Sastra dan Kita

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Juni 2011

GUCENG

Cerpen: Aray Rayza Alisjahbana


Guceng melompat dari pagar besi pembatas pasar ikan yang lumayan tinggi itu. Ia berlari kencang sambil sesekali melengos ke belakang dan menjulurkan lidahnya ke aparat polisi yang mengejarnya.
“Dasar bocah tengik!” ujar salah satu aparat polisi sambil mengangkat pentungannya di atas kepala. Guceng tidak mengkiraukannya. Ia pun bergegas kembali ke markasnya.
“Dapat berapa?” tanya Udin sambil menghisap sebatang lisongnya.
“Lumayan buat beli rokok dan minum.”
“Coba liat…! Wah ini sih lumayan banyak. Bisa pesta kita malam ini.”
“Ya bisa sih, tapi lu jangan kasih tau bos yah kalo gue dapet segini…”
“Sip!”
Kedua bocah yang menginjak masa puber itu mengipas mukanya dengan lembaran-lembaran uang sambil bersiulan dengan wajah berseri-seri. Mereka pun adu jotos petanda itu adalah kemenangan mereka.
“Hei, apa itu di tangan kalian?” tiba tiba Bos Pasal datang dari arah pintu samping. Kedua bocah itu seketika terperangah dan langsung menyimpan uang itu di kantong belakang celananya.
“Bukan apa-apa kok Bos,” Guceng dan kawannya mengangkat kedua tangannya.
“Ah kalian!” Bos Pasal memutar badan kedua bocah itu. Uang-uang itu kelihatan dari balik kantong celana mereka berdua yang robek.
“Haha, dasar bocah! Kalian gak usah takut. Kalian tetap dapat sebagian kok. Tenang saja. Meskipun gue ini menyeramkan, tapi gue ini baik hati,” ujar Bos Pasal sambil menghitung uang yang ia ambil dari kantong kedua bocah itu.
“Ini buat lu Din! Dan ini buat lu Ceng!”
"Yah, kok cuma cepe doang sih Bos? Bos tiga kali lipat dari ini," protes Guceng dengan wajah agak ngotot.
"Anak kecil tau apa sih soal uang. Ini gue tambahin gopek. Haha…!” lantas Bos Pasal pun pergi.
"Sial, malam ini kita nggak jadi pesta!" lirih Udin.
"Iya, mentang-mentang kita ini anak asuhan dia,"
"Mau gimana lagi Ceng, kalo nggak ada dia siapa yang bakal jagain kita dan anak-anak yang lain?"
"Bener juga sih. Hm... andai saja jika kedua orang tuaku masih ada di dunia ini, pasti hidupku tidak seperti ini" Guceng duduk di kursi kayu goyang—yang biasa di pakai oleh orang-orang tua—ia menopang dagunya dengan kedua tangannya. Sambil bergoyang-goyang pikirannya entah kemana. Lambaian tangan Udin pun yang mengayun di wajahnya, tidak ia hiraukan.
***
"Bapaaak... Bapak kenapa sih nggak jadi orang kaya?" tanya Guceng dengan polosnya ditempat tidur.
"Guceeng, kerja seperti ini saja Bapak sudah bersyukur. Ya, walaupun pekerjaan bapak terkadang menantang maut di tengah laut, tapi semua ini ya Bapak lakukan untuk kamu dan ibu kamu. Setidaknya kamu bisa sekolah. Ya minimal sembilan tahun."
"Kenapa bapak nggak kayak di tipi-tipi itu, yang minta uang di bank dengan pistol..."
"Itu namanya merampok Guceng, tidak boleh,"
"Kenapa tidak boleh?"
"Itu dosa. Dilarang oleh agama dan hukum negara kita." Guceng pun terdiam.
Sesosok Guceng yang masih kecil—ya, kelas 4 SD—terkadang membuat bingung kedua orang tuanya. Pertanyaan-pertanyaan polosnya terkadang membuat kedua orangtuanya mengernyitkan dahi. Di sekolahnya pun ia bisa dibilang usil. Usil kepada gurunya dan teman-temannya. Pernah suatu kali ia bertanya begini di dalam kelas,
"Ibu, kenapa sih ibu jadi guru? Terus tangannya cuma satu lagi. Apa kalo jadi guru itu kayak gitu ya bu?"
Dalam hati, ibu guru itu tertawa geli, tetapi disisi lain ia agak terpukul juga dengan pertanyaan itu. Ibu guru bertangan satu yang mengajar PKn itu menjawab dengan rendah hati,
"Semua ini pemberian Tuhan Nak, patut disyukuri meskipun agak perih. Ya begini juga ibu masih ingin tetap hidup. Begitu pun dengan orang lain di luar sana. Entah itu dokter, insinyur, pengamen jalanan, maupun perampok, ya meskipun pekerjaan merampok itu haram. Tetapi mereka juga manusia, berhak hidup. Itulah yang namanya hak asasi manusia, seperti yang tercatat dalam Undang-Undang pasal 28A, yang berbunyi, Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup."
Guceng dan teman-temannya terdiam. Entah itu petanda mereka mengerti atau tidak dengan perkataan ibu guru mereka itu. Memang jika dipikirkan hal itu amatlah tidak dimasuk akal—bocah sekolah dasar diberi penjelasan yang lumayan berat seperti itu. Guceng dan teman-temannya masih bengong, padahal ibu guru sudah keluar dari kelas. Rupanya perkataan ibu guru itu mampu menghipnotis murid-muridnya.
"Tadi kamu mengerti?" tanya salah seorang murid ke teman sebangkunya.
"Nggak?"
"Kamu?" ke teman yang lainnya.
"Nggak juga."
"Terus kamu, tadi mengerti?"
"Nggak juga?"
"Guceng, kalo kamu?" Guceng tidak menjawab. "Hei, Guceeng!" sekali lagi.
"Yaaa... aku mengertiii...!!!" tiba-tiba ia bangkit dari tempat duduknya. Sekaligus bangkit dari khayalannya di kursi goyang orang tua itu.
"Ya, HAK ASASI MANUSIA! Itu benar! Itu benar! Jangan salahkan saya jika saya begini! Haha... HAK ASASI MANUSIA!"
Semenjak kedua orang tuanya pergi enam tahun yang lalu, hukum hak asasi manusia itu kini berlaku bagi Guceng. Kedua orangtuanya sudah dipanggil yang maha kuasa ketika mereka tengah berlayar di lautan. Mereka dihantam ombak. Dan jasad mereka tidak ditemukan. Dan sekarang jadi beginilah Guceng. Menjadi anak terlantar. Para tetangganya tidak ada yang mau mengasuh dia. Merepotkan katanya. Buat makan keluarga sendiri saja kurang. Yah, begitulah memang kehidupan dikampung Guceng yang serba hidup sendiri. Kampung yang berada di ujung tepi laut itu memanglah kebanyakan orang yang kurang berada. Sampai akhirnya Guceng minggat dari kediamannya, dan berlari menuju kota untuk mencari sesuap nasi. Mulai dari kecrak-kecrek dari tutup botol. Menyapu mobil-mobil angkot di terminal. Atau menyanyi dengan teman-temannya yang ketemu serampangan saja di perempatan lampu merah perkotaan. Sampai akhirnya ia pun bertemu dengan Bos Pasal. Bos anak jalanan di kota.
"Para bocah ingusan, hidup itu susah. Kalian jangan mau mengandalkan pemerintah untuk membantu kalian yang terlantar ini. Pemerintah hanya omong kosong. Katanya di dalam undang-undang, fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Woy para bocah ingusan, jangan percaya dengan kata-kata itu. Kalian juga punya hak hidup. Hiduplah dengan cara yang kalian bisa. Yang mau nyopet, silakan nyopet! Yang mau ngamen, silakan ngamen! Yang harus kita pikirkan sekarang adalah hidup, hidup, dan hidup!"
Guceng semakin terperdaya dengan pidato itu yang ia dengar pertama kali di sebuah markas yang cukup besar, namun tertutup. Dan kini tempat itulah yang menjadi tempat tinggalnya hingga sekarang ini.
"Bos Pasal. Pantas saja ia itu di panggil Bos Pasal," gumam Guceng.
Kini Guceng sudah lupa dengan segala perkataan ayahnya. Jangan merampok. Itu haram. Dan kata ibu gurunya juga. Jangan merampok. Haram. Tetapi keadaan berpaling. Yang ada dalam pikirannya sekarang adalah bertahan hidup.
Hukum hak asasi manusia itu rupanya kini sudah sangat melekat pada dirinya. Apalagi dengan doktrin dari Bos Pasal itu. Di kepala Guceng, yang terpikirkan adalah hak asasi manusia, hak asasi manusia, dan hak asasi manusia! Tidak ada yang lain.
"Din, memang benar juga sih apa yang dikatakan Bos Pasal itu yah," ungkap Guceng pagi itu.
"Perkataan yang mana?"
"Biasa. Pasal."
"Oh, itu... tapi emang kenyataannya begitu kan Ceng. Bukannya kita ini memang jarang atau bahkan sama sekali tidak di perhatikan sama pemerintah. Malah kadang diusir dengan semena-mena, bahkan dipukuli hingga tewas. Tahu sendirikan seminggu yang lalu dan yang dulu-dulu juga, teman kita banyak yang mati gara-gara diringkus oleh aparat. Mereka tidak diamankan tetapi malah disiksa. Negara macam apa seperti ini Ceng..."
"Ah omongan loe kayak kritikus saja,"
"Kan gue ngomong begini diajarin sama Bos Pasal,"
"Hidup ini memang edan yah Din,"
"Sudahlah, lakukan saja apa yang menjadi hak kita,"
"Hak apa?"
"Hak hiduplah Din!"
"Ah, loe ini plan-plan amat belakangan ini..."
"Tak tahulah."
"Ceng, udah agak siang nih. Udah rame. Ayo beraksi! Hak asasi manusia Boy!"
Hari itu, seperti biasa mereka beroperasi di pasar-pasar atau tempat swalayan yang ramai dikunjungi orang. Mereka menyelip-nyelip di kerumunan orang. Sekali ibu-ibu lengah. Jambret. Tukang dagang baso lengah. Sikat. Tukang dagang sendal kencing. Pancing. Semua yang lengah-lengah pasti tak ubahnya jadi sasaran. Sudah banyak benda-benda dan barang berharga yang dirampasnya dalam jangka waktu lima jam. Semua benda dan barang-barang itu mereka masukkan ke kantong celana atau ke ransel mereka.
"Hah, sepertinya kita sudah dapat cukup banyak Din," ujar Guceng.
Polisii... Polisii... Polisi...
Tiba-tiba saja ada teriakan dari arah samping kiri di perempatan pasar itu. Semua yang merasa anak jalanan dan orang jompo peminta-minta lari terbirit-birit. Hal ini memang sudah biasa terjadi pada mereka. Guceng dan Udin dengan gesitnya berlari ke tempat-tempat yang susah dijangkau oleh polisi. Sedangkan orang-orang jompo itu pastilah selalu tertangkap. Wajar saja, mereka tidak kuat lari. Apalagi polisi pemburu anak-anak jalanan itu dikerahkan lumayan banyak.
"Hei, jangan lari kalian!" salah satu aparat polisi menemukan mereka yang sedang duduk istirahat sambil minum di tempat sempit dan agak kumuh. Guceng dan Udin pun seketika kaget dan langsung bangun sambil melempar botol aqua yang mereka pegang ke arah aparat polisi itu.
Mereka terus berlari. Berlari dengan kencang. Sampai akhirnya Guceng dan Udin pun berhasil lagi melompati pagar besi pembatas pasar ikan yang biasa mereka lewati itu. Seperti biasa, tidak lupa mereka menjulurkan lidahnya ke aparat polisi itu.
"Dasar kalian bocah tengik!"


