Sastra dan Kita

Kamis, 02 Agustus 2012

Mengapresiasi 26 Cerpen Curhat Anak Bangsa*

Oleh Aray Rayza A** Seharusnya bukan saya yang berada di sini—mendedah buku ini—sekarang, melainkan Mbak Ute. Hanya, ia yang menugasi saya untuk menggantikannya. Kebetulan ia mendapatkan dua tanggung jawab untuk mendedah buku dalam serangkaian acara Rumah Dunia selama Ramadan ini. Mbak Ute tidak menyanggupi untuk diskusi yang pertama karena antara waktu pemberitahuan mendedah buku dengan acara diskusi amatlah singkat. Hanya selang beberapa hari. Ia hanya menyanggupi mendedah buku yang kedua (buku Pipiet Senja). Ah, sayalah yang kena batunya. Baiklah, saya tidak akan mempermasalahkan hal tersebut. Mungkin ini sudah menjadi nasib saya untuk melahap buku Curhat Anak Bangsa yang setebal 187 ini. Mari kita sama-sama berdiskusi… Membaca kumpulan cerpen dalam buku Curhat Anak Bangsa seperti mendengar jeritan, tangisan, kebahagiaan, dan kekecewaan dari ujung Sabang hingga ujung Merauke. Atau seperti mencicipi permen Nano-Nano. Kadang manis, asin, asem, maupun tawar. Ah, mungkin agak sedikit lebay. Maaf. Mari kita lanjutkan yang agak serius… Berbicara lokalitas dalam cerpen, menurut saya harus berhati-hati. Berbicara lokalitas berarti bukan hanya berbicara tentang bahasa dan latar, melainkan adat, budaya, serta seluk-beluk lainnya yang ada pada suatu wilayah. Berbicara lokalitas berarti beribacara pula tentang historis dan perjalanan hidup. Berbicara tentang keunikan dan kekhasan. Akan tetapi, makna lokalitas—yang kebanyakan diusung dalam antologi ini—kurang mengenai sasaran. Penulis terjebak pada makna lokalitas itu sendiri—dengan pespektif mereka masing-masing tentunya. Mungkin dalam pandangan para penulis buku ini, lokalitas hanyalah sebatas memasukkan logat/dialek yang digunakan tokoh dalam cerpen atau hanya menuliskan latar di mana peristiwa itu terjadi. Semisal dalam cerpen “Apa Kabar Nurmina?” karya Hilal Ahmad. Bercerita tentang Saujana yang merindukan Nurmina di kampung halamannya, Lampung. Namun Nurmina telah hamil anak Arman—teman sewaktu kecilnya. Kemudian Nurmina pun bunuh diri dengan meneggak pil terlarang karena menanggung malu. Cerpen ini membawa latar Limau, Kawasan Tenggamus, Pelabuhan Bakauheni, Pelabuhan Merak, Bogor, Bandung, Jakarta, Selat Sunda, Kota Tanjung Karang, Talang Padang, Pringsewu, Lampung, Serang, Banten, dan Desa Pariaman. Atau istilah nama Jurang Gayao, makan langkut, dan nasi besek juga yang tak kalah sebut. Seandainya Hilal lebih fokus mengangkat tema makanan langkut atau nasi besek, mungkin akan lebih menarik. Dan unsur lokalitas budaya bisa di masuki dalam cerpennya. Selain Hilal, Cerpen “Sekelam Malam” karya Sutono Adiwerna dan “Prahara di Bukit Tidar” karya Damarati juga hanya sebatas menyebutkan latar Magelang, Jawa Tengah. Tidak mendeskripsikan bagaimana suasana Bukit Tidah yang ada dalam cerpen tersebut. Selain itu lokalitas hanya dijabarkan dalam tuturan tokoh-tokoh ceritanya saja, “Jam piro saiki (jam berapa sekarang)?” tanya selamet. “Wis awan, ayo adus terus age-age budal menyang kebon (sudah siang, ayo mandi, terus