdiri.
“Mbak? Mbak yang waktu itu kecopetan di sini itu yah?”
“Masih inget Bang?”
“Ya masih dong Mbak. Masa perempuan secantik Mbak saya lupa.”
“Ah, Abang bisa aja. Oh iya, kenalin bang ini teman saya. Ani.”
Akhirnya di warung itu, mereka pun duduk dan bercakap-cakap sambil menyeruput teh manis dan sepiring roti. Iza dan Ani bertanya-tanya tentang kehidupan Udin. Sesekali percakapan mereka pun terselingi oleh beberapa orang yang membeli dagangan Jengkol Udin. Iza dan Ani begitu terharu mendengar semua kisah Udin. Dari kehidupan keluarganya, kepribadiannya, hingga cita-citanya yang putus di ambang pintu itu.
“Yang sabar yah Bang, semuanya sudah digariskan oleh Tuhan.” Ujar Ani sambil memoleskan tisu dipipinya.
Usai percakapan itu akhirnya mereka berpisah. Iza lupa dengan dirinya yang ingin membeli pulsa. Emosinya terbawa oleh kisah Udin tadi. Iza dan Ani pun melangkahkan kakinya menuju mobil. Namun ketika hendak mau membuka pintu mobil tiba-tiba Iza balik arah lalu menghampiri Udin kembali.
“Bang, dagangannya saya beli semuanya yah?!”
“Emang buat apa Mbak?” Tanya Udin agak bengong.
“Buat tetangga saya yang mau nikahan Bang.”
Udin tidak mampu menolaknya. Wajahnya begitu sumringah. Baginya, mungkin hari itu adalah rezeki yang sudah diberikan oleh Tuhan padanya. Udin membungkus jengkol-jengkolnya itu dalam karung, lalu membawakannya ke bagasi belakang mobil Iza.
“Terimakasih yah Mbak.” Ujar Udin sambil menganggukkan kepalanya di sisi kanan pintu mobil Iza. Iza membuka kaca mobilnya perlahan dan menjawabnya dengan anggukan kepala juga. Lalu Iza pun menancapkan gas mobilnya.
“Katanya mau beli pulsa, kok malah beli jengkol? Aneh. Emang siapa tetangga kamu yang mau nikahan?” tanya Ani dua menit kemudian.
“Nggak tahu, tetangga yang mana kali. Hehe... aku hanya kasian saja dengan Bang Udin dan keluarganya, itu saja.”
“Oh.” Ani menangguk pelan, kemudian memalingkan wajahnya ke arah kiri, menatap matahari senja yang akan segera tenggelam.
***
Di kamarnya, entah mengapa bayangan Udin masih begitu terngiang di pikirannya. Semenjak percakapan sore itu, sikap Iza memang agak sedikit aneh. Seraut wajahnya sepertinya begitu menyimpan beribu empati pada sosok Udin itu. Entah apa yang membuatnya seperti ini.
“Bang Udin, aku begitu terharu dengan semangat Abang. Dengan perjuangan Abang dalam menafkahi diri Abang dan keluarga Abang. Tidak semua laki-laki yang seumuran Abang bisa berpikir sejauh ini. Kebanyakan lelaki hanya ingin mendapatkan kesenangan saja. Tapi Abang, begitu berbeda. Bang Udin? Kok tiba-tiba kamu mengingatkanku dengan wajah seseorang yang pernah aku kenal. Ya, Dion namanya. Tapi lelaki itu sudah tiada dua tahu silam. Aku sangat merindukannya. Dan kini aku menemukannya kembali pada seraut wajah dan hatimu Bang Udin.”
“Izaa...! Apa-apaan ini! Kok bagasi mobil jadi bau begini.” Tiba-tiba teriak mamanya dari luar rumah. Iza pun langsung keluar dari dalam kamar.
“Iya mah, kenapa?”
“Apa ini?” sambil menutup hidungnya.
“Itu jengkol Mah”
“Jengkol? Buat apa?”
“Ya, buat apa aja. Kasih kucing juga nggak apa-apa.”
“Ah, kamu ini ada-ada saja! Bejoo... tolong buang sampah-sampah ini dari mobil!” Tak lama kemudian, sesosok pembantu culun itu pun keluar dari dalam rumah.
“Kok dibuang sih mah?”
“Udah, diam kamu!” bentak ibunya. Iza agak cemberut, lalu ia pun kembali masuk ke kamar.
***
Sebulan ini Iza merasa ada sesuatu yang aneh dengan dirinya. Semenjak kenal dengan Udin, Iza benar-benar tidak mampu melupakan bayangannya. Apalagi belakangan ini Iza selalu main ditempat Udin usai jam kuliahnya.