13 Juni 2011



Biodata Penulis:

Aray Rayza Alisjahbana. Lahir di Serang, 20 September 1990. Mahasiswa Diksatrasia Untirta. Karyanya berupa puisi, cerpen, dan resensi pernah dimuat di Fajar Banten (Sekarang Kabar Banten) dan Radar Banten. Bergiat di Kubah Budaya dan Belistra Untirta. Sekarang menetap di Pontang bersama orangtuanya.

Sabtu, 07 Mei 2011

UDIN (Si Penjual Jengkol)

Cerpen: Aray Rayza Alisjahbana


Meskipun masih pagi, namun terik matahari begitu menyengat di tubuh Udin. Seperti biasa setiap pagi ia membawa dagangannya itu dengan sebuah gerobak yang sudah agak reyot. Ya, seperti gerobak yang dibawa oleh para pedagang-pedagang sayur keliling. Persis seperti itu. Dan yang harus kamu tahu, setiap kali gerobak Udin itu melewati orang-orang di sekitarnya, bagi yang tidak biasa mencium baunya maka siap-siap saja untuk menutup hidung. Karena bisa menyebarkan aroma yang kurang menyegarkan.
Semenjak tiga hari belakangan ini, dagangannya memang sedang sedikit pembeli. Ya, mau bagaimana lagi, orang-orang tidak mungkin membeli dagangannya itu setiap hari. Bisa-bisa toilet menjadi seperti semur jengkol. Ya, mungkin. Nyatanya Udin memang seorang pedagang jengkol.
Ini adalah warisan turun-temurun dari kakeknya. Ayahnya, sembilan tahun lalu meninggal akibat kecelakaan—tertabrak mobil saat mendorong gerobak ke pasar— dan kini Udinlah yang menggantikan posisi ayahnya sekaligus menjadi ujung tombak keluarganya. Adik-adiknya yang masih sekolah dasar dan sekolah menengah sangat membutuhkan bantuannya. Ibunya, hanyalah seorang tukang cuci baju di kampungnya. Memang lumayan berat bagi Udin berjualan seperti ini. Dia meninggalkan sekolah menengahnya gara-gara ini. Padahal waktu itu ia sebentar lagi akan ujian akhir sekolah. Harapannya pupus seketika. Kini cita-citanya untuk sekolah ke yang lebih tinggi hanya menjadi khayalan saja dalam hidupnya.
Udin istirahat sebentar di sebuah warung kecil. Baru saja tiga puluh menit ia melangkahkan kakinya dari rumah, tapi ia sudah terlihat lelah. Ya, tubuhnya yang kurus itu memang terlalu memaksakan. Wajahnya sudah agak lusuh. Tapi secara fisik, ia terimbangi dengan postur tubuhnya yang tinggi dan berhidung mancung, sehingga membuatnya tidak terlalu seperti orang kampungan. Hehe...
Tiga puluh menit kemudian, akhirnya Udin pun sampai ditempat ia berjualan. Di Pasar Rau. Pasar yang fenomenal di Kabupaten Serang. Pasar yang kecil, sumpek, agak kumuh. Sampah berserakan di mana-mana. Tapi anehnya banyak sebagian orang kantoran bahkan para pejabat yang membeli barang-barang ditempat itu. Malah tempat itu menjadi pusat penjualan toko-toko emas di wilayah Serang. Udin hanya menggeleng-geleng kepala saja jika ia mencoba membandingkan antara emas-emas itu dengan jengkol-jengkol dagangannya.
“Andai saja jengkol-jengkol ini adalah emas,” ujarnya dengan wajah yang agak memelas. Jengkol-jengkol itu di koyak-koyaknya seperti beras.
“Tolong...! toloong...! copeeet...!” Tiba-tiba saja terdengar teriakan seorang wanita dari arah belakang Udin.
“Mas, copet Mas...!” wanita itu menepuk bahu Udin saat ia melintas ke arahnya. Udin pun langsung ikut mengejar copet itu bersama warga pasar. Dagangannya ia tinggalkan.
Beberapa saat kemudian.
“Ini Mbak, dompet dan kalung Mbak,” Udin menyerahkan barang-barang itu setelah pencopet itu benar-benar sudah tidak berdaya di keroyok warga pasar.
“Coba dilihat lagi Mbak, takut ada yang kurang,” ujarnya lagi. Wanita itu mengecek kembali isi dompetnya.
“Lengkap kok Mas. Makasih yah Mas. Ini buat Mas!” Wanita itu menyodorkan dua lembar uang ratusan ribu pada Udin.
“Waduh Mbak, nggak usah repot-repot. Biar Tuhan yang membalas semua ini.” Lalu wanita itu pun memasukkan kembali uangnya dalam dompet.
“Sekali lagi makasih yah Mas.” Ujar wanita itu, lalu ia pun menghilang dari wajah pasar setelah ia menaiki mobil Honda Jazz-nya.
Tiba-tiba seraut wajah Udin sontak kaget ketika ia melihat dagangannya berserakan. Jengkol-jengkolnya bececeran di tanah.
“Sana kamu pergi! Dasar orang gila!” sentaknya, orang gila setengah telanjang itu pun kabur terbirit- birit.
“Ya Tuhan kenapa jadi seperti ini” ujarnya sambil memunguti jengkolnya itu di tanah yang basah.
***
Di meja ruang tengah—ruang tivi— itu berserakan beberapa bungkus makanan. Ada dua bungkus kacang Garuda yang bungkus atasnya tersobek setengah. Salah satu isi bungkus kacang itu hampir habis. Sedang isi bungkus yang satunya lagi tinggal setengah. Sisa-sisa kulit kacang itu dibuang disisi kiri bungkusnya. Sedangkan makanan yang lain—chitato, cokelat, pilus, dll.— masih utuh disimpan dalam plastik putih bermerek Indomaret di bawah meja.
Di sofa, Iza sedang membaca sebuah majalah Gadis edisi Desember. Ia tiduran terbaring sambil kedua kakinya disilangkan. Rambut Iza yang panjang itu sebagian menyentuh paha Ibunya yang duduk di sofa samping kirinya. Ibunya memandangnya dengan penuh tanda tanya.
“Kapan kamu menikah Za?” Tanya ibunya tiba-tiba malam itu sambil memegang remot tivi.
“Gak tahu mah, belum ketemu cowok yang cocok buat Iza. Semua yang pernah dekat sama Iza sama saja, penjahat.”
“Kenapa nggak berusaha mencari lagi?”
“Ah, biar sajalah Mah, nanti juga ketemu sendiri.”
“Za, Mama malu dengan ejekan teman-teman arisan mama. Sebagian dari mereka ada yang punya anak seusia kamu. Anak-anak mereka sudah menikah dan sudah punya momongan. Kata salah satu dari mereka, kok belum punya cucu juga sih Jeng? Kapan anakmu menikah? Mama kan jadi malu. Mau disimpan di mana muka mama kalau kamu terus-terusan begini.”
“Terus?” Tanya Iza sambil menoleh ke mamanya.
“Ya kamu harus ¬cepat-cepat menikah.”
“Huh, Nyebeliin...!” Iza membanting majalahnya ke meja. Sisa-sisa kulit kacang berserakan dan bungkusnya jatuh ke lantai. Ia pergi menuju kamar.
Ya, memang sedari dulu mamanya menginginkan anak semata wayangnya itu untuk segera menikah. Mungkin sejak ia lulus dari Sekolah Menengah Atas. Tapi Iza menolak permintaan mamanya itu mentah-mentah. Memang, setelah kepergian sang kekasihnya itu dari hidupnya, Iza menjadi sensitif seperti ini. Kini Iza tengah berkuliah di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Kota Serang. Saat ini Ia sudah memasuki semester lima. Ya, lumayan dengan seusianya yang sudah menginjak dua puluh satu-an itu, mungkin sudah layak untuk menikah. Tapi menurutnya untuk persoalan yang satu ini tunggu dulu. Menunggu waktu yang tepat.
Iza masih mengurung diri di kamarnya. Ibunya yang sudah tiga, empat kali mengetuk-ngetuk pintu kamarnya, tidak dihiraukannya. Di kamar, Iza menindih wajahnya dengan bantal. Sampai akhirnya ia pun tertidur pulas dengan air matanya yang menempel basah di bantal itu.
***
Usai kuliah Iza kembali menuju ke pasar Rau. Seperti biasa ia ingin membeli pulsa ke tempat langganannya itu. Kini Ia bersama Ani, teman sekelasnya.
“Tahu nggak An, kemarin aku sempat kecopetan di tempat ini. Untung copet itu tertangkap. Coba kalau nggak, bisa-bisa aku digampar sama mamah, karena kalung dan isi dompetku raib oleh pencopet itu.”
“Terus siapa yang nolongin kamu Za?”
“Abang tukang jengkol.”
“Tukang Jengkol?” Ani mengerutkan kening saat mendengar jawaban Iza.
“Eh... eh... An... An... itu dia orangnya. Iya, itu Abang jengkol yang nolongin aku waktu itu.” Ujar Iza tiba-tiba sambil menujuknya, lalu ia membelokkan setir mobilnya ke arah parkiran. Ani menoleh-noleh ke kaca belakang mobil, saat mobil yang ditumpanginya itu melewati dagangan si abang tukang jengkol.
Iza dan Ani berjalan menghampiri Udin. Mereka berdua berjalan agak cepat. Udin yang sedari pagi menunggu dagangannya itu sedang asik merokok di warung sebelah dagangannya. Dengan mengenakan topinya yang bulat itu, ia terlihat seperti orang yang hendak mau mancing saja. Ia memiringkan topinya ke sebelah kiri sambil mengangkat kaki kanannya di atas paha kirinya.
Seketika mata Udin menatap tajam dua perempuan yang hendak mau menghampirinya itu. Salah satu dari mereka sepertinya tidak begitu asing di matanya. Iza dan temannya yang menghampirinya itu mengenakan baju agak ketat, mencairkan suasana abang-abang tukang becak yang mangkal disitu. Abang-abang becak saling berbisik.
“Melihat dua gadis itu, saya pengen cepet-cepet pulang ke rumah nih.”
“Dasar keong racun.”
“hahaha...”
Iza dan Ani pun semakin dekat menghampiri Udin. Udin membuang puntung rokoknya. Udin pun berdiri.
“Mbak? Mbak yang waktu itu kecopetan di sini itu yah?”
“Masih inget Bang?”
“Ya masih dong Mbak. Masa perempuan secantik Mbak saya lupa.”
“Ah, Abang bisa aja. Oh iya, kenalin bang ini teman saya. Ani.”
Akhirnya di warung itu, mereka pun duduk dan bercakap-cakap sambil menyeruput teh manis dan sepiring roti. Iza dan Ani bertanya-tanya tentang kehidupan Udin. Sesekali percakapan mereka pun terselingi oleh beberapa orang yang membeli dagangan Jengkol Udin. Iza dan Ani begitu terharu mendengar semua kisah Udin. Dari kehidupan keluarganya, kepribadiannya, hingga cita-citanya yang putus di ambang pintu itu.
“Yang sabar yah Bang, semuanya sudah digariskan oleh Tuhan.” Ujar Ani sambil memoleskan tisu dipipinya.