siap-siap ke kebun).” (Hal. 59) Begitu juga dengan cerpen “Gluckliches Neues Jahr, Malvin” karya Tora Davinsi. Bercerita tentang Malvin yang berhalusinasi mencintai Saleema, pelayan restoran di Hamburg, Jerman. Lagi-lagi lokalitas yang hanya sebatas lokalitas. Dalam cerpen ini hanya tuturan bahasa Jerman saja yang ditonjolkan, “Gulten morgen, Sir (Selamat pagi, Tuan..)” (hal. 109) Cerpen “Mimpi dalam Sebotol Pedek” karya Nasyra Al’shya sebenarnya juga menarik, hanya saja cerita lebih fokus ke alur cerita. Seandainya Nasyra—penulis paling bungsu dalam antologi ini—menggali cerita dengan menceritakan makan khas pedeknya, mungkin cerpen ini akan lebih hidup—seperti halnya Hilal. Lokalitas lagi-lagi hanya ditunjukkan dengan gaya tutur tokohnya. Lagi-lagi terjebak. Dalam cerpen ini percakapan tokoh terlalu boros karena diberikan tanda kurung sebagai arti. Menurut saya biarlah pembaca yang mengartikan sendiri dan menikmati dialog Padang dalam cerita. Begitu pula dengan cerpen “Pelaghian” karya - Yudistira Kusuma. Pelaghian berasal dari bahasa Lampung berarti kawin lari. Bukan lokalitas yang dibawa, melainkan hanya mengganti kata kawin lari dengan kata Pelaghian saja. Sekali lagi, menurut saya lokalitas bukan hanya bahasa atau tuturan saja yang disodorkan, melainkan segala aspek budaya yang ada dalam lokalitas itu sendiri semisal, mengambil latar Baduy, tidak hanya kata “Baduy”-nya saja yang menjadi lokalitas, melainkan juga isinya. Bagaimana kehidupan di sana. Bagaimana budaya dan adat di sana. Selain berbicara lokalitas, saya akan mendedah dari segi kelogisan cerita. Kausalitas dalam sebuah cerpen sangatlah penting. Seperti indeks. Ada api, maka ada asap. Tidak datang begitu saja. Beberapa cerpen dalam buku ini masih ada yang mengganjal dari segi kelogisan cerita. Cerpen “Ardus” karya Akhelbry menceritakan tokoh Adrus, seorang gays yang selalu ditinggal mati oleh kekasihnya. Lelaki manja ini memiliki banyak pacar. Setiap nama pacarnya, ia ukir di sekujur tubuhnya hingga ke bokong. Dan setiap nama lelaki yang ia ukir, pasti akan mati. Tya, psikolog bayaran Adrus, menganggap ini hal yang tidak wajar. Ia tidak mau semua lelaki yang dekat dan menjadi pacar Adrus akan mati sia-sia. Maka pada suatu hari, Tya, berusaha mengakhiri kisah Adrus di pantai supaya tidak terjadi korban lagi. Cerita ini kurang menarik. Banyak keganjalan dan ketidaklogisan dalam alur cerita. Ketidaklogisan ini salah satunya ketika Adrus dengan sekejap mencintai Angga, teman kemahnya di suatu pulau. Hanya karena Angga menolong dan mengobati luka kaki Adrus yang tertusuk ekor babi di laut, dengan semudah itukah Adrus jatuh cinta? Tidak jelas latar belakang Adrus. Kenapa bisa semudah itu mencintai laki-laki. Apakah ada faktor keluarga sebelumnya? Atau ada kelainan dalam dirinya? Entah. Tak ada penjelasan. Selain itu, Adrus yang dikatakan manja, seberanikah itu dia mentato sekujur tubuhnya dengan nama-nama pacarnya? Orang ‘manja’ mentato sekujur tubuhnya, apa mungkin? Cerpen “Mimpi dalam Sebotol Pedek” karya Nasyra bercerita tentang Harun dan Ros, kakak-beradik yang bercita-cita