Mereka sudah semakin akrab saja. Kadang sesekali Iza mencubit pipi Udin. Mereka lupa dengan status mereka masing-masing. Udin, lupa dengan statusnya sebagai penjual jengkol. Iza pun sama, lupa dengan statusnya sebagai anak seorang penjual emas.
“Abang, Mas, aduh enaknya panggil apa yah?”
“Abang saja.”
“Oh iya Bang, saya boleh nanya nggak?”
“Nanya apa?”
“Bang, selama ini perasaan abang bagaimana sih sama Iza?
“Perasaan apa yah Mbak? Saya tidak mengerti.”
“Ya perasaan abang sama Iza. Bang, Iza suka sama abang.”
“Apa? Suka? Ah, Mbak ada-ada saja. Masa Mbak secantik ini suka sama orang seperti saya. Sudah bau jengkol pula.”
“Panggil saya Iza saja yah Bang.”
Percakapan sore itu akhirnya membuahkan hasil.
Esok hari, Iza mempekenalkan Udin pada mamanya. Ia sudah tidak tahan dengan ocehan mamanya itu, agar ia cepat menikah.
“Mah, kenalin, ini Udin. Pacar saya. Sekaligus calon menantu mama. ” Ujar Iza memperkenalkan Udin di sofa ruang tamu. Mamanya sedari tadi memerhatikan seraut wajah Udin dan pakaiannya. Dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Udin? Calon menantu?” Tanya mamanya.
“Iya mah calon menantu mama.”
“Ya, Tuhan akhirnya Engkau mengabulkan juga doa saya. Akhirnya anak saya menikah juga.” Seketika seraut wajah mamanya sumringah.
“Udin, kamu kerja apa?” Tanya mama Iza kemudian.
“Pedagang Jengkol Bu.” Jawab Udin dengan suara melemah sambil menundukkan kepala.
“Apa? Pedagang Jengkol? Jangan jangan yang kemarin itu jengkol dari kamu yah?!” tiba-tiba wajah sumringat itu berubah seketika.
“Iya mah, itu dari dia.”
“Apa?! Sekarang juga kamu keluar! Keluar dari rumah saya! Saya tidak mau rumah saya bau jengkol! Saya tidak suka denga jengkol!” tiba-tiba mamanya Iza berubah seperti harimau, ganas dan liar. Ia berdiri sambil menunjuk-nunjuk wajah Udin. Udin hanya menunduk malu. Lalu Ia pun pergi.
“Mamah apa-apa sih!” Iza keluar menyusul Udin.
“Bang, tunggu Bang! Mau kemana? Maafin mama saya Bang.” Tapi langkah Iza dihalang oleh Bejo.
“Tahan dia, bawa ke kamar!” suruh mamanya pada Bejo.
Seraut wajah pedagang jengkol itu pun hilang dari tatapan mama Iza di sisi pintu.
“Jangan pernah kembali lagi ke sini!” Ujarnya.
***
Seusia kuliah seperti biasa Iza menghampiri Udin. Ia meminta maaf atas segala perlakuan mamanya itu kemarin.
“Iya, tidak apa-apa kok Mbak.”
“Tapi Bang, saya mau hidup sama abang. Saya nggak mau pulang. Izinkan saya tinggal bersama abang.”
“Tinggal sama saya Mbak? Aduh, nanti mamanya situ nyariin lagi. Kasihan Mbak.”
“Abang nggak kasihan sama saya?!” Iza sedikit mengambek.
Akhirnya Iza pun di bawa pulang ke rumah Udin. Udin tidak bisa berbuat apa-apa lagi, walaupun dalam hatinya ia tidak mau melakukan ini.
Sudah dua hari Iza bermalam di rumah Udin. Ia senang dengan adik-adik Udin yang kecil dan lucu. Iza memang tidak punya adik. Kadang ia sangat merasa kesepian di rumahnya. Apalagi sepeninggal ayahnya dua tahun lalu karena strok. Dirumahnya ia hanya ditemani sepasang boneka donal bebek berwarna pink.
“Non, orang tua Non pasti khawatir dengan keadaan Non.” Ujar Ibunya Udin.
“Biarin saja Bu. Mama tidak pernah mengerti dengan keinginan anaknya.”
“Lama-lama di sini nanti badan Non semakin bau jengkol lagi.”
“Nggak apa-apa kok Bu. Saya senang di sini, rame.” Ujarnya sambil bermain dengan adiknya Udin yang bungsu.
“Oh iya, bang Udin kemana kok ngak kelihatan?”
“Lagi di kebun pak Hasyim. Ia memotong rumput di situ.”