Usai percakapan itu akhirnya mereka berpisah. Iza lupa dengan dirinya yang ingin membeli pulsa. Emosinya terbawa oleh kisah Udin tadi. Iza dan Ani pun melangkahkan kakinya menuju mobil. Namun ketika hendak mau membuka pintu mobil tiba-tiba Iza balik arah lalu menghampiri Udin kembali.
“Bang, dagangannya saya beli semuanya yah?!”
“Emang buat apa Mbak?” Tanya Udin agak bengong.
“Buat tetangga saya yang mau nikahan Bang.”
Udin tidak mampu menolaknya. Wajahnya begitu sumringah. Baginya, mungkin hari itu adalah rezeki yang sudah diberikan oleh Tuhan padanya. Udin membungkus jengkol-jengkolnya itu dalam karung, lalu membawakannya ke bagasi belakang mobil Iza.
“Terimakasih yah Mbak.” Ujar Udin sambil menganggukkan kepalanya di sisi kanan pintu mobil Iza. Iza membuka kaca mobilnya perlahan dan menjawabnya dengan anggukan kepala juga. Lalu Iza pun menancapkan gas mobilnya.
“Katanya mau beli pulsa, kok malah beli jengkol? Aneh. Emang siapa tetangga kamu yang mau nikahan?” tanya Ani dua menit kemudian.
“Nggak tahu, tetangga yang mana kali. Hehe... aku hanya kasian saja dengan Bang Udin dan keluarganya, itu saja.”
“Oh.” Ani menangguk pelan, kemudian memalingkan wajahnya ke arah kiri, menatap matahari senja yang akan segera tenggelam.
***
Di kamarnya, entah mengapa bayangan Udin masih begitu terngiang di pikirannya. Semenjak percakapan sore itu, sikap Iza memang agak sedikit aneh. Seraut wajahnya sepertinya begitu menyimpan beribu empati pada sosok Udin itu. Entah apa yang membuatnya seperti ini.
“Bang Udin, aku begitu terharu dengan semangat Abang. Dengan perjuangan Abang dalam menafkahi diri Abang dan keluarga Abang. Tidak semua laki-laki yang seumuran Abang bisa berpikir sejauh ini. Kebanyakan lelaki hanya ingin mendapatkan kesenangan saja. Tapi Abang, begitu berbeda. Bang Udin? Kok tiba-tiba kamu mengingatkanku dengan wajah seseorang yang pernah aku kenal. Ya, Dion namanya. Tapi lelaki itu sudah tiada dua tahu silam. Aku sangat merindukannya. Dan kini aku menemukannya kembali pada seraut wajah dan hatimu Bang Udin.”
“Izaa...! Apa-apaan ini! Kok bagasi mobil jadi bau begini.” Tiba-tiba teriak mamanya dari luar rumah. Iza pun langsung keluar dari dalam kamar.
“Iya mah, kenapa?”
“Apa ini?” sambil menutup hidungnya.
“Itu jengkol Mah”
“Jengkol? Buat apa?”
“Ya, buat apa aja. Kasih kucing juga nggak apa-apa.”
“Ah, kamu ini ada-ada saja! Bejoo... tolong buang sampah-sampah ini dari mobil!” Tak lama kemudian, sesosok pembantu culun itu pun keluar dari dalam rumah.
“Kok dibuang sih mah?”
“Udah, diam kamu!” bentak ibunya. Iza agak cemberut, lalu ia pun kembali masuk ke kamar.
***
Sebulan ini Iza merasa ada sesuatu yang aneh dengan dirinya. Semenjak kenal dengan Udin, Iza benar-benar tidak mampu melupakan bayangannya. Apalagi belakangan ini Iza selalu main ditempat Udin usai jam kuliahnya.
Mereka sudah semakin akrab saja. Kadang sesekali Iza mencubit pipi Udin. Mereka lupa dengan status mereka masing-masing. Udin, lupa dengan statusnya sebagai penjual jengkol. Iza pun sama, lupa dengan statusnya sebagai anak seorang penjual emas.
“Abang, Mas, aduh enaknya panggil apa yah?”
“Abang saja.”
“Oh iya Bang, saya boleh nanya nggak?”
“Nanya apa?”
“Bang, selama ini perasaan abang bagaimana sih sama Iza?
“Perasaan apa yah Mbak? Saya tidak mengerti.”
“Ya perasaan abang sama Iza. Bang, Iza suka sama abang.”
“Apa? Suka? Ah, Mbak ada-ada saja. Masa Mbak secantik ini suka sama orang seperti saya. Sudah bau jengkol pula.”
“Panggil saya Iza saja yah Bang.”
Percakapan sore itu akhirnya membuahkan hasil.
Esok hari, Iza mempekenalkan Udin pada mamanya. Ia sudah tidak tahan dengan ocehan mamanya itu, agar ia cepat menikah.
“Mah, kenalin, ini Udin. Pacar saya. Sekaligus calon menantu mama. ” Ujar Iza memperkenalkan Udin di sofa ruang tamu. Mamanya sedari tadi memerhatikan seraut wajah Udin dan pakaiannya. Dari ujung kaki hingga ujung kepala.
“Udin? Calon menantu?” Tanya mamanya.
“Iya mah calon menantu mama.”
“Ya, Tuhan akhirnya Engkau mengabulkan juga doa saya. Akhirnya anak saya menikah juga.” Seketika seraut wajah mamanya sumringah.
“Udin, kamu kerja apa?” Tanya mama Iza kemudian.
“Pedagang Jengkol Bu.” Jawab Udin dengan suara melemah sambil menundukkan kepala.
“Apa? Pedagang Jengkol? Jangan jangan yang kemarin itu jengkol dari kamu yah?!” tiba-tiba wajah sumringat itu berubah seketika.
“Iya mah, itu dari dia.”
“Apa?! Sekarang juga kamu keluar! Keluar dari rumah saya! Saya tidak mau rumah saya bau jengkol! Saya tidak suka denga jengkol!” tiba-tiba mamanya Iza berubah seperti harimau, ganas dan liar. Ia berdiri sambil menunjuk-nunjuk wajah Udin. Udin hanya menunduk malu. Lalu Ia pun pergi.
“Mamah apa-apa sih!” Iza keluar menyusul Udin.
“Bang, tunggu Bang! Mau kemana? Maafin mama saya Bang.” Tapi langkah Iza dihalang oleh Bejo.
“Tahan dia, bawa ke kamar!” suruh mamanya pada Bejo.
Seraut wajah pedagang jengkol itu pun hilang dari tatapan mama Iza di sisi pintu.
“Jangan pernah kembali lagi ke sini!” Ujarnya.
***
Seusia kuliah seperti biasa Iza menghampiri Udin. Ia meminta maaf atas segala perlakuan mamanya itu kemarin.
“Iya, tidak apa-apa kok Mbak.”
“Tapi Bang, saya mau hidup sama abang. Saya nggak mau pulang. Izinkan saya tinggal bersama abang.”
“Tinggal sama saya Mbak? Aduh, nanti mamanya situ nyariin lagi. Kasihan Mbak.”
“Abang nggak kasihan sama saya?!” Iza sedikit mengambek.
Akhirnya Iza pun di bawa pulang ke rumah Udin. Udin tidak bisa berbuat apa-apa lagi, walaupun dalam hatinya ia tidak mau melakukan ini.
Sudah dua hari Iza bermalam di rumah Udin. Ia senang dengan adik-adik Udin yang kecil dan lucu. Iza memang tidak punya adik. Kadang ia sangat merasa kesepian di rumahnya. Apalagi sepeninggal ayahnya dua tahun lalu karena strok. Dirumahnya ia hanya ditemani sepasang boneka donal bebek berwarna pink.
“Non, orang tua Non pasti khawatir dengan keadaan Non.” Ujar Ibunya Udin.
“Biarin saja Bu. Mama tidak pernah mengerti dengan keinginan anaknya.”
“Lama-lama di sini nanti badan Non semakin bau jengkol lagi.”
“Nggak apa-apa kok Bu. Saya senang di sini, rame.” Ujarnya sambil bermain dengan adiknya Udin yang bungsu.
“Oh iya, bang Udin kemana kok ngak kelihatan?”
“Lagi di kebun pak Hasyim. Ia memotong rumput di situ.”
“Emang nggak jualan jengkol yah Bu?”
“Katanya, dia tidak mau, takut nantinya Non ketahuan ada di sini.”
“Aduh, jadi nggak enak.”
“Sudah Non, enggak apa-apa.”
Di rumah reyot itu mereka lama berbincang. Sebenarnya Iza merasa tidak enak jika harus berlama-lama di tempat Udin. Tapi, ia juga bingung. Ia sudah terlena pada Udin. Entah apa yang membuatnya nekad begini. Kasihan kah? Karena Udin mirip kekasihnya kah? Atau karena mamanya? Hanya hati Iza yang benar-benar tahu perasaan itu.
“Izaa... Izaa...! Keluar kamu!” tiba-tiba terdengar suara dari luar rumah. Iza yang masih berbincang dengan ibu Udin seketika berhenti.
“Sepertinya saya kenal suara itu.” ujar Iza.
“Izaa... Izaaa...!” suara itu semakin mengeras dari luar. Seisi rumah itu pun keluar semua menghampiri suara itu.
“Mama? Kok bisa kesini?” Iza tidak percaya setengah mati kalau mamanya tu ada di depan matanya. Ia mengusap-usap kembali matanya. “Iya, ini bener-bener Mamah?” Lalu ia pun menelan ludah dalam-dalam.
“Kenapa? Kamu nggak percaya kalau mamah bisa kesini? Hah!” kedua tangannya diletakkan di sisi pingganynya.”Bejoo... bawa pulang anak ini!” suruh mamanya Iza.
Ibunya Udin hanya bisa melongo, tidak bisa berbuat apa-apa.
“Eh, Bu mana anak kamu si Udin itu? Seenaknya saja bawa anak saya kabur! Malah di rumah jelek kayak gini lagi.” Ejek mamanya Iza. “Bisa-bisa saya lapor polisi!” ujarnya lagi.
“Eh.. eh.. ada apa ini? Rame bener?” tiba-tiba Udin datang sambil membawa sebuah golok tajam. “Ibu? Kok bisa kesini?” ujarnya lagi, Udin agak terkaget.
“Wah kamu sudah ngajak berantem yah, sudah bawa golok begitu? Ok! Bejoo... cepat lapor polisi! Bilang kalau anak jengkol ini telah menculik anak saya...!” Cepetan...!” Bejo pun pergi dengan sebuah mobil hitamnya.
“Bu, saya tidak berniat begini sama anak ibu...”
“Sudah! Sudah! Jangan banyak bicara! Orang sudah jelas begini.”
“Mah, saya yang minta tinggal sama dia, bang Udin tidak salah.” Ujar Iza sambil di pegang dua bodigar mamanya yang gemuk-gemuk.
“Sudah! Diam kamu! Pokoknya mama nggak setuju kalau kamu harus kawin sama dia.”
“Bukannya mamah sendiri yang ingin Iza cepat menikah?”
“Ya. Tapi bukan sama orang seperti ini. Kayak nggak ada orang yang lebih kaya dan lebih ganteng saja!” Iza pun terdiam.
Selang dua puluh menit. Polisi dan pasukannya pun datang. Iza, dan keluarga Udin tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat Udin di borgol dan di bawa ke mobil tahanan.
“Pak, saya tidak bersalah Pak, Pak!” Lirih Udin. Tapi tetap saja polisi itu tidak menghiraukannya.
Iza, Ibunya Udin beserta adik-adiknya menangis di sisi pintu. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
***
Esok hari, Iza hanya diam membisu di kamarnya. Ia masih terus menangis. Tidak kuliah. Tidak mau makan.



Biodata Penulis:

Kenalin, nama aye Aray Rayza Alisjahbana. Tapi sebenernye nama asli aye Encep Abdullah. Aye lagi demen nih nulis cerpen. Ya, semenjak SMA sih sebenarnye. Walupun karya-karya aye masih kayak ceker ayam, tapi aye tetep semangat untuk terus berkarya.
Aye mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa ato disingkatnye UNTIRTA. Tahu ndak? Itu loh yang kampusnya di samping terminal Pakupatan Kota Serang-Banten. Ya udeh pokoke itulah. He..he.. Aye Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Kunjungi blog aye yah: www.pengarangtakpernahmati.blogspot.com
E-mail: encepabdullah@rocketmail.com
FB: Aray Pujangga

Senin, 28 Maret 2011

Cicak Bodoh...

Cerpen: Aray Rayza Alisjahbana

Orang-orang memanggilku cicak. Mungkin kamu tahu wujudku seperti apa, menjijikkan bukan? Ya, sejenisku mungkin serupa monster kecil yang selalu berkeliaran di tembok-tembok, tiang listrik, dan sebagainya setiap malam. Mencari beberapa santap nikmatnya nyamuk-nyamuk yang berseliweran. Apalagi nyamuk-nyamuk itu usai menghisap darah manusia, wah rasanya nikmat sekali, tiada tara.
Sudah pernah lihat tubuhku bukan, tubuhku yang jelek ini? Aku juga terkadang jijik dengan diriku sendiri. Tubuh telanjang dengan ekor yang mengoget-oget seperti mau kawin. Mata yang terlihat menonjol keluar seperti sedang marah, terkadang membikin lelah menatap apa-apa yang ada di sekitarku. Tapi, ya mata inilah yang membuatku tetap bertahan hidup. Lebih-lebih lidah kilatku ini, yang bisa setiap saat menyambar mangsa yang lewat di hadapanku.
Umurku kini sudah menginjak dewasa. Sudah harus mencari pasangan hidup —kawin. Tentu saja dengan cicak juga, yang nanti akan melahirkan cicak-cicak kembali sebagai penerus hidupku nanti. Tapi sampai saat ini aku belum juga mendapatkan itu. Terkadang memang para cicak perempuan selalu direbut oleh cicak lelaki yang macho-macho. Tidak seperti aku ini, pemalu, lemah syahwat. Tidak berani mendekati cicak perempuan yang sedang sendiri, atau sudah siap untuk di kawini. Keinginanku memang tidak sesuai dengan hati. Hati berkata harus, tapi langkah dan kelaminku berkata tidak. Haha... memang aneh.
Setiap malam aku selalu iri ketika melihat beberapa ekor cicak —lelaki dan perempuan— sedang berkejaran mesra di sekitarku. Mungkin saat ini sedang musim kawin. Ya mereka dengan riangnya saling tindih-menindih dan aku hanya menjadi saksi bisu atas perlakuan mereka. Pun manusia-manusia yang ada di bawah, yang sedang menonton teve, makan di warung, tidur di kamar, main petak umpet, dan sebagainya, tak pernah peduli dengan kejadian itu. Mungkin mereka juga sudah merasakan nikmatnya kawin dengan pasangan-pasangan mereka. Sedang, aku hanya sendiri.
Pernah dulu, suatu ketika ada seekor cicak perempuan yang menarik simpatiku untuk mengawininya. Dia malu-malu mendekatiku, secara perlahan. Ekornya memberikan sinyal. Matanya menatap tajam tubuhku. Dari jarak sekira 30 cm, tiba-tiba dia menyerangku. Aku gelagapan. Ditindihnya. Aku mengamuk. Tapi tiba-tiba. Jprettt....!!! seorang anak kecil penghuni rumah menjepret cicak perempuan itu. Cicak perempuan itu seketika jatuh ke lantai. Lantas di kurung dalam plastik. Sedang ekornya masih menempel di tembok, di sampingku, sambil mengoget-oget.
“Haha... dapat satu. Lumayan dapat pahala. Malam ini kan malam jumat. He...” ujar bocah seumuran delapan tahunan-an itu, sambil menggoyang-goyangkan plastiknya.
Untung sekali aku tidak terserang jepretan karet bocah itu. Wah, bisa-bisa aku pun jadi tumbal mereka. Ya, konon katanya, apabila manusia mencari atau membunuh cicak di malam jumat, nanti akan mendapatkan pahala atau ganjaran dari tuhan. Entah, aku tidak pernah tahu. Aku mendengar itu ya, dari seletingan-selentingan percakapan manusia saja. Ah, dasar manusia, selalu mencari sensasi. Aku lupa kalau malam itu adalah malam jumat. Untung cicak perempuan ganjen itu yang kena tumbal. Haha... rasain.
***


Malam ini penghuni rumahku sedang banyak tamu. Aku sangat senang sekali, karena pasti nyamuk-nyamuk akan menggigitinya. Menyedoti darahnya. Wah, ada beberapa yang gemuk manusia itu, empat orang. Cukuplah. Senang sekali rasanya aku. Ayo nyamuk-nyamuk seranglah mereka. Nanti kalau sudah cukup darah di tubuh kalian, pasti kalian akan lemah. Dan aku, akan siap menyerangmu. Licik memang aku ini.
Tapi, sepertinya manusia-manusia itu tidak terlihat ingin tidur. Mereka masih saja main catur. Ngopi. Pastilah mata mereka susah tidur karena zat adiktif atau caffein itu menyebar di tubuhnya. Sial!! Mereka lelaki semua sih, yang perempuan —isteri-isteri lelaki itu— entah pada kemana. Ah, malam ini aku benar-benar lapar. Ingin rasanya cepat-cepat menyantap nyamuk-nyamuk yang berkeliaran.
Malam ini aku kurang begitu nyaman dengan sekelilingku. Dengan suara anak-anak mereka yang masih bermain, berteriak, berebut mainan ini itu sambil jeprat-jepret sana-sini dengan karet. Aku semakin tambah pusing. Sudah sendiri, tidak ada yang menemani. Mencari pasangan kawin pun tidak pernah ketemu. Ketemu tapi malu. Haha...
Hm... Kasihan juga yah mangsa-mangsa di sekitarku itu —nyamuk-nyamuk itu— sedang menunggu manusia-manusia atau penghuni rumah ini terlelap. Nyamuk-nyamuk itu mungkin jika di ibaratkan dengan manusia, mereka sedang main catur dulu, main poker dulu. Menunggu manusia-manusia itu terlelap.
“Skak!” ujar lelaki gendut yang memegang ster putih itu di ruang tamu. Sambil menyeruput kopinya.
“Sial!! Kalah gue,” ujar lelaki gendut yang satunya.
“Masih mau lanjut?”
“Ok. Lanjutkan!”
Ya tuhan, kapan mereka mau tidur. Aku sudah tidak tahan menahan lapar. Ah, pusing aku lama-lama menunggu. Aku juga melihat teman-teman di sekitarku sedang malamun, menunggu santapan tiba. Mungkin mereka juga sedang kelaparan sepertiku. Entah kenapa, aku dan teman-temanku disini kurang begitu suka dengan mangsa selain nyamuk. Nyamuk memang santapan idola kami. Favorit kami.
Ah memang sial, betapa enaknya mereka ditemani dengan pasangan-pasangannya. Tidak kalah juga dengan cicak-cicak yang muda. Sedangkan aku di sini, benar-benar menjenuhkan. Wahai cicak perempuan, datanglah padaku!
Jpret!!! Tiba-tiba saja karet bocah-bocah itu menyerangku bertubi-tubi. Ekorku kena. Aku jatuh. Jatuh. Ah, aku lupa kalau malam ini adalah malam jumat.
SIAL!

26 Maret 2011

Selasa, 08 Februari 2011

MANUSIA PELUPA Cerpen: Aray Rayza Alisjahbana




            “Jup, malam ini jadi nggak kita nonton film?”
“Nonton apa? Emang aku ngajakin yah?”
“Ya ampun, bukannya kamu sendiri yang bilang, katanya kamu yang mau bayarin? Gimana sih!” 
“Waduh, aku lupa Ri. Sumpah.”
“Ah dasar! Emang kebiasaan.”
Ruri, teman dekatku di kampus mungkin sudah bosan menanggapi ulahku ini. Semenjak semester satu aku memang sudah sangat dekat dengannya. Kini kita sudah beranjak semester empat. Bagiku dia sudah aku anggap seperti saudara sendiri. Dia pun tahu kalau keadaanku seperti ini. Tapi aku tidak tahu sudah berapa kali aku berbuat begitu pada Ruri. Entahlah aku lupa.
Memang, banyak sebagian orang yang benci dengan sifatku yang seperti ini. Orang-orang sudah menganggapku bukan manusia biasa, mereka bilang aku adalah manusia super.
            “Iya, super-super lupa. Hahaha…” Ejek Leboy, temanku, waktu di kantin.
            Tapi hanya Ruri orang yang masih ingin bersahabat denganku. Meskipun aku selalu merepotkannya. Selalu membuatnya ngambek. Tapi dia selalu mengerti dan segera cepat melupakan apa yang sudah aku lakukan padanya.
            Kata ibu, sewaktu kecil aku memang sering terjatuh, entah karena terpeleset atau pun yang lainnya. Dan sering pula kepalaku terbentur meja, kursi, keramik, bahkan pernah kepalaku terserempet kaca spion mobil ketika hendak mau menyebrang di sekolah. Waktu itu umurku kurang lebih sepuluh tahun. Dan untung waktu itu aku selamat. Aku memang sempoyongan kalau jalan. Hingga saat ini pun aku masih seperti itu, persis seperti orang mabuk. Kata ibu sih saat aku masih dalam kandungan, dia sering ngidam makanan yang aneh-aneh. Entah apa itu. Aku lupa.
            “Jup, kata dokter, kamu terkena amnesia. Tapi hanya menyerang bagian kecil memori otakmu saja. Dan itu bikin kamu sering lupa katanya. Tapi ya kadang ingat juga.” Ujar ibu waktu itu.
            “Namanya penyakit apa yah Bu? Amnesia apa? Kok nggak jelas begitu?”
            “Entahlah ibu juga nggak tahu jelasnya penyakit apa. Ibu juga lupa apa kata dokter itu.”
            “Kok lupa?” Ibu pun terdiam. Aku sempat berpikir sejenak. Apa mungkin ini penyakit bawaan darinya? Entahlah.
            Mendengar hal itu aku sedikit pesimis untuk menjalani hidup ini. Bagaimana jika suatu saat nanti tiba-tiba aku sedang lupa, lalu ada orang yang memanfaatkanku? Dan mereka mengambil apa saja yang aku punya. Apa yang harus aku lakukan?
            “Ada Ruri disampingmu. Ibu percaya sama dia.” Ujar Ibu sore itu.
            “Tapi, aku juga nggak mungkin selamanya bergantung sama dia. Apa nggak ada obat untuk nyembuhin penyakitku ini secara tuntas Bu?”
            “Tak tahulah. Kamu sendiri tahu, ibu hanyalah seorang pedagang nasi uduk. ayah kamu pun sudah tiada sejak kamu dalam kandungan. Sedang kata dokter biaya buat nyembuhin penyakit kamu ini cukup mahal. Dan harus berobat jalan. Kamu tahu, kuliah kamu pun, itu Bibi kamu yang membiayai. Ibu, nggak mau merepotkan bibi kamu lagi yang seorang PNS. Apalagi dia punya dua anak yang harus dia nafkahi. Sudah tahu sendiri, suaminya itu malas bekerja. Bagi ibu, ini pun sudah cukup.”
            Aku hanya menunduk saja mendengar penjelasan dari ibu. Memang, ibu hanyalah seorang pedagang nasi uduk, aku sadar itu. Tapi, aku juga kepingin sembuh dari penyakit ini. Gara-gara aku seperti ini, aku sudah banyak merugikan orang lain. Aku sering mengingkari janji. Aku sering lupa dengan nama teman-temanku di kelas. Tapi anehnya, aku tidak terlalu lupa jika aku menyerap pelajaran saat di kelas. Ibu, pernah bilang padaku bahwa Tuhan akan selalu memberikan jalan untuk orang yang mau belajar dengan sungguh-sungguh. Dan memang benar, perkataan ibu adalah petuah yang selalu terngiang di kepalaku. Petuah dia pun tak pernah aku lupa. Aku bingung dengan diriku sendiri. Kenapa hanya petuah ibu dan mata pelajaran saja yang mungkin bisa aku cerna? Yang bisa ingat? Meskipun kadang-kadang sesekali aku lupa. Tapi tidak sesering aku lupa dengan hal-hal yang selain itu.
            Setiap hendak berangkat kuliah pasti ada saja yang tertinggal di rumah. Entah itu ponsel, buku, pulpen, uang saku, dan sebagainya. Terkadang pula benda-benda itu pun tertinggal di dalam angkot. Sampai-sampai aku pun harus berkeliling mencari angkot itu kembali. Tidak hanya hendak mau berangkat ke kampus saja. Ketika berada di kampus pun terkadang begitu. Usai baca buku, terkadang aku meninggalkan begitu saja buku itu ditempat aku baca. Lalu pasti ada salah satu temanku yang mengembalikannya. Aku benar-benar jengkel dengan kekuranganku ini.
            Aku juga pernah digebukin oleh teman-teman sekelasku, ketika tugas kelompok lupa aku bawa.
            “Ah dasar bego! Itu tugas UAS Goblok!”
            “Kalian yang goblok. Sudah tahu aku pelupa, malah suruh aku yang ngerjain tugas.”
            “Diam lu kampret!” Wajahku semakin bonyok saja.
***
            Kini aku masih merenung sendiri di kamar.
Kenapa tuhan menciptakanku seperti ini? Hidupku tidak normal. Tidak seperti kebanyakan orang. Tuhan, pasti Engkau tahu apa yang aku inginkan sekarang ini. Sembuh dari penyakit ini.
            “Jupri, ada Ruri di luar!” Panggil ibu.
            “Iya Bu, bilang tunggu sebentar!”
            Tak lama aku pun keluar dan menghampiri Ruri. Ia membawa sebuah benda—entah apa itu. Kami pun duduk di teras rumah dengan sebuah tikar bambu cokelat.
            “Jup, ini mainan buat kamu.”
            “Mainan apa ini?”
            “Sudah, kamu ambil saja. Permainan ini mampu membuat ingatanmu sedikit-demi sedikit bisa pulih. Kamu jangan terlalu stres mikirin penyakit kamu. Dicoba yah!” Kami pun berbicang sesaat, tak berapa lama Ruri pun pergi.
            Ah, apa maksud Ruri memberikan benda ini. Benda yang terbuat dari kayu berwarna cokelat berbentuk persegi, panjang sisi-sisinya kurang lebih 30 cm. Di dalamnya berisi pecahan-pecahan kotak kecil yang sudah terpasang, kurang lebih berisi enam puluh pecahan kotak yang warnanya berantakan. Di samping pojok kiri atas ada empat pecahan kotak yang kosong.
Di alas benda itu aku menemukan secarik kertas yang tertempel lakban putih disisi-sisinya.
           
Jup, maaf sebelumnya. Aku ingin jujur sama kamu. Mungkin dengan surat ini kamu bisa tahu perasaanku.
            Jup, sejak aku kenal kamu. Aku merasa, ada sesuatu yang mengganjal dihati ini. Entah perasaan apa. Aku merasa nyaman saja didekat kamu. Apalagi selepas kejadian waktu itu. Meskipun hal itu seharusnya tidak terjadi di antara kita.
Aku tidak mau kehilangan kamu Jup. Semoga kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan saat ini.
            Maaf yah Jup, kalau aku lancang. Aku tahu, mungkin selama ini kamu menganggap aku sebagai saudara kamu. Tapi bagiku, bukan sebatas itu.
            Jup, hanya benda ini yang mungkin bisa aku berikan. Aku tahu selama ini kamu selalu resah dengan penyakit kamu. Aku mendapatkan benda ini dari salah seorang teman aku yang menjadi dokter. Di dalamnya ada pecahan kotak-kotak kecil, itu adalah foto aku. Semoga saja benda ini bisa kamu mainkan setiap hari dan bisa menjadikan pecahan-pecahan foto itu menjadi utuh sempurna wajahku. Aku akan kembali lagi padamu suatu saat nanti. Semoga penyakit kamu segera pulih yah Jup. Amin.
                                                                                               
Ruri

***
            Sudah lima hari ini aku masih mengotak-ngatik benda itu. Terlihat mudah tapi, bagiku begitu susah. Aku pasang kesana kemari. Di cocokkan satu sama lain. Tapi tetap saja susah.
            “Ri, sulit sekali memainkan benda yang kamu berikan ini.” Aku masih mengotak-ngatiknya. Sampai-sampai ibu juga membantuku.
            “Emang ini mainan apaan sih Jup?”
            “Kata Ruri sih namanya... Puzzle. Iya, puzzle.”
            “Ruri?”
            Lalu aku pun menceritakan apa maksud dari benda pemberian Ruri itu, juga surat itu. Ibu agak kaget memang setelah mendengar penjelasanku. Sesekali ibu tersenyum dan mengejekku.
            “Kamu suka sama Ruri?”
            “Nggak tahu juga Bu. Aku bingung”
            “Lah, kenapa? Kok bingung? Ya sudah, kamu lanjutkan saja memainkan benda ini. Semoga kamu bisa.” Ibu pun pergi.
            Aku benar-benar bingung. Apakah kamu sesuka itu sama aku Ri? Padahal aku seperti ini. Kamu pun tahu itu. Aku pelupa, kurus, hitam, dan gemuk. Apa coba yang kamu lihat dari aku? Entahlah.
            Sebenarnya aku tidak terlalu memikirkan persoalan antara suka dan tidak suka sama kamu. Apalagi soal surat itu, aku tidak terlalu mengerti apa maksudnya. Aku diamkan saja surat itu. Aku tempel dibelakang pintu kamar.
Aku hanya tertarik pada benda pemberianmu itu saja Ri. Bukan suratnya. Katamu, benda itu sedikit demi sedikit bisa memulihkan penyakitku. Aku pun memainkannya setiap hari. Jika mungkin benda itu dapat terpasang menjadi sesosok wajahmu. Ya, mungkin itu sebagai bonus saja dariku. Ah, memang menyebalkan sekali aku ini.
***
            Dua bulan sudah aku memainkan benda itu. Sedikit demi sedikit memang membantu mempertajam daya ingatku. Kini aku selalu ingat apa yang harus aku bawa ke kampus. Apa yang harus aku selesaikan. Ya, meskipun sampai sekarang pecahan-pecahan foto itu belum terpasang menjadi sesosok bulat wajahmu. Kamu memang cantik dan menggemaskan Ri, baik pula. Tapi sampai detik ini, aku belum bisa merasakan getaran yang harus kuberikan padamu.
            Dulu, aku memang sempat dekat dengan seseorang, sebelum aku mengenalmu. Dian namanya. Si gadis berlesung pipi. Dian pernah juga mengutarakan perasaanya. Ah, tapi aku tidak mau memikirkan cinta. Yang aku pikirkan dalam hidup ini adalah kesembuhanku. Walau terkadang aku munafik dengan semua itu. Dian pun tahu aku seperti ini, pelupa.
            Aku mengenal Dian, hanya beberapa bulan saja. Setelah itu dia pergi entah kemana. Aku pun lupa, apa saja yang sudah dia berikan padaku. Lupa semuanya. Hanya namanya dan seraut wajahnya saja yang aku ingat. Tapi, dia tak lebih cantik darimu Ri, meskipun kamu agak tomboy.
***
            Delapan bulan berlalu. Memang benar-benar gila benda itu. Sampai sejauh ini aku pun belum bisa menjadikan sesosok wajahmu Ri. Aku berpikir, jika aku bisa menjadikan utuh pecahan-pecahan foto itu, berarti aku sudah sembuh seratus persen dari penyakitku ini. Bukan karena atas dasar cinta. Sama sekali bukan itu.
Kini mungkin ingatanku sudah delapan puluh persen pulih. Tapi, kamu dimana Ri? Semenjak kamu memberikan mainan ini. Kamu pergi entah kemana. Aku hanya ingin mengucapkan rasa terima kasihku saja padamu. Meski sampai saat ini aku belum bisa memberikan jawaban dari isi suratmu itu.
“Jup, Ada Ruri di luar!” Tiba-tiba ibu memanggilku.
            “Hah, Ruri?” Aku sontak kaget yang masih mengotak-ngatik benda itu di dalam kamar. 
            “Juprii... cepetan! Kasihan dia nungguin kamu! Ibu lagi masak!” Terdengar suara ibu yang semakin melencing keras di gendang telingaku.
            Aku pun bergegas keluar kamar dan menghampiri Ruri. Aku benar-benar kaget ketika melihat bentuk tubuh Ruri yang berubah. Bajunya yang pink agak tipis itu terlihat lebar ditubuhnya.
            “Ri, kok perut kamuu...?” Sambil menunjuk perut Ruri dengan penuh rasa heran.
            “Jup, kamu tahu, siapa yang ada di dalam perut ini? Ini anak kamu. Iya Jup, ini anak kamu. Kamu masih ingatkan waktu dulu kita di kosan berdua? Saat hujan turun?”
            “Hah anak aku? Di kosan? Ngapain?” Tanyaku semakin heran.
            “JANGAN PERNAH BILANG KALAU KAMU LUPA JUP!” Ujarnya.
            “Hah!????????” Aku bengong setengah mati di sisi pintu.
           
Aku benar-benar LUPA!

                                                                                               
3—7 Februari 2011
                       

PEMULUNG KORAN Cerpen: Aray Rayza Alisjahbana

 

Sepertinya sampai detik ini pun Heri tak ingin berhenti untuk tetap membaca. Entah ia mendapatkannya dari mana. Terpenting adalah dia bisa membaca di manapun dia berada. Meskipun terkadang dia tidak mengerti dengan bacaannya itu.
Anak kecil berwajah lugu itu memang kesehariannya seperti itu. Memunguti setiap tulisan yang sekiranya bisa untuk dibaca. Entah itu dari sobekan koran-koran yang berseliweran dijalan, ditempat pedagang gorengan, atau ia menemukan di bawah kolong jempatan. Semangatnya yang masih belia itu sangat memprihatinkan.
Dia masih mengejar-ngejar sobekan koran itu yang melayang-layang menuju sekolah dasar negeri Singarajan. Ia menangkapnya, membacanya sekilas “Curat Marut Pendidikan di Indonesia”  lalu ia langsung memasukannya dalam tas berbentuk segi empat berukuran panjang-lebar 40x20 cm. Tas itu terbuat dari kain bekas tepung terigu.
Di sisi pagar sekolah itu ia memandangi anak-anak sedang bemain di halaman sekolah. Ada yang sedang main bola, main engklek, dan sebagainya. Ia begitu iri melihatnya. Tapi apalah daya, semua itu hanyalah sebuah harapan kosong. Orang tuanya tidak mampu menyekolahkannya.
“Bapak, Heri pengen sekolah kayak anak-anak itu…” lirihnya di sisi pagar sekolah itu. Tidak lama kemudian ia pun pergi entah kemana.
***
            “Bapak, kapan Heri bisa sekolah?”
            “Sudahlah kamu ngomong apa sih!”
            “Kok Bapak begitu? Umurku sudah sepuluh tahun. Kok belum juga sekolah? Nggak kayak teman-teman aku di luar sana.”
            Wong buat makan sehari-hari saja susah. Kamu minta sekolah.”
            Heri cemberut kembali. Mungkin sudah kesepuluh kalinya ia begini. Pertanyaan-pertanyaan yang selalu ia lontarkan pada bapaknya, pasti jawabnya selalu begitu.
            “Lihat! bapak hanya seorang pemulung. Mending kamu bantuin bapak nyari barang-barang bekas. Bukan sobekan-sobekan koran seperti ini!” Bapaknya melempar tas tepung terigu itu. Isinya berserakan di tanah, ada beberapa yang basah terkena air.
            Heri langsung memungutinya kembali. Lalu ia pun meninggalkan bapaknya dari teras bale itu. Ia langsung masuk ke dalam rumah, memeluk ibunya yang sedang menyuapi adik perempuannya makan ubi rebus.
            “Heri, kamu kenapa?”
            “Aku pengen sekolah Bu…”
            “Ia nanti, kalo ayah sama ibu sudah punya uang.”
            “Kapan punya uangnya? Dari dulu bilangnya begitu terus.”
            Ibunya tidak bisa jawab apa-apa lagi. Keinginan Heri untuk sekolah memang sangat tinggi. Apalagi saat beberapa teman dekatnya itu mulai mengajarinya membaca, terkadang sesekali meminjamkan buku sekolahnya pada Heri. Heri menjadi semakin antusias untuk bersekolah.      
            Ia baru setahun belakangan ini bisa membaca. Setiap malam kadang ia ikut bersama teman-temannya untuk belajar. Untung teman-temannya itu baik dan menerima segala kekurangan yang dimiliknya.
            “Rini, makasih yah sudah ikut numpang belajar disini.” Begitulah ucapnya jika usai belajar di Rumah Rini, teman tetangganya.
            “Iya, tidak apa-apa. Justru aku senang kita bisa belajar disini, juga bareng teman-teman. Besok kesini lagi yah!” Ujar Rini malam itu. Heri hanya menganggukkan kepalanya, sambil memasang kedua kakinya pada sandal jepitnya yang lusuh itu.
            Rini, adalah anak dari seorang kepala sekolah. Buku-buku di Rumah Rini pun lumayan banyak. Rini sering meminjamkan bukunya, kadang memberikannya pada Heri. Tapi Heri seringkali menolaknya. Ia tahu buku itu bukan milik Rini, tapi milik Ayahnya di sekolah. Dan semenjak itulah ia berinisiatif  sendiri untuk mencari sebaris kata-kata yang tercecer di jalanan sebagai pengisi kekosongannya menunggu malam tiba.
***
            “Heri, sudahlah mulai malam ini kamu jangan main ke rumah Rini lagi! Ayah merasa tidak enak sama Pak Romli.” Ujar bapaknya malam itu.
            “Kata Pak Romli juga nggak apa-apa kok. Biar nemenin Rini belajar katanya.”
            “Sudah! Kamu diam! Semenjak kamu sering bergaul di situ, kamu jadi begini. Jawab saja kalo di bilangin.”
            “Ada apa sih Pak? Ribut saja.” Ibunya terbangun sehabis menyusui anak perempuannya itu di kamar.
“Biasa. Ini anakmu. Kalau dibilangin rewel.”
“Sudah sih Pak, kasian si Heri. Untung Pak Romli dan anaknya itu baik.
Mau menerima anak kita belajar di rumahnya. Bapak ini bagaimana sih? Bukannya malah senang anaknya semangat belajar. Kok malah dilarang.”
            “Bukan begitu Bu. Justru aku khawatir jika dia sering bergaul dengan anaknya pak Romli itu. Nanti, dia nggak bakalan berhenti minta sekolah. Sudah tahu kondisi ekonomi kita seperti ini.”
            Heri yang sedari tadi duduk di kursi. Ia menundukkan kepala mendengar kedua orang tuanya saling bertengkar. Tidak lama kemudian ia pun pergi keluar rumah sambil membawa tas kesayangannya. Heri berlari. Dan terus berlari. Ia tidak menghiraukan sahutan kedua orang tuanya yang memanggil-manggilnya, melarangnya untuk pergi.
            Malam semakin sunyi. Kedua orang tuanya pun belum berhasil juga menemukan anaknya itu. Pencarian dimulai dari rumah Rini. Tapi tidak ada sesosok anaknya itu. Malah, Pak Syukur—nama bapaknya Heri—seketika menyesal dari apa yang sudah ia lakukan terhadap anaknya, setelah Pak Romli menceritakan bahwa anaknya itu sangat cerdas dan pintar.
            “Padahal saya sudah mengusulkan dengan Lurah setempat, agar memperhatikan dan bisa menyekolahkan anak-anak kurang mampu di desa ini.” Ujar Pak Romli malam itu. Mendengar hal itu, Pak Syukur segera berlari melanjutkan pencarian anaknya itu.
            Hingga menjelang fajar, Heri pun belum juga ditemukan. Ayahnya sudah menyusuri beberapa tempat yang sering Heri singgahi. Seperti rel kereta api, kolong jempatan, tempat-tempat pedagang gorengan, dan sebagainya. Tapi tetap saja seraut wajah lugu itu belum juga ditemukan.
Setahun-dua tahun berlalu.
            Pak Syukur belum juga bisa menemukan anaknya itu. Meskipun pengumuman sudah di tempel di dinding-dinding pos ronda, di jalanan, di angkot, di tiang listrik, di kantor polisi, dan sebagainya. Tetapi tetap saja hasilnya nihil.
            Pak syukur dan istrinya pun tidak mau terus-menerus seperti ini. Akhirnya mereka mencoba untuk menjalani hidup seperti biasanya dan melupakan semua yang telah terjadi. Meskipun hal ini memang sangat berat bagi mereka.
***
Di luar sana, bocah itu masih mengejar sobekan-sobekan koran yang terbang di jalanan. Masih berada di tempat pedagang-pedagang gorengan. Masih selalu berharap untuk bisa sekolah. Dan masih selalu suka membaca.[*]
           
                                                                                   
Serang, 7 Februari 2011
           
           

Selasa, 18 Januari 2011

Cerpen Flash Fiction : Gusti



              Wajah Gusti memang cacat. Orang-orang menganggap bahwa orang cacat itu hatinya juga pasti cacat. Persepsi inilah yang membuatnya rendah diri. Wajahnya cacat bermula ketika ia berumur 10 tahun, ia terkena tumpahan air panas ketika ibunya memasak air di dapur. Gusti yang saat itu menduduki kelas 5 SD, meminta berhenti sekolah pada ayahnya. Ia malu dengan wajahnya yang buruk rupa.
 “Gusti, si Indah pasti gak bakalan suka sama kamu lagi, karena wajah kamu kayak monster...” ejek Akbar, musuh beratnya di sekolah. Sejak itu, Ia pun tidak mau lagi bermain ke luar rumah.
***
            “Gusti, sekarang kamu sudah dewasa, umurmu sudah 25 tahun, lihat wajah kamu juga sudah tua begitu.. he he. Sudah saatnya kamu itu berumah tangga. Jangan di rumah saja.” Tegur ayahnya yang melihat anaknya hanya bisanya tiduran saja di kamar.
            Mungkin Gusti pun merasa apa yang dikatakan ayahnya itu benar, dia pun merasa membutuhkan seseorang yang bisa menghangatkan tubuhnya ketika dingin. Tapi ia masih tidak berani untuk keluar rumah. Ayahnya kesal dengan sikap Gusti, karena ayahnya sudah tidak sabar ingin cepat-cepat punya cucu.
***
            “Gusti... ke ruang tamu sebentar!” suruh ayahnya sore itu. Gusti masih terlihat seperti anak kecil yang masih disuruh-suruh saja, tidak sebanding dengan tubuhnya yang besar dan gagah itu.
            “Iya Pak...” jawab Gusti bersiap keluar dari kamarnya.
            Seketika Gusti kaget, ketika tahu ayahnya membawa seorang gadis di ruang tamu. Gusti berbalik arah. Tapi ia pun ditarik Ibunya dari belakang. Gusti pun duduk di sofa sambil menutup wajahnya.
            “Gusti, ini Ani, gadis yang pernah suka sama kamu waktu SD. Bapaknya bilang sama ayah kalau ia memendam perasaan sama kamu dari dulu, meskipun Ani tahu wajah kamu seperti itu tapi dia masih tetap cinta sama kamu.”
            “Terus?”
            “Ayah ingin cepet punya momongan!”
            “Maaf An, aku tidak bisa.” Gusti kembali ke kamarnya.
            “Gustiii....” teriak Ibunya.
            “Pokoknya aku nggak mau, aku adalah si buruk rupa.”
***
            Dua minggu kemudian.
            “Gusti... keluar ke ruang tamu sebentar, ada yang ingin ketemu sama kamu
”suruh ayahnya malam itu.
            “Siapaaa....? Ah gak mau...! pasti mau dijodohin lagi.”
            “Indah namanya.”
            “Indah? Indah orang yang aku suka waktu SD? Kok bisa kesini dia. Ya Tuhan terima kasih, ternyata jodoh gak kemana.” Ujarnya, seketika ia bangkit dari tempat tidurnya. Ia pun langsung menuju ruang tamu. Sebelumnya Gusti merapihkan dulu rambut dan pakaiannya.
            “Indah...?” Ujar Gusti tak percaya. Ia perhatikan Indah dengan seksama. Ia lupa dengan wajahnya yang buruk rupa itu. Terlihat begitu percaya dirinya ia memandang Indah.
            Indah yang tadi menunduk seketika memandang wajah Gusti. Sontak Indah kaget melihat wajah Gusti. Darah disekujur tubuhnya seperti naik ke puncak kepala.
            “Maaf Pak, sepertinya saya salah orang. Permisi...” Indah pun pamit pada ayahnya Gusti. Keluar begitu saja.
            Gusti hanya tercengang. Ia baru ingat akan rupa wajahnya.
            “Indaaaaah....!” Jeritnya.
***
            Tiga tahun kemudian.   
            “Gusti... keluar ke ruang tamu sebentar!” suruh ayahnya yang tahu kalau anaknya itu sedang melamun di kamar.
            “Ada yang ingin bertemu sama kamu.”
            “Siapa?”
“Indah.”
“POKOKNYA AKU TIDAK MAU KAWIN. AKU SI BURUK RUPA.” Teriak Gusti dari kamarnya.
            Indah pun pergi, padahal dialah Indah yang sesungguhnya.

Januari 2011
           
                       


Minggu, 02 Januari 2011

Wanita itu Bukan Isteriku


           
Aku memerhatikannya dari lantai bawah mal Ramayana Cilegon, aku duduk di samping pos satpam sambil menghisap sebatang rokok, sedangkan ia berada di lantai dua. Aku perhatikan setiap gerak-geriknya. Ia sedang sibuk memilih-milih baju dengan seorang perempuan sekira seumur dengannya. Wajahnya nampak terlihat kebingungan. Ia sesekali mencoba mengenakan baju-baju itu namun tidak memakainya, hanya menggoyang baju-baju yang di pilihnya saja ketubuhnya  ke kiri dan ke kanan. Ia memang begitu cantik, tubuhnya seksi seperti lekuk gitar kesayanganku. Rambutnya bak mayang terurai, panjang sebahu. Hidungnya terlihat mancung, mirip bintang film India. Benar memang apa kata Bos. Ia benar-benar sesosok perempuan sempurna. Pantas sekali Bos menginginkannya.
            “Apa yang harus saya lakukan Bos? Saya sudah menemukannya.” Aku hubungi bos lewat telepon genggam sambil mataku terus saja menatap tajam perempuan itu.
            “Jangan sampai lepas, cari tahu siapa dia! Dan bawa kemari!”
            “Baik Bos” Sambil kubuang puntung roko lalu kuinjak.
            Kembali lagi kutatap wajahnya, Seketika saja perempuan itu menghilang. “Sial!” kuinjak lagi puntung rokok itu. Lalu, aku pun bergegas berjalan naik ke lantai atas sambil kugunakan kaca mata hitamku yang kuambil dari saku belakangku.
            Dua-tiga kali aku bolak-balik dari lantai satu ke lantai lainnya. Namun jejaknya sudah hilang ditelan bumi. Mataku masih menyorot tajam setiap sudut tempat. Ah, aku benar-benar telah kehilangan jejak.
”Bisa mati aku...” mulutku tak ubahnya nyeletuk sendiri.
            Tak berpikir panjang lagi, aku segera turun dari lantai tiga menuju mobil hitam avanza milik bos. Hatiku tidak tenang sepanjang perjalanan. Mau kemana arah kutuju. Waktu terus berputar, waktuku tak banyak. Lima hari aku tidak menemukan identitasnya, nyawaku bisa melayang dengan pistol bosku. Sedang hari ini adalah hari keempat pencarianku akan identitas wanita itu.
            Baru kali ini aku disuruh memburu seorang wanita. Biasanya sasaranku adalah para lelaki kantoran yang berduit. Kuculik, lalu minta tebusan. Tak dapat tebusan, maka nyawalah yang akan melayang. Aku tidak bisa menghitung, sudah berapa banyak nyawa ya sudah aku binasakan. Sudah seperti tuhan saja.
Semenjak kepergian isteriku setahun silam karena diculik dan ditemukan dijurang dengan keadaan sudah tidak bernyawa lagi, aku berubah menjadi seperti ini. Yang kerjaannya mematai orang, menguras hartanya, lalu kuancam nyawanya. Sepertinya aku sudah menaruh dendam. Tapi kenapa semua orang yang harus aku jadikan korban. Aku sendiri bingung.
            Seketika lamunanku terbuyar, saat sepasang mataku tak sengaja menembus cermin toko kosmetik. Aku menemukannya kembali.  Aku belokkan setir mobilku ke parkiran. Aku memerhatikannya dari dalam mobil. Aku masih menunggu.
            Lima belas menit berselang. Ia pun keluar bersama seorang lelaki, sekira seumuranku. Wanita itu memeluk pinggang lelaki itu.
”Kemana teman perempuannya itu? Dan siapa lelaki itu?” Tanya aku dalam hati.           
            Mereka bergegas masuk ke dalam mobil. Nampaknya mereka sedang terburu-buru. Aku pun bersiap-siap dengan mengerang-erang gas mobilku.
Grem...grem...gremmm!

**
            Di sebuah tempat terpencil mereka berhenti. Mereka masuk ke sebuah rumah kecil seperti gubuk. Tempat ini sunyi. Gelap. Tidak banyak penghuni. Selain itu menyeramkan, karena di sampingnya adalah tempat pemakaman. Terlihat banyak kuburan yang masih segar, nampaknya barusan di kubur 2—3 hari yang lalu. Meskipun usiaku sudah berkepala empat tapi aku masih saja takut dengan hal seperti ini. Memang aneh.
            ”Ah lama benar mereka di dalam” Sambil kubuka sebungkus rokok yang ada dihadapanku. Kuambil lalu kuhisap dengan rasa gigil. Gigil yang menyeramkan. Hanya rokok ini yang bisa mengalihkan pikiranku agar tidak kemana-mana.
            Sudah kuhabiskan sepuluh puntung rokok tapi mereka belum juga keluar. Aku yakin yang mereka tempati bukan rumah mereka. Jadi aku masih tetap menunggu di sini. Kurang lebih sudah dua jam. Sekarang sudah pukul 23.00. Aku pun tak sabar lagi. Penasaran. Lalu aku pun keluar dari mobil meski dengan rasa takut, setan.
            Dengan lirik kiri-kanan, aku mengendap-endap menuju rumah itu. Rumah itu terlihat begitu mistis. Di depan rumah itu banyak patung-patung anjing dan harimau serta terpajang kepala-kepala rusa dan semacam tengkorak manusia. Semakin membuat bulu kudukku merinding.
            Aku mengintip dari jendela samping yang sedikit terbuka. Dengan kaki menjinjit, pegal rasanya. Tak tahan dengan rasa sakit ini. Aku pun mengambil sebuh kursi yang tergeletak di teras rumah itu, meski sudah reyot.
”Nah, barusan dengan ini terlihat jelas.” Aku pun naik kursi itu.
             Sontak aku, saat melihat posisi wanita itu. Ia sedang kesakitan. Di sebuah ranjang bambu perutnya sedang dipijit-pijit oleh seorang nenek tua. Entah siapa itu. Darah bercucuran di sela-sela kedua kaki wanita itu, sarung yang ia kenakan banjir darah. Sedang lelaki yang menemaninya itu terlihat begitu cemas sambil  menjambak-jambak rambutnya sendiri. Sesekali ia menggigit jari telunjuknya. Sedangkan wanita itu masih saja mengerang kesakitan.
            Gubrak...!!! tiba-tiba saja aku terjatuh dari kursi yang reyot itu. ”Sial!” Aku pun langsung berlari menuju mobil. Sambil kubersihkan baju-bajuku yang kotor. Cukup sampai disini saja pengintaianku malam ini. Aku pun bergegas pulang.

***
            ”Bego! Kenapa kamu tidak terus intai mereka hingga selesai! Percuma saja kalau begitu! Yang saya inginkan cuma dia bukan alamat rumah dukun itu! Ngerti!”
            ”Maaf Bos.” tanganku menyilang ke bawah sembari menundukan kepala.
            ”Oke, saya kasih waktu kamu tiga hari lagi. Jika tidak, kamu tahu sendiri akibatnya.” Bos pun pergi dari ruang kerjanya.
            Aku sudah terlanjur kontrak perjanjian dengan bos di atas materai. Dengan nominal uang yang lumayan mengiurkan, 50 juta rupiah. Aku benar-benar gila. Sebenarnya, apa yang sedang aku lakukan ini. Entahlah. Tapi aku sudah biasa seperti ini. Ini sudah menjadi pekerjaanku sejak isteriku pergi.
            Hari ini aku kembali beraksi. Aku temui tempat yang kemarin, sekiranya aku bisa mendapatkan informasi dengan bertanya pada nenek tua itu tentang wanita dan lelaki yang kemarin datang. Dan akhirnya aku pun tahu jawabannya.
            Mereka adalah sepasang kekasih. Wanita itu bernama Rini. Ia bekerja di toko kosmetik di Cilegon. Ia adalah wanita simpanan lelaki itu. Dan lelaki itu bernama Ucok. Dia adalah pegawai kantor perusahaan elektronik di kota Serang. Mereka datang di kediaman nenek itu untuk menggugurkan kandungan Rini. Kasihan sekali wanita itu. Aku tak habis pikir, kenapa wanita selalu menjadi korban. Seketika saja aku pun teringat akan bayang-bayang isteriku. ”Semoga engkau tenang di alam sana sayang.”
            Malam ini, tepat malam minggu. Aku menghampiri toko kosmetik yang kemarin itu. Barangkali ia sedang ada di sana. Dan dugaanku tepat. Sesampainya di toko, aku pun masuk dan pura-pura menjadi pembeli. ”Ah, malu sekali aku masuk di toko seperti ini. Ini kan tempat para wanita.” Dalam hati aku menggerutu. Terpaksa.
            Di setiap celah-celah barang-barang yang menumpuk aku meliriknya sekali-dua kali. Ia terlihat pucat sekali. Mungkin akibat aborsi kemarin. Ia duduk sambil memijat-mijat keningnya.
            ”Kamu kenapa Rin?” tanya teman perempuan yang duduk disampingnya.
            ”Nggak apa-apa kok, hanya sedikit pusing saja.”
            ”Kalau kamu sedang tidak enak badan jangan di paksain. Ya sudah, lebih baik kamu pulang dan istirahat. Biar aku yang menghubungi Mas Ucok agar dia bisa mengantarmu pulang.”
            Selang beberapa menit kemudian, lelaki itu pun datang menjemput Rini. Dengan cepat ia membawa Rini menuju mobil. Namun ia nampak kasar menarik Rini. Terdengar celetukan lelaki itu di telingaku ”Kamu ini merepotkan! Tidak tahu apa, aku tadi sedang senang-senang di kafe!”
            ”Menurutku lelaki ini adalah lelaki yang tidak beres. Sudah punya isteri, tapi mainannya banyak.” Dari celah barang-barang di toko itu aku masih menatap mereka. Tak lama kemudian setelah mereka menyalakan mesin mobil. Aku pun keluar. Aku mengikuti arah kemana mereka pergi.
            Di tengah perjalanan, tiba-tiba saja mereka berhenti di jembatan gantung. Terlihat dibawahnya adalah jurang. Air di bawah mengalir deras, terdengar bergemuruh di telingaku. Meskipun aku berada di dalam mobil. Aku bingung, mau apa mereka di tempat seperti ini. Aku pun berhenti tak jauh berada di belakang mereka, sekira 30 meter jarak antara mobilku dengan mobil lelaki itu.
            Lelaki itu keluar dari mobilnya. Ia membuka pintu dari arah tempat duduk Rini. Lelaki itu menarik Rini dengan kasar, lalu menamparnya.
            ”Lebih baik kamu mati saja ke jurang! Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi! bagiku kamu sudah tidak segar! Kamu hanya merepotkanku saja!”
            ”Mas, kamu apa-apaan sih! Apa salah saya?  Kamu itu nggak jelas!”
            ”Aku sudah muak bercinta denganmu!” Ditampar lagi wanita itu. Lelaki itu pun berusaha menjatuhkan Rini ke Jurang. Namun Rini tetap melawan. Ia memegang sisi pintu mobil agar ia tidak terlempar. Lelaki itu terus berusaha melepaskan genggaman tangan Rini dari pintu mobil. Akhirnya tangan Rini pun lepas. Namun Rini masih berusaha melawan dengan menendang kemaluan lelaki itu. Rini lepas dari genggaman Lelaki itu. Ia pun berlari menuju ke arahku.
            ”Pak, tolong saya pak! Tolong sayaa...!” Ia menggedor-gedor kaca mobilku. Namun aku tetap diam ditempat.
            Tak lama lelaki itu pun menghampiri Rini kembali. Ia hempaskan pukulan di kepala Rini. Ia benturkan kepala Rini di kaca pintu mobilku. Wajah Rini di dorong di kaca sehingga dengan jelas sekali aku melihat air mukanya yang begitu mengharapkan pertolongan. Tiba-tiba saja wajahnya, wajahnya yang barhidung mancung itu mengingatkanku akan bayang isteriku. Aku terus menatapnya, memerhatikannya dengan seksama. Seketika saja wajah itu pun berubah menjadi wajah isteriku. Hatiku merasa ingin memberontak. ”Aku tidak terima jika isteriku dianiaya seperti ini.” Langsung saja kubuka pintu dengan hentakan amat keras. Aku pun keluar dan menghajar lelaki itu habis-habisan tanpa memberi ampun, sampai ia tersungkur tak berdaya. Aku semakin teringat dengan isteriku yang mati di tempat seperti ini. Aku berpikir mungkin dialah yang membunuh isteriku waktu itu. Tapi entahlah. Saking kesalnya aku ludahi ia. Aku injak-injak tubuhnya. Aku merasa puas. Dan seketika saja Rini langsung memelukku. Erat, sangat erat. Aku merasakan kehangatan tubuh isteriku pada tubuhnya. Pelukannya, pelukan mesra itu. Pelukan yang sangat aku rindukan dengan isteriku. ”Pak, tolong bawa aku pulang.” Pinta ia sambil menahan isak tangisnya.
Sepanjang perjalanan pulang, tak hentinya aku melirik wajahnya. Memerhatikannya dengan seksama. Mulai dari matanya, hidungnya, bibirnya. Semua itu, benar-benar persis seraut wajah isteriku. Aku tak sanggup bila harus menyakitinya.
Esok hari di ruang kerja,
”Maafkan saya Bos, saya tidak bisa membawanya kemari” dan peluru itu, langsung menembus kepalaku. MUNCRAT!


           
                                                                                           Pontang, 16 September 2010