kuliah tinggi meskipun orang tua mereka sudah tiada. Ketidaklogisan dalam cerpen ini adalah Ros yang saat itu sedang ujian akhir nasional; tiga hari kemudian pengumuman kelulusan pun diumumkan. Ros mendapat nilai tertinggi. Yang saya ketahui, pengumuman kelulusan itu diumumkan minimal sebulan setelah ujian selesai dilaksanakan—kalau tidak salah. Dalam cerpen ini hanya tiga hari? Apa mungkin? Membuat sebab-akibat dalam cerpen memang agak rumit. Tidak seperti berita. Ada fakta. Dalam cerpen harus mencari sendiri. Semua hanya fiksi meskipun diangkat dari kisah nyata. Seorang cerpenis butuh kepekaan membangun cerita. Tidak semena-mena jadi. Terkadang untuk mengakhiri cerita para penulis dalam buku ini terkesan masih tampak bingung. Ada pula beberapa yang terkesan terburu-buru, kemudian mengakhiri cerita dengan mematikan tokoh. Mungkin ini adalah jalan terakhir bagi seorang penulis ketika sudah memasuki jalan buntu. Semisal dalam cerpen “Nazar Menemukan Galuh” karya Clearesta Saprudi, diakhiri dengan tragedi kebakaran. Kumpulan cerita dalam buku ini umumnya bersifat realis dan naturalistik. Artinya mengisahkan realitas sosial secara apa adanya. Salah satu cerpen yang menurut saya berhasil adalah “Terompet dari Laut “ karya Husen Arifin. Menurut saya ini satu-satunya cerpen yang berusaha memasuki wilayah serius. Memang, menurut Jassin, hal populer dan serius kadang tak bisa dibedakan. Namun, menurut saya cerpen lainnya masih dalam aliran remaja—Ya tentu saja, buku ini secara gamblang divonis buku ‘kemasan remaja’ oleh penerbit. Jadi, apa boleh buat saya berkata apa adanya. Cerpen “Terompet dari Laut“ karya Husen ini amat indah dan puitis. Kesadaran berbahasanya cukup tinggi. Berbeda dengan cerpen-cerpen yang lainnya dalam buku ini. Seperti pada tulisan pembuka cerpen ini, Malamku di laut. Ibu lupa menjemput. Aku hanyut. Tapi kukalahkan cintaku dalam kabut. (Hal. 144) Menggunaan efek konsonan “t” untuk memperindah akhir kalimat. Selain itu efek anosansi “u” turut juga memperindah cerpen ini, Dan kita sama sekali tak sampai mencium malam yang baru. Ah inikah aku? Ibu, penyesalanku yang baru. Penyesalanku yang kelabu. (Hal. 144) Atau dengan gaya bahasa lainnya, metafora, simile, dan personifikasi. Sosoknya setiap hari menjadi hiasan matahari. Langkahnya menjadi bayang-bayang matahari. Dan ditubuhnya seperti pohon-pohon yang tak pernah gugur daunnya. (145) Matahari tertusuk lagu anak-anak perahu. (147) Cerpen “Terompet dari Laut“ bercerita tentang kisah bocah berusia enam tahun yang ditinggal ayahnya melaut ke luar kota. Sedangkan, ia masih rindu ingin melaut bersamanya. Berbicara tentang laut, saya teringat akan almarhum Wan Anwar dalam cerpennya “Sepasang Maut.” Laut seakan menjadi hal yang menakutkan. Jika WA laut= maut, maka dalam cerpen ini laut= akut. Cerpen ini mengingatkanku juga akan kisah Hemingway dalam The Old Man and The Sea, novel yang menyabet hadiah Pulitzer tahun 1953. Kisah lelaki tua dan laut yang memang inspirasional. Ada kebersahajaan, kesabaran, kekuatan hati, serta semangat yang tak pernah menyerah pada keadaan. Kisah nelayan