“Emang nggak jualan jengkol yah Bu?”
“Katanya, dia tidak mau, takut nantinya Non ketahuan ada di sini.”
“Aduh, jadi nggak enak.”
“Sudah Non, enggak apa-apa.”
Di rumah reyot itu mereka lama berbincang. Sebenarnya Iza merasa tidak enak jika harus berlama-lama di tempat Udin. Tapi, ia juga bingung. Ia sudah terlena pada Udin. Entah apa yang membuatnya nekad begini. Kasihan kah? Karena Udin mirip kekasihnya kah? Atau karena mamanya? Hanya hati Iza yang benar-benar tahu perasaan itu.
“Izaa... Izaa...! Keluar kamu!” tiba-tiba terdengar suara dari luar rumah. Iza yang masih berbincang dengan ibu Udin seketika berhenti.
“Sepertinya saya kenal suara itu.” ujar Iza.
“Izaa... Izaaa...!” suara itu semakin mengeras dari luar. Seisi rumah itu pun keluar semua menghampiri suara itu.
“Mama? Kok bisa kesini?” Iza tidak percaya setengah mati kalau mamanya tu ada di depan matanya. Ia mengusap-usap kembali matanya. “Iya, ini bener-bener Mamah?” Lalu ia pun menelan ludah dalam-dalam.
“Kenapa? Kamu nggak percaya kalau mamah bisa kesini? Hah!” kedua tangannya diletakkan di sisi pingganynya.”Bejoo... bawa pulang anak ini!” suruh mamanya Iza.
Ibunya Udin hanya bisa melongo, tidak bisa berbuat apa-apa.
“Eh, Bu mana anak kamu si Udin itu? Seenaknya saja bawa anak saya kabur! Malah di rumah jelek kayak gini lagi.” Ejek mamanya Iza. “Bisa-bisa saya lapor polisi!” ujarnya lagi.
“Eh.. eh.. ada apa ini? Rame bener?” tiba-tiba Udin datang sambil membawa sebuah golok tajam. “Ibu? Kok bisa kesini?” ujarnya lagi, Udin agak terkaget.
“Wah kamu sudah ngajak berantem yah, sudah bawa golok begitu? Ok! Bejoo... cepat lapor polisi! Bilang kalau anak jengkol ini telah menculik anak saya...!” Cepetan...!” Bejo pun pergi dengan sebuah mobil hitamnya.
“Bu, saya tidak berniat begini sama anak ibu...”
“Sudah! Sudah! Jangan banyak bicara! Orang sudah jelas begini.”
“Mah, saya yang minta tinggal sama dia, bang Udin tidak salah.” Ujar Iza sambil di pegang dua bodigar mamanya yang gemuk-gemuk.
“Sudah! Diam kamu! Pokoknya mama nggak setuju kalau kamu harus kawin sama dia.”
“Bukannya mamah sendiri yang ingin Iza cepat menikah?”
“Ya. Tapi bukan sama orang seperti ini. Kayak nggak ada orang yang lebih kaya dan lebih ganteng saja!” Iza pun terdiam.
Selang dua puluh menit. Polisi dan pasukannya pun datang. Iza, dan keluarga Udin tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat Udin di borgol dan di bawa ke mobil tahanan.
“Pak, saya tidak bersalah Pak, Pak!” Lirih Udin. Tapi tetap saja polisi itu tidak menghiraukannya.
Iza, Ibunya Udin beserta adik-adiknya menangis di sisi pintu. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
***
Esok hari, Iza hanya diam membisu di kamarnya. Ia masih terus menangis. Tidak kuliah. Tidak mau makan.
Biodata Penulis:
Kenalin, nama aye Aray Rayza Alisjahbana. Tapi sebenernye nama asli aye Encep Abdullah. Aye lagi demen nih nulis cerpen. Ya, semenjak SMA sih sebenarnye. Walupun karya-karya aye masih kayak ceker ayam, tapi aye tetep semangat untuk terus berkarya.
Aye mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa ato disingkatnye UNTIRTA. Tahu ndak? Itu loh yang kampusnya di samping terminal Pakupatan Kota Serang-Banten. Ya udeh pokoke itulah. He..he.. Aye Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Kunjungi blog aye yah: www.pengarangtakpernahmati.blogspot.com
E-mail: encepabdullah@rocketmail.com
FB: Aray Pujangga
Meskipun masih pagi, namun terik matahari begitu menyengat di tubuh Udin. Seperti biasa setiap pagi ia membawa dagangannya itu dengan sebuah gerobak yang sudah agak reyot. Ya, seperti gerobak yang dibawa oleh para pedagang-pedagang sayur keliling. Persis seperti itu. Dan yang harus kamu tahu, setiap kali gerobak Udin itu melewati orang-orang di sekitarnya, bagi yang tidak biasa mencium baunya maka siap-siap saja untuk menutup hidung. Karena bisa menyebarkan aroma yang kurang menyegarkan.
Semenjak tiga hari belakangan ini, dagangannya memang sedang sedikit pembeli. Ya, mau bagaimana lagi, orang-orang tidak mungkin membeli dagangannya itu setiap hari. Bisa-bisa toilet menjadi seperti semur jengkol. Ya, mungkin. Nyatanya Udin memang seorang pedagang jengkol.
Ini adalah warisan turun-temurun dari kakeknya. Ayahnya, sembilan tahun lalu meninggal akibat kecelakaan—tertabrak mobil saat mendorong gerobak ke pasar— dan kini Udinlah yang menggantikan posisi ayahnya sekaligus menjadi ujung tombak keluarganya. Adik-adiknya yang masih sekolah dasar dan sekolah menengah sangat membutuhkan bantuannya. Ibunya, hanyalah seorang tukang cuci baju di kampungnya. Memang lumayan berat bagi Udin berjualan seperti ini. Dia meninggalkan sekolah menengahnya gara-gara ini. Padahal waktu itu ia sebentar lagi akan ujian akhir sekolah. Harapannya pupus seketika. Kini cita-citanya untuk sekolah ke yang lebih tinggi hanya menjadi khayalan saja dalam hidupnya.
Udin istirahat sebentar di sebuah warung kecil. Baru saja tiga puluh menit ia melangkahkan kakinya dari rumah, tapi ia sudah terlihat lelah. Ya, tubuhnya yang kurus itu memang terlalu memaksakan. Wajahnya sudah agak lusuh. Tapi secara fisik, ia terimbangi dengan postur tubuhnya yang tinggi dan berhidung mancung, sehingga membuatnya tidak terlalu seperti orang kampungan. Hehe...
Tiga puluh menit kemudian, akhirnya Udin pun sampai ditempat ia berjualan. Di Pasar Rau. Pasar yang fenomenal di Kabupaten Serang. Pasar yang kecil, sumpek, agak kumuh. Sampah berserakan di mana-mana. Tapi anehnya banyak sebagian orang kantoran bahkan para pejabat yang membeli barang-barang ditempat itu. Malah tempat itu menjadi pusat penjualan toko-toko emas di wilayah Serang. Udin hanya menggeleng-geleng kepala saja jika ia mencoba membandingkan antara emas-emas itu dengan jengkol-jengkol dagangannya.
“Andai saja jengkol-jengkol ini adalah emas,” ujarnya dengan wajah yang agak memelas. Jengkol-jengkol itu di koyak-koyaknya seperti beras.
“Tolong...! toloong...! copeeet...!” Tiba-tiba saja terdengar teriakan seorang wanita dari arah belakang Udin.
“Mas, copet Mas...!” wanita itu menepuk bahu Udin saat ia melintas ke arahnya. Udin pun langsung ikut mengejar copet itu bersama warga pasar. Dagangannya ia tinggalkan.
Beberapa saat kemudian.
“Ini Mbak, dompet dan kalung Mbak,” Udin menyerahkan barang-barang itu setelah pencopet itu benar-benar sudah tidak berdaya di keroyok warga pasar.
“Coba dilihat lagi Mbak, takut ada yang kurang,” ujarnya lagi. Wanita itu mengecek kembali isi dompetnya.
“Lengkap kok Mas. Makasih yah Mas. Ini buat Mas!” Wanita itu menyodorkan dua lembar uang ratusan ribu pada Udin.
“Waduh Mbak, nggak usah repot-repot. Biar Tuhan yang membalas semua ini.” Lalu wanita itu pun memasukkan kembali uangnya dalam dompet.
“Sekali lagi makasih yah Mas.” Ujar wanita itu, lalu ia pun menghilang dari wajah pasar setelah ia menaiki mobil Honda Jazz-nya.
Tiba-tiba seraut wajah Udin sontak kaget ketika ia melihat dagangannya berserakan. Jengkol-jengkolnya bececeran di tanah.
“Sana kamu pergi! Dasar orang gila!” sentaknya, orang gila setengah telanjang itu pun kabur terbirit- birit.
“Ya Tuhan kenapa jadi seperti ini” ujarnya sambil memunguti jengkolnya itu di tanah yang basah.
***
Di meja ruang tengah—ruang tivi— itu berserakan beberapa bungkus makanan. Ada dua bungkus kacang Garuda yang bungkus atasnya tersobek setengah. Salah satu isi bungkus kacang itu hampir habis. Sedang isi bungkus yang satunya lagi tinggal setengah. Sisa-sisa kulit kacang itu dibuang disisi kiri bungkusnya. Sedangkan makanan yang lain—chitato, cokelat, pilus, dll.— masih utuh disimpan dalam plastik putih bermerek Indomaret di bawah meja.
Di sofa, Iza sedang membaca sebuah majalah Gadis edisi Desember. Ia tiduran terbaring sambil kedua kakinya disilangkan. Rambut Iza yang panjang itu sebagian menyentuh paha Ibunya yang duduk di sofa samping kirinya. Ibunya memandangnya dengan penuh tanda tanya.
“Kapan kamu menikah Za?” Tanya ibunya tiba-tiba malam itu sambil memegang remot tivi.
“Gak tahu mah, belum ketemu cowok yang cocok buat Iza. Semua yang pernah dekat sama Iza sama saja, penjahat.”
“Kenapa nggak berusaha mencari lagi?”
“Ah, biar sajalah Mah, nanti juga ketemu sendiri.”
“Za, Mama malu dengan ejekan teman-teman arisan mama. Sebagian dari mereka ada yang punya anak seusia kamu. Anak-anak mereka sudah menikah dan sudah punya momongan. Kata salah satu dari mereka, kok belum punya cucu juga sih Jeng? Kapan anakmu menikah? Mama kan jadi malu. Mau disimpan di mana muka mama kalau kamu terus-terusan begini.”
“Terus?” Tanya Iza sambil menoleh ke mamanya.
“Ya kamu harus ¬cepat-cepat menikah.”
“Huh, Nyebeliin...!” Iza membanting majalahnya ke meja. Sisa-sisa kulit kacang berserakan dan bungkusnya jatuh ke lantai. Ia pergi menuju kamar.
Ya, memang sedari dulu mamanya menginginkan anak semata wayangnya itu untuk segera menikah. Mungkin sejak ia lulus dari Sekolah Menengah Atas. Tapi Iza menolak permintaan mamanya itu mentah-mentah. Memang, setelah kepergian sang kekasihnya itu dari hidupnya, Iza menjadi sensitif seperti ini. Kini Iza tengah berkuliah di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Kota Serang. Saat ini Ia sudah memasuki semester lima. Ya, lumayan dengan seusianya yang sudah menginjak dua puluh satu-an itu, mungkin sudah layak untuk menikah. Tapi menurutnya untuk persoalan yang satu ini tunggu dulu. Menunggu waktu yang tepat.
Iza masih mengurung diri di kamarnya. Ibunya yang sudah tiga, empat kali mengetuk-ngetuk pintu kamarnya, tidak dihiraukannya. Di kamar, Iza menindih wajahnya dengan bantal. Sampai akhirnya ia pun tertidur pulas dengan air matanya yang menempel basah di bantal itu.
***
Usai kuliah Iza kembali menuju ke pasar Rau. Seperti biasa ia ingin membeli pulsa ke tempat langganannya itu. Kini Ia bersama Ani, teman sekelasnya.
“Tahu nggak An, kemarin aku sempat kecopetan di tempat ini. Untung copet itu tertangkap. Coba kalau nggak, bisa-bisa aku digampar sama mamah, karena kalung dan isi dompetku raib oleh pencopet itu.”
“Terus siapa yang nolongin kamu Za?”
“Abang tukang jengkol.”
“Tukang Jengkol?” Ani mengerutkan kening saat mendengar jawaban Iza.
“Eh... eh... An... An... itu dia orangnya. Iya, itu Abang jengkol yang nolongin aku waktu itu.” Ujar Iza tiba-tiba sambil menujuknya, lalu ia membelokkan setir mobilnya ke arah parkiran. Ani menoleh-noleh ke kaca belakang mobil, saat mobil yang ditumpanginya itu melewati dagangan si abang tukang jengkol.
Iza dan Ani berjalan menghampiri Udin. Mereka berdua berjalan agak cepat. Udin yang sedari pagi menunggu dagangannya itu sedang asik merokok di warung sebelah dagangannya. Dengan mengenakan topinya yang bulat itu, ia terlihat seperti orang yang hendak mau mancing saja. Ia memiringkan topinya ke sebelah kiri sambil mengangkat kaki kanannya di atas paha kirinya.
Seketika mata Udin menatap tajam dua perempuan yang hendak mau menghampirinya itu. Salah satu dari mereka sepertinya tidak begitu asing di matanya. Iza dan temannya yang menghampirinya itu mengenakan baju agak ketat, mencairkan suasana abang-abang tukang becak yang mangkal disitu. Abang-abang becak saling berbisik.
“Melihat dua gadis itu, saya pengen cepet-cepet pulang ke rumah nih.”
“Dasar keong racun.”
“hahaha...”
Iza dan Ani pun semakin dekat menghampiri Udin. Udin membuang puntung rokoknya. Udin pun berdiri.
“Mbak? Mbak yang waktu itu kecopetan di sini itu yah?”
“Masih inget Bang?”
“Ya masih dong Mbak. Masa perempuan secantik Mbak saya lupa.”
“Ah, Abang bisa aja. Oh iya, kenalin bang ini teman saya. Ani.”
Akhirnya di warung itu, mereka pun duduk dan bercakap-cakap sambil menyeruput teh manis dan sepiring roti. Iza dan Ani bertanya-tanya tentang kehidupan Udin. Sesekali percakapan mereka pun terselingi oleh beberapa orang yang membeli dagangan Jengkol Udin. Iza dan Ani begitu terharu mendengar semua kisah Udin. Dari kehidupan keluarganya, kepribadiannya, hingga cita-citanya yang putus di ambang pintu itu.
“Yang sabar yah Bang, semuanya sudah digariskan oleh Tuhan.” Ujar Ani sambil memoleskan tisu dipipinya.
Usai percakapan itu akhirnya mereka berpisah. Iza lupa dengan dirinya yang ingin membeli pulsa. Emosinya terbawa oleh kisah Udin tadi. Iza dan Ani pun melangkahkan kakinya menuju mobil. Namun ketika hendak mau membuka pintu mobil tiba-tiba Iza balik arah lalu menghampiri Udin kembali.
“Bang, dagangannya saya beli semuanya yah?!”
“Emang buat apa Mbak?” Tanya Udin agak bengong.
“Buat tetangga saya yang mau nikahan Bang.”
Udin tidak mampu menolaknya. Wajahnya begitu sumringah. Baginya, mungkin hari itu adalah rezeki yang sudah diberikan oleh Tuhan padanya. Udin membungkus jengkol-jengkolnya itu dalam karung, lalu membawakannya ke bagasi belakang mobil Iza.
“Terimakasih yah Mbak.” Ujar Udin sambil menganggukkan kepalanya di sisi kanan pintu mobil Iza. Iza membuka kaca mobilnya perlahan dan menjawabnya dengan anggukan kepala juga. Lalu Iza pun menancapkan gas mobilnya.
“Katanya mau beli pulsa, kok malah beli jengkol? Aneh. Emang siapa tetangga kamu yang mau nikahan?” tanya Ani dua menit kemudian.
“Nggak tahu, tetangga yang mana kali. Hehe... aku hanya kasian saja dengan Bang Udin dan keluarganya, itu saja.”
“Oh.” Ani menangguk pelan, kemudian memalingkan wajahnya ke arah kiri, menatap matahari senja yang akan segera tenggelam.
***
Di kamarnya, entah mengapa bayangan Udin masih begitu terngiang di pikirannya. Semenjak percakapan sore itu, sikap Iza memang agak sedikit aneh. Seraut wajahnya sepertinya begitu menyimpan beribu empati pada sosok Udin itu. Entah apa yang membuatnya seperti ini.
“Bang Udin, aku begitu terharu dengan semangat Abang. Dengan perjuangan Abang dalam menafkahi diri Abang dan keluarga Abang. Tidak semua laki-laki yang seumuran Abang bisa berpikir sejauh ini. Kebanyakan lelaki hanya ingin mendapatkan kesenangan saja. Tapi Abang, begitu berbeda. Bang Udin? Kok tiba-tiba kamu mengingatkanku dengan wajah seseorang yang pernah aku kenal. Ya, Dion namanya. Tapi lelaki itu sudah tiada dua tahu silam. Aku sangat merindukannya. Dan kini aku menemukannya kembali pada seraut wajah dan hatimu Bang Udin.”
“Izaa...! Apa-apaan ini! Kok bagasi mobil jadi bau begini.” Tiba-tiba teriak mamanya dari luar rumah. Iza pun langsung keluar dari dalam kamar.
“Iya mah, kenapa?”
“Apa ini?” sambil menutup hidungnya.
“Itu jengkol Mah”
“Jengkol? Buat apa?”
“Ya, buat apa aja. Kasih kucing juga nggak apa-apa.”
“Ah, kamu ini ada-ada saja! Bejoo... tolong buang sampah-sampah ini dari mobil!” Tak lama kemudian, sesosok pembantu culun itu pun keluar dari dalam rumah.
“Kok dibuang sih mah?”
“Udah, diam kamu!” bentak ibunya. Iza agak cemberut, lalu ia pun kembali masuk ke kamar.
***
Sebulan ini Iza merasa ada sesuatu yang aneh dengan dirinya. Semenjak kenal dengan Udin, Iza benar-benar tidak mampu melupakan bayangannya. Apalagi belakangan ini Iza selalu main ditempat Udin usai jam kuliahnya.
Mereka sudah semakin akrab saja. Kadang sesekali Iza mencubit pipi Udin. Mereka lupa dengan status mereka masing-masing. Udin, lupa dengan statusnya sebagai penjual jengkol. Iza pun sama, lupa dengan statusnya sebagai anak seorang penjual emas.
“Abang, Mas, aduh enaknya panggil apa yah?”
“Abang saja.”
“Oh iya Bang, saya boleh nanya nggak?”
“Nanya apa?”
“Bang, selama ini perasaan abang bagaimana sih sama Iza?
“Perasaan apa yah Mbak? Saya tidak mengerti.”
“Ya perasaan abang sama Iza. Bang, Iza suka sama abang.”
“Apa? Suka? Ah, Mbak ada-ada saja. Masa Mbak secantik ini suka sama orang seperti saya. Sudah bau jengkol pula.”
“Panggil saya Iza saja yah Bang.”
Percakapan sore itu akhirnya membuahkan hasil.
Esok hari, Iza mempekenalkan Udin pada mamanya. Ia sudah tidak tahan dengan ocehan mamanya itu, agar ia cepat menikah.
“Mah, kenalin, ini Udin. Pacar saya. Sekaligus calon menantu mama. ” Ujar Iza memperkenalkan Udin di sofa ruang tamu. Mamanya sedari tadi memerhatikan seraut wajah Udin dan pakaiannya. Dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Udin? Calon menantu?” Tanya mamanya.
“Iya mah calon menantu mama.”
“Ya, Tuhan akhirnya Engkau mengabulkan juga doa saya. Akhirnya anak saya menikah juga.” Seketika seraut wajah mamanya sumringah.
“Udin, kamu kerja apa?” Tanya mama Iza kemudian.
“Pedagang Jengkol Bu.” Jawab Udin dengan suara melemah sambil menundukkan kepala.
“Apa? Pedagang Jengkol? Jangan jangan yang kemarin itu jengkol dari kamu yah?!” tiba-tiba wajah sumringat itu berubah seketika.
“Iya mah, itu dari dia.”
“Apa?! Sekarang juga kamu keluar! Keluar dari rumah saya! Saya tidak mau rumah saya bau jengkol! Saya tidak suka denga jengkol!” tiba-tiba mamanya Iza berubah seperti harimau, ganas dan liar. Ia berdiri sambil menunjuk-nunjuk wajah Udin. Udin hanya menunduk malu. Lalu Ia pun pergi.
“Mamah apa-apa sih!” Iza keluar menyusul Udin.
“Bang, tunggu Bang! Mau kemana? Maafin mama saya Bang.” Tapi langkah Iza dihalang oleh Bejo.
“Tahan dia, bawa ke kamar!” suruh mamanya pada Bejo.
Seraut wajah pedagang jengkol itu pun hilang dari tatapan mama Iza di sisi pintu.
“Jangan pernah kembali lagi ke sini!” Ujarnya.
***
Seusia kuliah seperti biasa Iza menghampiri Udin. Ia meminta maaf atas segala perlakuan mamanya itu kemarin.
“Iya, tidak apa-apa kok Mbak.”
“Tapi Bang, saya mau hidup sama abang. Saya nggak mau pulang. Izinkan saya tinggal bersama abang.”
“Tinggal sama saya Mbak? Aduh, nanti mamanya situ nyariin lagi. Kasihan Mbak.”
“Abang nggak kasihan sama saya?!” Iza sedikit mengambek.
Akhirnya Iza pun di bawa pulang ke rumah Udin. Udin tidak bisa berbuat apa-apa lagi, walaupun dalam hatinya ia tidak mau melakukan ini.
Sudah dua hari Iza bermalam di rumah Udin. Ia senang dengan adik-adik Udin yang kecil dan lucu. Iza memang tidak punya adik. Kadang ia sangat merasa kesepian di rumahnya. Apalagi sepeninggal ayahnya dua tahun lalu karena strok. Dirumahnya ia hanya ditemani sepasang boneka donal bebek berwarna pink.
“Non, orang tua Non pasti khawatir dengan keadaan Non.” Ujar Ibunya Udin.
“Biarin saja Bu. Mama tidak pernah mengerti dengan keinginan anaknya.”
“Lama-lama di sini nanti badan Non semakin bau jengkol lagi.”
“Nggak apa-apa kok Bu. Saya senang di sini, rame.” Ujarnya sambil bermain dengan adiknya Udin yang bungsu.
“Oh iya, bang Udin kemana kok ngak kelihatan?”
“Lagi di kebun pak Hasyim. Ia memotong rumput di situ.”
“Emang nggak jualan jengkol yah Bu?”
“Katanya, dia tidak mau, takut nantinya Non ketahuan ada di sini.”
“Aduh, jadi nggak enak.”
“Sudah Non, enggak apa-apa.”
Di rumah reyot itu mereka lama berbincang. Sebenarnya Iza merasa tidak enak jika harus berlama-lama di tempat Udin. Tapi, ia juga bingung. Ia sudah terlena pada Udin. Entah apa yang membuatnya nekad begini. Kasihan kah? Karena Udin mirip kekasihnya kah? Atau karena mamanya? Hanya hati Iza yang benar-benar tahu perasaan itu.
“Izaa... Izaa...! Keluar kamu!” tiba-tiba terdengar suara dari luar rumah. Iza yang masih berbincang dengan ibu Udin seketika berhenti.
“Sepertinya saya kenal suara itu.” ujar Iza.
“Izaa... Izaaa...!” suara itu semakin mengeras dari luar. Seisi rumah itu pun keluar semua menghampiri suara itu.
“Mama? Kok bisa kesini?” Iza tidak percaya setengah mati kalau mamanya tu ada di depan matanya. Ia mengusap-usap kembali matanya. “Iya, ini bener-bener Mamah?” Lalu ia pun menelan ludah dalam-dalam.
“Kenapa? Kamu nggak percaya kalau mamah bisa kesini? Hah!” kedua tangannya diletakkan di sisi pingganynya.”Bejoo... bawa pulang anak ini!” suruh mamanya Iza.
Ibunya Udin hanya bisa melongo, tidak bisa berbuat apa-apa.
“Eh, Bu mana anak kamu si Udin itu? Seenaknya saja bawa anak saya kabur! Malah di rumah jelek kayak gini lagi.” Ejek mamanya Iza. “Bisa-bisa saya lapor polisi!” ujarnya lagi.
“Eh.. eh.. ada apa ini? Rame bener?” tiba-tiba Udin datang sambil membawa sebuah golok tajam. “Ibu? Kok bisa kesini?” ujarnya lagi, Udin agak terkaget.
“Wah kamu sudah ngajak berantem yah, sudah bawa golok begitu? Ok! Bejoo... cepat lapor polisi! Bilang kalau anak jengkol ini telah menculik anak saya...!” Cepetan...!” Bejo pun pergi dengan sebuah mobil hitamnya.
“Bu, saya tidak berniat begini sama anak ibu...”
“Sudah! Sudah! Jangan banyak bicara! Orang sudah jelas begini.”
“Mah, saya yang minta tinggal sama dia, bang Udin tidak salah.” Ujar Iza sambil di pegang dua bodigar mamanya yang gemuk-gemuk.
“Sudah! Diam kamu! Pokoknya mama nggak setuju kalau kamu harus kawin sama dia.”
“Bukannya mamah sendiri yang ingin Iza cepat menikah?”
“Ya. Tapi bukan sama orang seperti ini. Kayak nggak ada orang yang lebih kaya dan lebih ganteng saja!” Iza pun terdiam.
Selang dua puluh menit. Polisi dan pasukannya pun datang. Iza, dan keluarga Udin tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat Udin di borgol dan di bawa ke mobil tahanan.
“Pak, saya tidak bersalah Pak, Pak!” Lirih Udin. Tapi tetap saja polisi itu tidak menghiraukannya.
Iza, Ibunya Udin beserta adik-adiknya menangis di sisi pintu. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
***
Esok hari, Iza hanya diam membisu di kamarnya. Ia masih terus menangis. Tidak kuliah. Tidak mau makan.
Biodata Penulis:
Kenalin, nama aye Aray Rayza Alisjahbana. Tapi sebenernye nama asli aye Encep Abdullah. Aye lagi demen nih nulis cerpen. Ya, semenjak SMA sih sebenarnye. Walupun karya-karya aye masih kayak ceker ayam, tapi aye tetep semangat untuk terus berkarya.
Aye mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa ato disingkatnye UNTIRTA. Tahu ndak? Itu loh yang kampusnya di samping terminal Pakupatan Kota Serang-Banten. Ya udeh pokoke itulah. He..he.. Aye Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Kunjungi blog aye yah: www.pengarangtakpernahmati.blogspot.com
E-mail: encepabdullah@rocketmail.com
FB: Aray Pujangga
Langganan:
Postingan (Atom)