tua bernama Santiago yang telah berhari-hari bertarung dengan dengan laut untuk mendapatkan ikan Marlin yang diincarnya. Cerpen ini menjadi sorotan utama saya untuk saya santap. Selain cerpen Husen, cerpen “Membunuh Malam” karya Uda Agus juga sangat menarik. Tidak membosankan. Alur cerita terjaga. Tidak mudah ditebak. Dalam cerpen ini, Uda berusaha memasuki wilayah surealis. Namun, belum begitu berhasil. Hanya sebatas harapan. Bercerita tentang seorang lelaki bernama Bima yang ingin sekali membunuh malam. Baginya malam adalah musuh yang nyata. Musuh yang telah merebut kehangatan pelukan sang ibu darinya sehingga membuat dirinya selalu sendiri setiap malam. Bima adalah lelaki tak normal. Namun, ia tak menyadari dirinya tak normal. Suatu hari ayahnya yang mengatakan hal itu. Ayahnya seorang tukang becak. Sudah lama pergi dari rumah karena beradu mulut dan fisik dengan ibunya karena ketahuan ibunya sedang bermesraan di kamar dengan lelaki lain. Bima, lelaki polos itu belum tahu mana yang menurutnya benar dan salah. Namun, ia memilih bersama ibunya. Hingga pada suatu hari ia sadar, bahwa ternyata ibunyalah yang jahat, bukan ayah. Bima bermimpi membunuh lelaki yang telah menjadi benalu baginya setiap malam. Bima pula ingin membunuh malam itu. Malam= kematian ibu. Malam= kematian lelaki yang menyetubuhi ibu. Setelah itu ia akan kabur, mencari ayahnya. Menurut saya yang menarik dari cerpen ini pula, Uda tidak secara gamblang menyebutkan siapa tokoh dalam cerpen. Siapa perempuan itu. Uda mengemas cerita dengan rentetan peristiwa yang mencapai klimaks. Namun lagi-lagi dengan ending kematian. Dan menurut saya Uda lebih berhasil mengakhiri sebuah cerita ketimbang cerpen-cerpen yang lain. Untuk ulasan terakhir, izinkan saya berkomentar mengenai judul buku cerpen ini. Menurut saya, judul buku kumcer Curhat Anak Bangsa ini kurang pas. Kurang merepresentasikan isi buku. Keseluruhan cerpen dalam buku ini lebih banyak membicarakan kisah di akhir tahun. Kisah tentang kesedihan, kebahagiaan, kebimbangan, dan kekecewaan. Judul buku Curhat Anak Bangsa terkesan memaksa. Cerpen “Terompet Laut” menurut saya amat layak bila dijadikan sebagai judul sampul buku ini. Selain menurut saya cerpen paling jagoan. Cerpen ini juga—yang saya sebut terompet—telah meniupkan ruh dalam buku ini. Meniupkan kisah indah dan puitis dalam buku ini. Bagaimana menurut Anda? Serang, Juli 2012 *Makalah ini disampaikan pada acara diskusi “Nyenyore Ala Rumah Dunia,” Senin, 23 Juli 2012, di Rumah Dunia. **Penulis adalah mahasiswa Diksatrasia Untirta tingkat akhir. Lahir di Serang, 20 September 1990. Sesekali karyanya nongol di media lokal dan nasional. Semisal Kabar Banten, Radar Banten, dan Aneka Yess. Bunga rampainya antara lain: Negeri Cincin Api (Puisi, PP Lesbumi), Bulan Kebabian (Cerpen, Belistra), Iris Hitam (Cerpen, Leutikaprio), Fragmen Ciuman di Bawah Hujan (Cerpen, HM Group). Bergiat di Belistra dan Kubah Budaya. Ketua angkatan 16 Rumah Dunia (mungkin tidak ada yang tahu karena jarang ngumpul dan sering ngilang, hehehe…)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar